Bagian 06: So Boring--I Could Die

18.8K 1.2K 19
                                        

Dua minggu setelah acara makan malam dua keluarga mafia besar hari itu, kini kedua belah pihak tengah bersiap untuk mengadakan rapat besar dalam rangka peresmian dengan mempertemukan orang-orang penting dari masing-masing kubu.

"Sudah kubilang kan? Akhir-akhir ini aku sangat sibuk dengan pekerjaan dan juga tanganku masih dalam masa pemulihan aku tidak bisa mengendarai sepeda motorku!" Miller terlihat sangat muak dengan orang yang kini tengah berbincang dengannya lewat sambungan telepon.

"Tapi aku sangat merindukanmu Miller! Apa salahnya menemui kekasihku sendiri dan aku juga ingin memberimu semangat secara langsung. Tidak bisakah kita bertemu sebentar saja? Aku bisa menjemputmu, beri tahu aku di mana rumah atau kantormu." Suara seorang wanita dari seberang sana terdengar memohon.

Namun, Miller hanya berdecak malas dan berkata, "Tidak bisa, sudahlah aku harus pergi." Lalu dia mematikannya panggilan itu sepihak dilanjutkan dengan memblokir nomor wanita yang sepertinya punya hubungan khusus dengannya itu.

"Aku tidak butuh disemangati oleh orang sepertimu, atau dari siapa pun. Menyebalkan!" gumam Miller merujuk pada wanita barusan.

"Miller! Cepatlah, kita tidak boleh terlambat!" Suara Demian terdengar dari balik pintu kamarnya.

Miller yang memang sudah siap untuk pergi pun langsung bangkit dari duduknya. "Iya!" Hanya itu sahutnya.

Dia masih tinggal di rumah orang tuanya atas perintah Demian--ayahnya sendiri. Dan itu artinya tidak ada pilihan selain menurutinya.

Karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk mengendarai sepeda motor andalannya, Miller terpaksa ikut mobil ayahnya bersama ibunya.

Dia duduk di depan bersama sopir dan ayah-ibunya duduk di belakang.

Entah kebetulan atau apa, tapi saat mereka sampai di tempat pertemuan itu mereka berpapasan dengan mobil milik keluarga Kennedy yang sama-sama baru saja sampai.

Mobil itu disetir langsung oleh sang kepala keluarga--Thobias dengan istrinya yang duduk di sampingnya dan kedua anaknya yang duduk di belakang.

"Wah kebetulan sekali kita sampai di saat yang bersamaan ya Tuan Demian!" seru Thobias setelah mereka turun dari mobil masing-masing.

Demian tersenyum dengan wibawanya dan menyambut sapaan tuan Thobias dengan hangat.

Para nyonya besar pun saling bertukar sapa dan mulai berbincang ala ibu-ibu sosialita pada umumnya.

Sedangkan Miller harus berhadapan dengan Axel dan Grace.

Tidak ada tanda-tanda tertarik sama sekali di wajah Axel untuk sekadar basa-basi dengan Miller.

Dia terlihat berkata pada adiknya lalu mereka berlalu bersama untuk masuk ke dalam gedung terlebih dahulu.

"Kenapa kau diam saja? Susul mereka," tegur Demian pada Miller yang menyadari itu.

Sembari berdecak malas dia berjalan menyusul Axel yang sudah masuk lift untuk naik ke lantai atas tempat di mana pertemuan akan dilangsungkan.

Di dalam lift yang kini tengah bergerak menuju lantai paling atas mereka hanya berdiri dengan jarak membentak--diselimuti keheningan.

Affection [21+ Mpreg, Yaoi/BL, Smut]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang