Chapter 02

8 2 2
                                        

"Laki-laki itu?" Mery berusaha berhati-hati berkata demikian. Karena Lea sensitif bila membicarakan hal itu.

"Tadi malam dia datang" tidak ada angin tidak ada ombak perkataaan itu terdengar begitu mengalir dari mulut Lea.

"Ha? Kesini? Ke kost-anmu?"

"Dia whattsapp aku"

Tanggapan Mery cuma diam dan menunggu kelanjutan dari Lea sendiri, yang ia lakukan hanya melihat wajah sendu milik Lea.

"Aku benci dia Mer" terdengar frustasi dari suara paraunya.

"Kalau belom siap dan bisa kenapa di coba sih, Le?" Mery berhati-hati menginterogasi.

Aku siap dan aku bisa, Mer. Begitu juga beberapa bulan terakhir ini. Tapi setelah dia muncul dan berusaha ingin kembali dan dengan hebatnya dia di kawal oleh pesan-pesan sialan itu. Hah. Batinnya kesal.

"Entah Mer. Ini menyebalkan" ucap Lea sekenanya. Sambil mengaduk minuman yang ia enggan untuk di sentuh ke lidah kelunya.

"Kenapa gak coba terima lagi aja sih, Le?"

Terima dia kembali? Ah, aku tidak mau. Dan ku rasa tidak semudah itu. Mungkin orang-orang berfikir itu mudah, toh hanya tinggal bilang "iya, aku mau" aja dan sejenis kalimat keramat lainnya. NO!

"Nggak Mer" tegas Lea. Ia menampiknya.

"Mulut lu doang Le yang berkata begitu" tegas ucapnya dengan sarkastik. sejenak ia bernafas, lalu melanjutkan "tapi hati kamu tidak berkata demikian" tambahnya. Dengan mengangkat jari telunjuk dan di tunjukkan tepat orang di hadapannya, Lea.

"Ckckck... Kamu keknya ganti prodi aja deh, Mer. Di bimbingan konseling. Cocok"

Sejujurnya aku hanya mengalihkan saja. Kata-kata yang baru saja Mery lontarkan membuatku hatiku berhenti bekerja seketika pada fungsinya.

Sesulit inikah aku dan hatiku yang berusaha melupakannya?.

"Apaansih. Ngelantur lu" cibirnya.

"Emang bener kan?"

"Gak, Lea. Mana mau gue tiap hari entar berurusan sama anak-anak nakal. Lu mau gue mati muda, belom waktunya. Masih jones eneng " cercapnya bak mobil terus melaju tanpa di rem. Dan lucunya matanya mendelik pada Lea seakan-akan ia memohon padanya tidak mengatakan seperti tadi serta harus memcabut titahnya.

Aku ketawa. Gimana nggak? Abis muka Mery kek gitu, ia benar-benar takut. Ku lanjutkan "udah, udah. Jangan sedih. Aku gak mau di tinggal pergi duluan sama temenku yang super cantik ini" ku sentilkan hidungnya. Sakit?. Biarin. tau rasa. Jahat banget, bukan?

"Ah, udah ah. Sakit tauk."

"Sorry" ku angkat tanganku dan jariku ku buat bentuk V.

"Di sorry-in"

---------

Jerman

"Kabarmu bagaimana?"

"Hmm baik"

Mendengar dia baik-baik aja hatiku terasa 'plung'. Sungguh. Aku merindukannya.

Ku bales dan ku tanggap "Aku senang dengarnya"

"Ya. Kamu?"

Sektika aku terkesiap. Ku sunggingkan senyum terpatri di wajah tampanku. Bukannkah ketika seseorang menanyakan kabar menandakan ia khawatir? Dan dia masih mengkhawatirkan ku. Atau hanya perasaanku saja yang menyimpulkan demikian sementara di seberang sana hanya sekedar menghargaiku saja karna ku menanyakan kabarnya juga tadi.

ConfusedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang