CHAPTER 8

78K 4.1K 32
                                        

SATU-satunya kelemahan Kyra adalah ia tidak bisa mengingat segala perkataan ataupun apa yang dilakukannya ketika mabuk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

SATU-satunya kelemahan Kyra adalah ia tidak bisa mengingat segala perkataan ataupun apa yang dilakukannya ketika mabuk. Itulah alasan mengapa Arka akan sangat marah jika melihat Kyra mabuk.

Pagi ini Kyra bangun sangat terlambat dengan kepala yang pusing dan tubuh yang beraroma alkohol. Kyra yang tidak mengingat apapun tentang semalam selain meminta wine kepada Kenzo hanya bisa bersikap seperti tidak ada apa-apa yang terjadi.

Kyra turun dari kamarnya dengan wajah yang berusaha baik-baik saja tanpa ada beban sama sekali. Arka dan Lian berhasil dibodohinya, tapi tidak dengan Kenzo yang sudah mengamatinya sejak awal dirinya turun dari lantai atas.

Untuk mempersingkat waktu, mereka berempat segera masuk ke dalam mobil dan melaju untuk kembali ke rumah masing-masing. Selama di mobil, Kyra tidak berhenti mencari tahu apa yang terjadi kepada dirinya saat mabuk.

"Lo kenapa?"

Lamunan Kyra buyar karena teguran Lian yang ada di sampingnya.

"Gue cuma masih ngantuk aja," jawab Kyra bohong.

Sepanjang perjalanan, Kyra tidak henti berpikir. Bahkan saat ia diantarkan pertama ke tempat tinggalnya, Kyra masih berpikir.

Begitu mobil yang dikendarai Arka pergi dari area tempat tinggal Kyra, perempuan itu segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Sally, teman kerjanya. Sally adalah teman kerja Kyra selama di penerbitan. Sally lebih tua satu tahun darinya, tapi mereka berdua dekat seperti Kyra dan Lian. Setelah meminta Sally menjemputnya, Kyra segera masuk ke dalam rumah kontrakannya untuk mengganti pakaian yang lebih bagus.

Satu jam kemudian Sally datang menjemputnya.

"Lo udah kasih tau Arka kalau lo nginap di apartemen gue, 'kan? Gue nggak mau dia marah ke gue karena nurutin permintaan lo ke kelab nanti malam."

"Lo tenang aja, semua udah gue atur."

"Oke, ayok. Mending kita diam di apartemen dulu sambil nunggu malam."

Kyra langsung mengangguk. Ia segera masuk ke dalam mobil Sally dan membiarkan Sally membawanya ke apartemen mewahnya.

Sally putri pejabat daerah setempat, hidupnya sejak kecil penuh glamor. Akan tetapi, Sally memilih untuk menjadi seorang editor yang memiliki gaji rendah disaat ia bisa saja mendapatkan pekerjaan yang layak atas bantuan orangtuanya.

Duapuluh menit kemudian, mobil Sally berhenti di area apartemen mewah yang terletak di kota Bandung. Mereka berdua turun dari mobilnya dan segera masuk ke dalam apartemen Sally yang bernomor 305.

"Gue mau nyelesaikan naskah dulu, lo tunggu di sini aja ya. Kalau mau lo bisa pilih-pilih baju yang bakal lo pake nanti malam."

Sally memang yang terbaik. Kyra sangat antusias ketika Sally mengatakan hal itu. Ia pun dengan cepat berjalan ke walk-in closet milik Sally melalui pintu kedua selain pintu di kamar Sally.

Hello, KyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang