8# ALAM INDAH

182K 9.1K 225
                                        

VOTE DAN SHARE CERITA INI KE TEMAN-TEMAN KALIAN YA SUPAYA MEREKA SEMUA JUGA IKUT KISAH SI ALGERIAN. HAPPY READING

*

*

*

Jika Sienna pergi dengan Catur maka gadis cerewet yang sudah menjadi temannya Sienna yakni Indah sedang berusaha mengatur jantungnya yang sedari tadi berpacu tak karuan.

Setelah Catur menyuruh Alam untuk mengatar Indah, dengan terpaksa Alam mengantar gadis itu pulang ke rumah.

Namun ternyata ia salah karena sepanjang perjalanan menuju rumah gadis itu diisi dengan suara cemprengnya membuat Alam harus ekstra sabar.

Dipinggirkan motornya di tepi jalan setelah ia mematikan mesin motor membuat Indah bertanya.

"Kok berhenti Kak? Rumah In---"

"Diam atau gue turunin lo disini?" potong Alam

Mendengar itu Indah pun cemberut. "Tapi kan aku ma---"

Kruuukkk!

Mendengar itu sontak Indah langsung menutup wajahnya. Ia malu karena Alam mendengar suara perutnya yang sudah kelaparan.

Tanpa berbicara lagi Alam kembali menyalakan mesin motor  melaju.

"Kirain mau traktir di warung seberang jalan!" dengus Indah

Kini motor Alam kembali berhenti tapi bukan di tepi jalan melainkan sebuah restoran membuat Indah kembali berpikir.

"Kak Alam mau traktir aku?" tanya gadis itu polos.

"Dasar pede!" ucap Alam cuek. Ia turun dari motor lalu melangkah masuk ke restoran tanpa peduli Indah yang masih kebingunan di luar.

Indah pun menyusul Alam masuk ke dalam restoran.

Mereka duduk lalu memesan makanan saat seorang pelayan menawarkan menu makanan.

"Pilih," titah Alam

"Kok aku kak? Aku kan gak ma---"

"Fried chicken rice, cheese burger dan roll with potato," seru Alam

"Kalo mbak mau pesan apa?" tanya sang pelayan sontak Indah kebingunan

"Samain aja!" sahut Alam kemudian pelayan itu berlalu.

"Kak Alam itu makanannya gak kebanyakan? Indah takutnya ntar mubazir loh!" ujar Indah yang sama sekali tak ditanggapi Alam.

"Sabar Ndah sabar. Namanya juga kulkas berjalan," gumam Indah

"Ngomong apa lo?!"

"Eh anu itu kak e-enggak kok. Iya enggak, hehe" benar-benar awkard menurut Indah.

Tak lama pesanan mereka diantar lalu disajikan di atas meja.

"Selamat menikmati," ucap sang pelayan ramah.

"Terima kasih," balas Indah.

Alam pun mulai makan setelah pelayan itu kembali ke belakang.

"Kalo gak suka buang," sahut Alam tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan.

"Suka kok iya suka." dengan cepat Indah mengambil sendok lalu menyendoki makanan ke dalam mulutnya.

"Ewnak bwanget kwak," ujar Indah tak jelas karena mulutnya yang masih mengunyah.

Mendengar itu Alam tak peduli, ia terus fokus dengan makanannya.

Lima belas menit kemudian mereka berdua selesai makan. Namun di piring Indah masih ada sisa yang jika di lihat gadis itu sengaja memisahkannya ke pinggir piring.

"Kak boleh aku bungkus ini buat Adikku gak?" pertanyaan gadis cerewet itu membuat Alam terdiam.

Lelaki itu menatap lekat kedua mata Indah. Ia bisa melihat ketulusan, harapan dan kesedihan di mata itu.

Entah sadar atau tidak, Alam pun mengangguk membuat Indah tersenyum.

Setelah itu mereka berdua pun keluar dari restoran.

Alam kembali melajukan motornya. Kali ini tak ada suara berisik dari Indah membuat Alam tak banyak kesal.

Tak butuh waktu lama motor Alam berhenti di depan sebuah rumah minimalis setelah melewati gang sempit.

Lelaki itu kembali dibuat terdiam. Ditatapnya rumah minimalis itu.

"Maaf ya kak lingkungan rumah aku sempit," ujar Indah. Ia bahkan menunduk tak berani menatap wajah Alam.

Ia yakin bahwa Alam akan semakin ilfil dengannya yang hanya orang biasa.

"Kakak!" teriak bocah berumur empat tahun yang berlari kecil dari dalam rumah minimalis itu membuat Indah dan Alam menengok ke bocah itu yang kini memeluk kaki Indah erat.

"Kakak! Pelmai lapal. Pelmai belum makan Kak." perkataan anak kecil itu membuat hati Alam tersentuh.

Jadi makanan yang dibungkus Indah buat adiknya adalah ini. Pikir Alam.

"Iya Kakak bawain Permai makanan yang enak banget!" seru Indah setelah ia menggendong Permai.

Bisa Alam lihat reaksi Permai setelah Indah mengatakan itu. Anak kecil itu tersenyum lebar dengan kedua matanya yang berbinar senang.

"Yaudah kita masuk ke dalam nanti Permai makan ya." Indah yang ingin  berjalan masuk ke dalam rumah pun berhenti saat suara Alam terdengar

"Ekhem!"

"Astagfirullah! Maaf kak, Indah lupa kalau kak Alam belum pulang. Maaf ya kak." ia terus meurutuki dirinya karena lupa kalau Alam masih ada di situ.

"Gue cabut." lelaki itu menyalakan mesin motor dan bersiap untuk pulang

"Jangan lupa istirahat," lanjut Alam sebelum motornya melaju meninggalkan pekarangan rumah Indah dan pastinya Indah yang menahan napas karena terkejut Alam berkata demikian.

"Napas Kak," ujar Permai membuat Indah tersipu malu. Sial! Kakak kelasnya itu membuatnya malu di depan adiknya.

Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah.

Setelah memarkirkan motornya di garasi, kedua kaki Alam melangkah masuk ke dalam rumah yang bisa dibilang luas itu.

Alam mengucapkan salam namun lagi - lagi tak ada sahutan seperti biasa dan ia sudah biasa.

Dirinya berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai atas.

Dibukanya pintu kamar yang ber cat hitam itu.  Alam membanting tubuhnya di atas kasur king size miliknya.

Ditatapnya langit - langit kamar sembari memikirkan kejadian hari ini.

Kenapa ia bisa bersikap baik kepada Indah padahal selama ini ia tak mau jika gadis itu mengganggunya.

Dan ternyata selama ini apakah ia salah menilai Indah?

Dirinya pikir Indah sama sepertinya yang memiliki rumah besar serta harta banyak namun ternyata ia salah.

Gadis itu hanya berusaha ceria di depan semua orang agar kesedihannya tak terlihat.

"Kenapa gue harus sepeduli ini sama lo?" gumam Alam.

***

Jangan lupa VOTE & KOMEN !!
Semakin banyak yang vote dan komen maka aku juga semakin cepat update teman-teman ♡

Follow ig : ✰ [ rrrodiyah ] ✰

ALGERIAN (S E L E S A I)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang