April
Suara klakson mobil yang menggema di luar sana membuatku menggeliat, aku menatap ke arah jendela--bertanya-tanya siapa yang menekan klakson di pagi buta begini. Aku meregangkan tubuh, menyingkab selimut, lalu berjalan menuju jendela untuk memastikan siapa yang pergi atau datang. Ternyata Mama, mobilnya tengah menjauh dari pekarangan rumah.Aku menghela napas panjang, sudah biasa dengan rutinitas pagi yang tidak ada hangat-hangatnya sama sekali, tanpa sapaan dan ciuman di punggung tangan. Aku berjalan gontai keluar kamar, ingin mengisi perut yang semalaman diajak berpuasa selama tidur.
"Pa, mama kemana?" Tanyaku basa-basi ketika melihat Papa tengah membuat kopi sendirian di dapur, perih rasanya melihat Papa yang masih beristri tapi seperti duda yang mandiri. Harusnya ada Mbok warsih yang selalu bisa menggantikan posisi Mama, tapi beliau harus pulang kampung, berhubung anaknya yang baru saja melahirkan.
"Mama udah berangkat kerja duluan," Papa membalikan tubuhnya, "Kamu mau susu? Papa buatin," tawarnya.
Aku mengambil gelas, menuangkan susu kental manis tanpa memperdulikan tawaran Papa, "gara-gara rapat penting mama sampai gak bisa siapin sarapan?" Tanyaku untuk opsi jawaban pertama Papa, sembari menuangkan air panas ke gelas.
Kudengar suara helaan napas berat dari balik punggungku, "Pril, jangan memperkeruh suasana, Mama kerja juga buat kamu, begitu juga Papa. Papa sama Mama cuma berusaha--"
"Berusaha buat aku senang? Senang dengan kasih sayang uang kalian? Gitu?" Aku memotong perkataan Papa, tidak ada lagi suara yang keluar dari mulutnya, rasanya aku sangat pantas dikutuk seperti Malinkundang.
Aku membalikan tubuhku, Papa tengah menatapku dengan tatapan nanarnya. Aku berdehem, menetralkan tenggorokanku yang rasanya sesak menahan suara parau yang ingin keluar, gelasku bergetar karena pegangan yang keras, "April ke kamar dulu mau siap-siap, Papa hati-hati di jalannya," aku melengos pergi, meninggalkan Papa yang entah bagaiaman suasana hatinya.
***
Gila! Satu kata yang pas untuk supir angkutan kota yang aku tumpangi, dia mengendarai angkot dengan ugal-ugalan dan dengan sesekali menancapkan rem secara mendadak."Aduh," pekiku yang ketiga kalinya saat supir itu menginjak rem dan sisi kanan tubuhku ditubruk oleh ibu-ibu berbadan tambun.
"Bang! Kau ini sebenarnya mau bawa kami sampai tujuan apa mau sampai kuburan?!"
Aku merapatkan tubuhku ke sudut angkot, suasana semakin sesak saat ibu-ibu tambun di sampingku protes, diikuti dengan beberapa penumpang lainnya.
"Ibu-ibu, Bapak-bapak, mohon sabar, maklum lagi kejar setoran," ucap seorang kendek sembari mengangkat tangannya tanda untuk tetap tenang. Kejar setoran sih kejaran setoran, tapi jangan sampai nyetorin nyawa penumpang juga, dong, batinku. Aku memutuskan untuk menatap jalanan yang ada di belakangku, dari pada harus menatap bulu ketiak kendek yang hampir menyaingi hutan rimba.
Mataku memicing, meneliti motor ninja hitam yang sepertinya sudah tidak asing bagiku tengah melaju mangikuti arah gerak bumper angkot. Detik berikutnya aku menaikan alisku kaget, setelah pengendara motor hitam tersebut membuka kaca helm full facenya, sudah kuduga kalau pengendaranya adalah Petra yang maha kampret. Dapat kulihat lidahnya memelet dengan mata menjuling.
Aku menatapnya skeptis dan memutar bola mataku malas. Aku mengubah posisi duduku, rasanya serba salah, menghadap ke depan takut bertatap muka dengan penumpang penuh brewok, menyerong kanan ada kendek berketiak rimba, menghadap kanan ada tubuh tambun yang kapan saja bisa membekuk wajahku dengan lemak tebal pada bisepnya.
Tiba-tiba kejadian yang tidak terduga terjadi, angkot yang aku tumpangi mendadak saja berhenti, sangat mendadak. Bahkan tubuhku sampai terdorong kencang oleh himpitan penumpang, begitu juga dengan penumpang di depanku, kepalaku pening terbentur kaca angkot. Sebagian penumpang memukul dinding angkot, menyalurkan kekesalan mereka dengan pelayanan supir yang sangat membahayakan.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Type
Teen Fiction"Selera gue itu beda sama lo, lo gak suka pedes, gue suka, lo suka manis, gue gak terlalu. Jadi lo suka Petra, gue belum tentu suka sama dia. Nih ya Ra, tipe cowok gue itu yang pinter, baik, lemah lembut, gak amburadul, dan satu lagi...itu semua gak...