Hari ini Matthew dan Hadrian sepakat untuk pindah ke bangku barisan paling depan agar mempermudah persaingan. Nilai dan respon guru adalah hal terpenting bagi keduanya.
Diam diam mereka telah membuat aturan khusus yang harus dipatuhi sehingga tidak ada yang berani berbuat curang.
Pelajaran demi pelajaran telah mereka lewati. Hadrian dan Matthew tak pernah berhenti bersaing untuk mengusulkan pendapat dan balap-balapan untuk maju ke papan. Para guru yang sedang mengajar sampai geleng-geleng tak habis pikir. Tapi ada juga yang kagum dengan dua anak didiknya ini karena begitu bersemangat dibanding anak-anak lain yang justru kebalikannya.
Tapi pada saat pelajaran kimia, Matthew berhasil meraih nilai tertinggi dan mengalahkan Hadrian yang hanya selisih satu nilai dengannya.
"Wow, aku yang pertama"
"Terserah"
"Udah gue bilang kan, kalau masih bersikukuh sama keputusan lo buat ngalahin gue, siap-siap aja galau berlarut-larut"
"Ini belum seberapa Suripto, gue masih pemanasan". Hadrian memalingkan wajahnya dari Matthew. Sebenarnya dia juga sakit hati.
Tiba-tiba bel istirahat berbunyi begitu nyaring dan merdu hingga mengundang para siswa keluar kelas untuk menghirup udara kebebasan. Para guru yang masih terlena dalam aktivitas belajar mengajar pun tak lupa diingatkan oleh para siswanya. "Bu, udahan bu. Udah istirahat. Jangan kebanyakan ngajar, kesehatan ibu juga penting. Mari bu, saya antar ke kantin. Ayo kita makan bersama sama."
Dasar sangpah masyarakat.
Hadrian pergi ke lapangan futsal bersama Emin untuk main bola. Sedikit untuk melampiaskan kekesalannya pada saingannya itu. Alhasil tak butuh waktu lama, dia sudah bermain dengan brutal dan sembarangan. Emin hampir saja berteriak jika bola itu jadi menyenter wajahnya.
"ANJIR LO KALO MAIN YANG BENER DONG! WAKIL KAPTEN JUGA!"
"Iya sorry..gue kebablasan"
"Kenapa lo? Gara-gara nilai kimia tadi?" Tanya Emin seolah bisa membaca ekspresi wajah Hadrian. Meski nampak datar, tapi cowok itu seakan menyimpan rasa kecewa
"Udahlah..gitu doang, nilai bisa dikejar men. Kalo lo kesulitan ngerjain, lo bisa panggil gue kapanpun lo mau" Ucap Emin enteng. Sedangkan Hadrian mendelik kecil. "Nggak salah denger gue?"
"Nggak lah, Dilan serius" katanya sambil nyegir lebar.
"Ya, lo bisa apa anjir hahaha...nilai lo tadi aja dibawah 60 mana mungkin bisa ngajarin gue. Lo aja masih nyontek Eno hahahaha" Hadrian tertawa sendiri. Membuat senyum Emin mengendor.
"Gini nih yang gak gue suka dari lo. Pantes gak punya temen. Sombong sih lo suka ngeremehin kemampuan temen sendiri." Emin mengerucutkan bibir tak terima. Kemudian dia berbalik hendak meninggalkan lapangan yang hanya berisi mereka berdua. Hadrian yang sedari tadi hanya tertawa garing jadi terdiam dan memanggil Emin.
"Min.."
"Gak mau gue ngambek sama lo"
Hadrian menghela nafas sabar.
_________
Matthew membolak-balikkan buku di rak perpustakaan. Heran juga karena perpustakaan sekolah barunya ini lebih banyak menyimpan novel romance ketimbang buku ilmiah atau filsafat. Dia menghembuskan nafas pelan. Mencoba bersabar untuk mencari buku yang ia tuju. Dia mencari buku 'Quantum Learning'. Buku itu mengandung seribu satu cara belajar dengan teknik yang berbeda kebanyakan dan yang pasti lebih optimal. Matthew memang mencari buku itu untuk bersaing dengan Hadrian.
Ingin sekali dia bertanya pada mbak sang penjaga perpus, agar langsung ditunjukkan. Tapi mbaknya sedang tidak ada pada tempatnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
r i v a l ✓
Short Story(Project Lovable) © 2019 all right reserved by Caeluming