in·gé·nue
/ˌanjəˈno͞o,ˈänjəˌno͞o/
noun
a naïve young woman.Ada yang bilang bahwa hidup tu tidak selalu harus ada pendampingnya, bahwa being single juga memiliki charm-nya tersendiri, bahwa memutuskan segala sesuatu sendiri dan untuk diri sendiri juga merupakan daya tarik. Intinya, menjadi mandiri itu tidak melulu merupakan hal yang menyedihkan. Setidaknya itulah yang didengar oleh Adna ketika dia memutuskan hubungan dengan kekasihnya 5 tahun yang lalu.
Adna, seorang perempuan yang seumur hidupnya tidak pernah merasakan apa yang disebut dengan "kesepian". Ya, dia tidak pernah merasa sendiri. Ia tidak pernah merasa adanya kebutuhan akan manusia lain untuk berbagi cerita. Teman hanyalah orang yang bisa diajak keluar dan menghabiskan waktu bersama, orang yang biasa datang berkeluh-kesah kepadanya, orang yang biasa ia ajak berbincang tentang macetnya jalanan ibu kota atau bagaimana sakitnya pencernaannya setelah ia melahap sambal yang terlalu pedas.
Namun hingga 27 tahun ia hidup di dunia ini, ia tidak pernah benar-benar mendapati dirinya ada di sebuah situasi dimana ia membutuhkan telinga lain untuk mendengar keluh-kesahnya, ataupun berbicara dari hati ke hati dengan orang lain selain dirinya sendiri. Ia cukup bahagia selama ada orang disampingnya, baik itu teman dekat atau hanya teman.
Bohong jika ia tidak punya teman, ia dapat menyebutkan daftar panjang orang-orang yang ia sering habiskan waktu bersama untuk membicarakan soal coffee shop yang enak, dan orang-orang yang biasa ia ajak bercanda.
Bohong juga jika ia bilang bahwa ia tidak pernah sedih ataupun marah. Namun segala emosi yang ia rasakan biasa ia telan dalam diam, berharap bahwa mengistirahatkan pikiran saat ia terlelap dapat mengurangi amarah dan menyembuhkan segala lukanya. Tidak perduli apakah itu kecil ataupun besar.
Ntah apakah itu pengaruh ia terlalu sering menonton Lion King saat ia kecil hingga Hakuna Matata benar-benar menjadi motto hidupnya, ataukah itu pengaruh dari keluarga. Ibunya pernah mengajarkan; jangan biarkan orang lain tau apa yang kamu rasakan dan pikirkan, hingga saat kamu benar-benar marah, seluruh dunia akan mengetahuinya. Sedangkan ayah-nya.. Adna tidak begitu dekat dengan ayah-nya.
Beliau bekerja di luar pulau saat Adna sekolah menengah, dan baru kembali saat ia duduk di bangku kelas 12. Yang Adna ingat dari ayah-nya saat itu adalah ayah-nya memiliki emosi yang meledak-ledak dan sulit dimengerti jalan pikirannya. Tidak sekali atau dua kali Adna berargumen dengan ayah-nya, yang sering diakhiri dengan ia mengunci diri di kamar dan menangis. Tidak hanya sekali Adna sakit hati atas perkataan ayah-nya yang memang selalu memiliki kesulitan untuk menggunakan kalimat halus, namun tidak pernah ada kata maaf diantara mereka. Susunan hirarki yang kuat di keluarganya pun membuatnya tidak dapat mengutarakan pikirannya.
Segala pertikaian mereka akan mendingin seiring berjalannya waktu, dan mereka akan berbincang dan bercanda seperti biasanya seakan tidak pernah ada keributan sebelumnya.
Namun ia sering tersinggung jika ada saudara, atau teman keluarga, yang berpendapat bahwa ia sangat mirip dengan ayah-nya. Siapa mereka? Beraninya mereka mengutarakan pendapat tanpa tau apa yang terjadi antara ia dan ayah-nya?
Tidak, ia tidak membenci ayah-nya. Bahkan ia mampu dan akan mengajukan diri untuk ada di barisan terdepan untuk membela jika ia mendapati ada orang yang berkata buruk tentang ayah-nya. Ayah-nya tidak jahat, hanya pemikiran mereka yang berbeda cara kerjanya, dan mereka sama-sama keras kepala.
OK, mungkin Adna dan ayah-nya memang sedikit mirip.
Adna dekat dengan ibunya, namun tidak sedekat ia dengan adik semata wayangnya, Adin. Dua dara yang terpaut jarak hanya 13 bulan ini kerap disangka kembar oleh semua orang yang pernah mereka temui. Memang perawakan dan tutur bahasa mereka sangat serupa, perbedaannya hanya Adna memiliki rambut lurus sedangkan Adin bergelombang. Meskipun mirip, dua saudara ini memiliki ketertarikan di bidang yang berbeda, seperti Adna yang lebih tertarik di bidang masak-memasak, sedangkan Adin lebih terampil di bidang mesin dan mekanis. Memang sang adik lebih tomboy dibandingkan dengan teteh-nya.
Adin sering kali meledek teteh-nya ini dengan nama 'Princess'.
Ketergantungan akan satu sama lain antara dua saudara ini tidak muncul dengan sendirinya. Mereka melalui proses panjang hingga akhirnya mereka sadar bahwa, iya, darah memang lebih kental daripada air. Sesuatu yang baru mereka sadari saat salah satu anggota keluarga mereka, orang terdekat mereka, eyang yang tinggal bersama mereka sejak mereka lahir, menutup usia saat Adna berusia 21 tahun.
Disaat itu pula keluarga mereka mengalami guncangan besar. Cobaan yang menyadarkan Adna bahwa dunia ini tidak seindah yang ia bayangkan, dan tidak semua hal dapat berjalan seperti apa yang ia rencanakan. Eyang mereka meninggal berdekatan dengan masa pensiun ayahnya, yang mengakibatkan tingkat stres keluarga mereka menjadi tinggi. Apalagi jika mengingat bahwa ibunya merupakan anak tunggal. Meninggalnya eyang menjadi pukulan berat.
Seluruh anggota keluarga Adna menjadi emosional dan sensitif. Tidak lama berselang, bahkan sebelum luka mereka sembuh, satu-satunya orang yang ia anggap sebagai sandarannya, kekasihnya pada saat itu, berulah dan berujung pada Adna menyudahi hubungan mereka. Lucu rasanya jika Adna mengingat-ingat moment tersebut. 3 tahun hubungan yang mereka jalin berakhir dalam hitungan menit, dan melalu pesan singkat. Lebih lucu lagi bahwa ia tidak merasakan sakit atas kandasnya hubungan mereka.
Hanya saja Adna menyadari bahwa manusia memang tidak bisa bergantung pada orang lain, bahwa satu-satunya orang yang dapat ia percaya hanyalah dirinya sendiri. Satu-satunya bahu untuk bersandar adalah bahunya sendiri.
Adna menyayangi semua kekasih yang pernah ia miliki. Meski tidak banyak memang yang bisa ia ingat dari masing-masing hubungan, ia menyayangi lelaki-lelaki yang pernah singgah di hatinya. Namun seperti apa yang dikatakan di banyak quotes yang ia baca, it was good while it lasted.
Dan memang itulah rasa yang tersisa dari semua hubungannya di masa lalu.
Oh! Ada satu yang ia sayangkan, hanya satu yang tetap membekas di hatinya, hanya satu yang ia harap dapat ia perbaiki. Jika ia mampu memutar balik waktu pun ia tetap tidak akan mempertahankan hubungan itu —Adna tidak ingin kembali pada lelaki itu— tapi jika diizinkan, ia ingin menjelaskan segalanya hingga ia bisa meluruskan kesalah pahaman. Namun apalah gunanya berkhayal di siang bolong, toh mereka sudah menemukan jalannya masing-masing. Adna hanya berdoa agar lelaki itu akan selalu bahagia walau tanpa adanya ia di hidupnya lagi.
Lagi pula salah paham bukanlah hal yang aneh, itu adalah hal yang sering terjadi.
Adna percaya pada ungkapan; don't judge a book by it's cover. Ia bukan sekali dicap sebagai orang jahat hanya kerena wajahnya yg 'antagonis' dan minimnya ia bicara oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenal dirinya. Oleh sebab itu, Adna tidak menilai orang dari bentuk fisik mereka. Jika suatu saat ia dekat dengan seseorang, baik untuk menjadi teman atau lebih, itu dapat dipastikan karena karakter dan sifat mereka, bukan hal lain.

KAMU SEDANG MEMBACA
Complete Felicity
Fanfictionfe·lic·i·ty noun Felicity is defined as a state of feeling great happiness, or the ability to appropriately express your emotions or thoughts. a. An example of felicity is a state of great happiness. b. An example of felicity is when your thoughts a...