1. A Rainy Night When I Met You

90 15 1
                                    

Sejauh ini hanya gelisah, cemas, dan ketakutan yang dapat pria itu rasakan

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Sejauh ini hanya gelisah, cemas, dan ketakutan yang dapat pria itu rasakan. Terombang-ambing di antara banyaknya manusia yang lalu lalang di bawah gemerlap lampu kota; bingung hendak pergi kemana. Udara semakin dingin sementara bau hujan mulai merangsek masuk ke indera penciumannya. Ia harus mencari tempat berlindung. Tapi, dimana? Pada siapa ia akan meminta pertolongan?

Rintik hujan perlahan jatuh; satu—dua, hingga ribuan titik kecil mendadak turun melimpah ruah. Pria itu tercenung, semuanya terasa aneh. Entah ia harus menertawakan rombongan manusia yang panik sebab serangan hujan yang datang begitu mendadak—nyaris seperti koloni semut yang kocar-kacir saat terkena air—atau malah menertawakan nasibnya sendiri yang tak punya tempat untuk bernaung, berdiri linglung di tengah taman persis seperti idiot.

Miris sekali.

Segurat senyum tipis terukir samar di bibir pucatnya, pria itu hendak melangkah pergi. Namun tatkala tubuhnya hampir berlalu dari sana, irisnya menangkap dua cahaya yang berpendar samar di balik gelapnya malam. Redup, hampir serupa dengan kunang-kunang sekarat yang ia temui di dalam hutan kemarin malam.

Gadis itu semakin mendekat sementara ia malah membatu. Sejenak ada gelenyar aneh yang menggelitik dadanya saat kedua mata itu bertemu tatap. Mata itu.

Mata itu menatapnya.

Aneh.

Gadis itu berhenti tepat di hadapannya, tersenyum begitu hangat kendati lelah tampak jelas menggelayuti wajahnya. Menyodorkan payung berwarna serupa dengan air laut musim panas sembari bertanya ramah, "Butuh tumpangan payung? Kau basah, nanti bisa sakit."

Hening. Pemuda itu menoleh ke belakang, mencari-cari kepada siapa gadis ini sedang berbicara. Tak ada orang. Tak ada siapapun di sana selain dirinya.

"K-kau bertanya padaku?" cicitnya pelan.

Gadis itu terkekeh, "Tentu saja."

"Kau bisa melihatku?"

"Kau manusia, tentu aku bisa melihatmu."

Bukan. Ini salah.

Haruskah ia mengatakannya?

Haruskah ia berkata jujur pada gadis cantik ini kalau dia bukanlah manusia?

Safe HavenWhere stories live. Discover now