awal yang buruk

36 0 0
                                    

Untuk pemeran utama kedua belum muncul, mungkin akan muncul di next chapter. Chapter ini baru masuk awal-awal konflik.
So check it out, shit's about to go down

============
Danniel POV

Pembelajaran sudah selesai. waktu-waktu yang sangat mendebarkan karena janji bully yang dilontarkan orang yang baru ku tahu namanya yaitu taufik. Siswa yang memiliki perangai dan kontrol emosi yang buruk, walaupun memiliki wajah yang tidak buruk dan badan yang tegap, tidak menutupi penjabaran buruk akan dirinya dimataku. Tapi, pasti disekolah ini taufik memiliki fans atau pengagumnya sendiri. Tampang seperti dia sangat disuka oleh para penikmat bad boy.

Kutunggu apa yang akan terjadi kali ini. Kukemas buku di atas meja, meletakkannya kedalam tas, kututup resleting tas dan kugantung tas punggung itu di satu bahu kananku.

Kawan-kawan yang lain sudah pergi kelas sedari tadi, meninggalkan kelas yang berantakan dan sampah yang menyebar di sekujur lantai kelas. Kuberanjak dari tempat dudukku, langkah demi langkah kugerakkan menuju pintu keluar kelas. Terdengar gerakan langkah yang sama menuju ke dalam kelas. Langkahku pun terhenti tepat diperbatasan pintu yang memisahkan dua dunia, antara dunia pelajar dan dunia bebas. Sebuah sapu dan serok sampah mendarat didadaku, sadar akan kedua benda tersebut, aku menatap heran kepada sosok yang menyodorkan barang yang biasa digunakan untuk bersih-bersih itu.

"Eits... mau kemana lu? Tugas lu belum selesai. Bersihin nih kelas sampai bersih. Awas lu kalau tak bersih" cakap taufik yang masih menyodorkan sapu dan serok sampah.

"Kenapa harus aku?, aku tidak piket hari ini, bahkan jadwal piketku belum ditetapkan!!" Balasku yang sudah menebak apa yang terjadi selanjutnya.

"Heh lo, banyak bacot lu. Lu tuh babu disini. Awas aja kalau sampai besok tidak bersih ini kelas. Kena lu nanti" ancam taufik dan dilanjutkan dengan melempar kedua benda tersebut.

Dia pun cabut bersama kawan-kawannya dengan senyum jahatnya senang karena menggangguku. Kuambil sapu dan serok yang jatuh dilantai. "yasudahlah, ayah juga kayanya belum jemput" , kuhela nafas dan memulai aktifitas membersihkan kelas yang berserak dan penuh dengan sampah.

Kelas sudah bersih dari sampah dan debu, Bangku dan meja juga sudah tersusun rapi, papantulis pun sudah menjadi putih kembali tanpa coretan tinta spidol. Aku pun berniat keluar kelas untuk menunggu jemputan ayah.

Kutatap jam di hpku, jam sudah menunjukkan pukul 04:30 pm. Kumainkan hpku untuk menghilangkan bosan, kubuka wattpad, membaca cerita-cerita yang cukup seru untuk ukuran amatiran.

Ku tatap kembali jam di hpku, sekarang sudah pukul 05:10 pm. Langit sudah berubah menjadi kuning keorenan menandakan hari sudah petang menjelang magrib. Aku mulai panik, tidak biasanya ayah telat jemput sampai selarut ini, walaupun telat, dulu aku masih bisa pulang sendiri ataupun nebeng sama teman. Tapi sekarang aku tidak tau jalan pulang, bahkan alamat rumahku pun aku tidak tau. Hanya ada sebuah foto bentuk rumah yang tersimpan di galery hpku.

"Gimana nih?? Aku tunggu ayah apa aku coba tanya ke supir taxi ya?, mana taukan mereka tau tempat tinggalku". Aku pun berdiri ingin keluar gerbang dan mencari taxi.

Kudengar suara yang tidak asing ditelinga.

"Niel, hallo". Ucapnya

"Eh, lintang. Ia hallo, kenapa tang??" Ku toleh orang yang rupanya lintang

"Tang tang, emang aku kentang. Ini juga nanya kenapa. Aku yang harusnya nanya, kok kamu belum pulang? Udah sore gini" jawabnya

"Hehehe, yaudah aku panggil lintang dengan lengkap. Ia nih aku belum dijemput, ngak tau kenapa. Ngak biasanya ayah kaya gini." Tuturku sambil tersenyum

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 06, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Tidak TersentuhTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang