*Detrian*
Malam semakin larut, ga gue temukan satu kendaraan umum yang lewat, niat hati mau pesen ojek online, tapi hp gue kehabisan daya dan gue lupa ga bawa powerbank. Apes banget gue hari ini, mana jarak dari fakultas hukum ke kosan gue itu cukup jauh.. ah ga cuma cukup, tapi sangat jauh. Gue harus jalan kira-kira satu jam.
Sibuk berjalan kaki menuju gerbang kampus tiba-tiba saja langkah kaki gue terhenti pada sebuah taman di Fakultas Pertanian, gue melihat kebun bunga kecil-kecilan yang lumayan rimbun ditumbuhi bunga matahari yang kini merunduk layu.
"Sunny" gue bergumam tanpa sadar, setiap kali melihat bunga matahari gue selalu teringat akan gadis itu. Gadis dengan pemilik senyum termanis yang pernah gue temui.
Sunny Syakira.
***
Setiap hal yang gue lakukan setiap hari, setiap gue melihat tumbuhan atau benda di sembarang tempat, entah kenapa gue selalu mengingat dia. Dia yang meninggalkan, dia yang gue tinggalkan.
Setiap sudut kota rasanya penuh dengan kenangan gue bersama dia, mulai dari jalan raya, hingga gang kecil di sudut perkampungan yang tidak terjamah masyarakat kota. Semua penuh tentang dia, tentang Sunny. Gadis pemilik senyum manis yang kini sudah tidak bisa lagi gue lihat senyumannya.
Yap. . . Semua kini hanya tinggal kenangan, yang akan terus gue kenang dan gue pendam sendiri dalam ingatan.
Perjalanan gue menuju kosan masih sekitar 20 menit lagi, dan perut gue sudah berbunyi tak karuan, meminta untuk segera di isi. Gue melihat ada mamang batagor yang biasanya menjadi langganan gue bersama Sunny dahulu.
"Mang, batagor seporsi ya. Makan disini aja"
Gue duduk di sebuah bangku plastik yang disediakan Mang Asep, tukang batagor."Tumben sendirian a' , eneng yang biasanya kemana? Udah lama pisan ga keliatan" Mang Asep ini orang Bandung, yang entah kenapa malah merantau ke Lampung hanya untuk berjualan Batagor dan Siomay Bandung disini.
"Udah putus mang" gue berujar, sambil menerima sepiring batagor buatan Mang Asep.
"Kok putus, padahal kalian teh cocok pisan" ini udah kesekian kali, para mamang-mamang kaki lima yang biasa gue jajanin bertanya hal yang sama. Sedangkan gue hanya mengangguk sambil tersenyum kecut, lalu membalas. .
"Belum jodohnya mang" dan memakan Batagor pesanan gue yang mulai dingin terkena angin malam.
***
Matahari semakin meninggi, langit semakin cerah dan gue semakin mengantuk.
"Sshhtt, kiw. . Trian. . " seseorang melempar ranting kecil dari balik jendela kelas dan sukses mengenai kepala gue.
"Ngapain disitu " gue berbisik pelan memberi gestur agar gadis itu menunggu ditempat lain namun malah cengiran lebar yang gue dapatkan.
"Mas yang di belakang, ada yang ingin di tanyakan?" Dosen Hukum Perdata itu tiba-tiba saja berbicara, sedangkan gue menengok kekanan dan kekiri, dan tertanya emang hanya gue mahasiswa yang duduk di belakang.
Sambil menggaruk tengkuk dan tersenyum kikuk gue menjawab "tidak ada pak"
"Baiklah, jika tidak ada. Kita akhiri kelas hari ini, selamat siang" gue menghembuskan nafas lega, untung saja.
"Mau ke kantin bareng ga?" Vano, tetangga sebelah kosan gue itu bertanya.
"Duluan aja deh, cewek gue udah nungguin didepan heheh. . "

KAMU SEDANG MEMBACA
SUNFLOWER
Короткий рассказSeperti makna sesungguhnya dari bunga matahari. "Udahan yuk.." "Dari awal emang gue yang salah. Maaf ga bisa jadi pacar yang baik. Bukan karna gue udah nemu yg lebih nyaman. Tapi lu juga bilang kan semalem secara ga langsung kalo kita ga kaya pacar...