HALU

43 4 9
                                    

Hari kedua sebagai siswa dan siswi SMA Nusa Bakti. Disinilah awal dari perjalanan masa-masa paling indah dalam sejarah hidup. Di pagi yang terasa cukup terik ini rasanya malas untuk melaksanakan MPLS. Karena akan seharian berada di lapangan terbuka panas-panasan dengan berbagai penampilan yang bisa dikatakan aneh. Bagaimana tidak aneh. Atribut yang dikenakan yaitu atribut yang tidak relevan seperti: memakai tas belanja plastik, kaos kaki berwarna-warni tidak simetris dan papan nama yang berbentuk rumit dan menyulitkan dalam pembuatannya atau berisi konten yang tidak bermanfaat.

Begitulah saat ini penampilan Neta, Meylin dan Erina yang super duper kocak terutama di bagian papan nama masing-masing. Kakak kelas yang jail dan receh mulutnya memberi nama pada Neta si cewek "bahenol" singkatan dari badan sehat otak nol. Betapa malunya Neta memiliki papan nama itu. Meylin sebagai curut academy dan Erina sebagai bekicot wc.

"Gada nama bagusan dikit yah selain ini?" tanya Erina jengkel.

"Gue juga, masa gue dikasih nama curut academy kan gak lucu" melebihi kejengkelan Erina.

Sedangkan Neta tertawa geli melihat wajah teman-temannya. Tiba-tiba ia menghentikan tawanya karena teringat akan suatu hal. Perihal Bu Giya yang memintanya sebagai pengisi di acara hiburan MPLS untuk bernyanyi di pertengahan acara yang dikordinator oleh kakak kelas. Mengenai alasan mengapa harus Neta yang dipinta Bu Giya yaitu dengan alasan hoby yang tertera di lampiran biodatanya sewaktu mendaftar ke SMA Nusa Bakti. Bu Giya bertanggung jawab atas lancarnya MPLS dan karena bertepatan Bu Giya adalah wali kelas Neta. Bu Giya memanfaatkan bakat Neta.

Siapa yang tak mengira bahwa seorang Neta, gadis yang sedikit pemalu itu memiliki bakat bernyanyi. Mungkin ini salah satu kesempatan Neta untuk menjadi populer di sekolahnya. Bagaimana tidak populer? Sedangkan mereka baru masuk sekolah tapi sudah diminta bernyanyi di acara sekolah.

Kepanikan terus melanda jiwa Neta. Ia takkan bisa tenang dalam kondisi seperti ini. Dari awal ia juga sudah menolak permintaan Bu Giya namun tak diiyakan oleh wali kelasnya itu. Terpaksa Neta harus berpartisipasi dalam acara tersebut.

"Neta, lo kenapa? Lo cacingan??" tanya Meylin tanpa ragu.

"Serius? Lo cacingan? Wah mesti minum obat cacing nih. Kalo gak cacing lo bakal beranak cucu dalam perut lo" sambung Erina tak kalah heboh.

"Gue gak cacingan kali. Iya banget kalo gue cacingan" jawab Neta tak terima.

"Trus lo kenapa?" Meylin semakin kepo. Iya, tingkat kekepoan Meylin udah mirip ibuk-ibuk yang biasa belanja sayur keliling di komplek perumahan Neta.

"Gue nervous buat acara nanti. Bu Giya minta gue buat nyanyi pas acara hiburan ntar. Sedangkan gue belum prepare lagu sama sekali" jawab Neta resah.

"Ahh, nyanyi doang. Gampang, itu mah. Tinggal nyanyiin lagu yang lo hapal aja. Masa iya, lo gak hapal satu lagu?" serobot Erina.

"Gak segampang itu Erina. Masalahnya gue gak bisa liat orang banyak. Gue nervousan orangnya. Kalo lo gak percaya pegangin deh tangan gue. Dingin banget. Gue gak bisa" pasrah Neta pada kedua temannya.

"Tapi lo bisa nyanyi kan? percaya diri aja Neta. Lo itu cantik tau gak. Perfect malahan. Jadi gak bakal malu-maluin kok" support Meylin.

Berbagai kata penyemangat telah mereka lontarkan untuk Neta. Tapi itu belum cukup untuk menghilangkan rasa groginya yang sudah mencapai puncak keakutan yang luar biasa. Itulah kebisaannya yang sangat-sangat grogi bila tampil untuk perihal apapun. Neta memang jarang bersosialisasi dan berbaur dengan banyak orang. Mungkin itu yang menjadikannya tidak percaya diri dengan kemampuannya.

"Acaranya dimulai jam berapa?" tanya Erina.

"Sekitar satu jam lagi" jawab Neta semakin tak karuan.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 05, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

i'm HimWhere stories live. Discover now