Dengan sisa tenaga yang ada Rinka berjalan lemas di trotoar. Penampilannya yang kacau mengundang banyak pasang mata yang melihatnya iba, namun Rinka tak memikirkannya. Rinka mengelus perutnya dengan lembut. Masih beruntung Yoga tidak menyerang perutnya. Tidak apa-apa jika kepalanya memar yang penting jangan sampai janin yang ada diperutnya ini menerima perlakuan jahat dari ayahnya.
Mata sendu itu menatap kosong sungai yang ada dibawah jembatan tempatnya berdiri. Sempat terlintas untuk mengakhiri hidupnya namun Rinka sadar, dirinya telah melakukan banyak dosa dan dia tidak ingin janin yang tak berdosa ini menderita.Ibunya pernah berkata bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian diluar kemampuan umatnya.Yang artinya bahwa Tuhan yakin bahwa dirinya bisa melewati ini semua. Jika semua orang pergi meninggalkannya, masih ada Tuhan Yang Maha Esa yang selalu ada untuknya.
Tiga bulan. Tiga bulan adalah sisa waktu yang tersisa di masa putih abu-abunya. Rinka berencana akan menyembunyikan kehamilannya kemudian setelah lulus sekolah dia akan mencari pekerjaan agar bisa melangsungkan hidupnya bersama calon anaknya. Biarlah Yoga tidak mengakui bahwa ini adalah anaknya, yang pasti dirinya dengan segenap hati dan raga akan selalu melindungi, menyayangi dan mencintai sang calon anak.
***
Pagi itu di parkiran SMA dimana Rinka dan Yoga bersekolah dibuat heboh ketika motor sport Yoga yang biasanya ada Rinka di belakang tubuh Yoga kini terlihat ada Sonya yang memeluk erat tubuh Yoga. Yoga pun bersikap acuh ketika melewati Rinka yang melihatnya dengan wajah kaget dengan tatapan mata yang terluka.
Bisik-bisik pun mulai terdengar melihat Yoga yang biasanya tampil mesra dengan Rinka kini malah cuek menerima ciuman dari Sonya di pipinya. Sonya si Most Wanted Girl yang mengejar-ngejar Yoga dari kelas dua semenjak kepindahannya dari Australia.
Rinka masih terpaku ditempatnya berdiri. Tidak percaya jika Yoga saat ini berjalan dengan Sonya yang bergelanjut manja di tangan kiri Yoga. Secepat inikah cinta itu hilang? Atau memang Yoga yang tidak pernah mencintainya? Ketika Rinka masih memikirkan dua orang yang baru saja melewatinya dengan cuek, Rinka tiba-tiba merasa nyeri diperutnya. Tidak, dia akan berhenti untuk memikirkan Yoga. Dia harus memikirkan calon anaknya. Karena yang dia tahu ibu hamil tidak boleh banyak pikiran hingga membuat stress.
Karena jam masuk masih ada 10 menit lagi, Rinka memutar jalannya menuju toilet sebelum masuk ke kelas. Di toilet Rinka membasuh wajahnya, berusaha menyadarkan diri sendiri agar tidak lagi ikut dalam kehidupan Yoga. Semalam dia telah berpikir akan melupakan segalanya tentang Yoga. Menjauh dari Yoga dan tidak akan terlibat apapun lagi dengan Yoga. Rinka trauma dengan segala perlakuan kasar yang dia terima dari Yoga kemarin di apartemen pemuda itu.
Setelah membasuh wajah dan mengeringkan dengan sapu tangan miliknya, Rinka keluar dari toilet dan berniat berjalan menuju kelas 12 IPS 2. Baru saja berjalan 3 langkah Rinka merasakan tangan kanannya ditarik paksa oleh seseorang. Rinka tahu ini siapa. Aroma parfum yang sangat dikenalnya selama satu tahun mereka berpacaran, Yoga.
"awhh sakit Ga.." lirih Rinka dengan langkah kaki terseok-seok.
Bugh
Suara benturan punggung Rinka dengan dinding gudang dan diikuti ringisan yang keluar dari mulut Rinka.
"masih berani juga lo sekolah bitch!" geram Yoga menahan amarah. Cukup tahu jika saat ini mereka ada di area sekolah.
Rinka menatap wajah amarah Yoga dengan mata berkaca-kaca. Wajah yang dulu selalu penuh senyum dan mata yang menatap dengan penuh cinta kemana perginya? Apa secepat itu Yoga berubah?
"Aku bakalan tetap sekolah sampai lulus Ga. Aku janji aku gak akan ganggu kamu"
Yoga tertawa sinis.
Cih melihat wajah gadis yang pernah disayanginya ini membuat emosinya naik dengan cepat. Karena sebuah penghianatan tidak akan pernah bisa dia terima seperti apa yang telah seorang gadis bernama Delia lakukan 2 tahun silam.
"Oke. Gue kasih lo kesempatan untuk lanjut sekolah. Tapi mulai saat ini anggap kita gak saling kenal. Dan lo harus berusaha sebisa mungkin untuk gak liatin muka jalang lo di hadapan gue lagi. Karena gue sudah terlalu jijik melihat lo bicth. Dan kalau bisa gugurin kandungan lo!"
Yoga pergi meninggalkan Rinka yang menatap sendu punggung Yoga untuk terakhir kalinya.
Menghela napas panjang Rinka berharap semoga tidak akan terjadi apa-apa kepada dirinya dan sang calon bayi. Hanya tiga bulan lagi dia harus berusaha melewati masa putih abu-abunya. Waktu yang terdengar lama namun berjalan cepat.
"Dia adalah Ayahmu. Setidaknya kamu pernah merasakan kehadiran Ayah didekatmu, Nak. Walau untuk yang terakhir kalinya. Mungkin" batin Rinka mengelus perutnya yang masih rata.
TBC.

KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Boys..
Teen FictionGama dan Gema adalah kembar yang selalu menyayangi sang Bunda, selalu siap melindungi sang Bunda, dan selalu siap untuk memberi pelajaran kepada sang Ayah yang telah membuang mereka dan menelantarkan sang Bunda yang kala itu tengah mengandung mereka.