Bagian 07: Tamu Tak Diundang

17K 1.1K 15
                                        

Selama rapat besar dua organisasi mafia itu--banyak sekali wajah kebingungan bahkan ketidaksukaan atas keputusan bos besar mereka masing-masing.


Namun, selain orang-orang yang paling dekat dengan posisi bos besar mereka hanya bisa diam dan menerima keputusan yang bisa dibilang sangat mendadak itu.

"Bos, apa ini sudah direncanakan sejak lama? Atau karena kita benar-benar sudah berlebihan?" tanya Gray pada Axel.

Saat ini para petinggi dari kedua organisasi tengah menikmati makan malam bersama di sebuah restoran bintang lima berkonsep prasmanan yang telah dipesan khusus untuk agenda makan dan minum-minum bersama malam ini setelah rapat usai.

Axel yang memang hanya duduk bersama Gray di area luar restoran itu mengembuskan napasnya perlahan.

"Persekutuan ini bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan aku yang disuruh menikah dengan Miller," batinnya membandingkan rasa kecewa anak buahnya dengan rasa kecewanya yang begitu besar dengan keputusan Thobias untuk dirinya pribadi.

Mereka berdua sengaja menjauhkan diri dari kerumunan atas permintaan Axel sendiri. Sebagai tangan kanannya Gray pun siap melaksanakan setiap perintah bosnya.

Pada akhirnya Axel hanya menarik senyum getir yang tipis dan berkata, "Kau tahu selama bos besar kita masih hidup, kita atau tepatnya aku tidak punya kuasa penuh akan organisasi kita."

"Kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi pada akhirnya adalah kita akan bekerja di bawah kaki Miller sepenuhnya," lanjutnya lemah.

Gray mengerutkan keningnya, tidak terlalu paham dengan kalimat lanjutan dari Axel.

"Kenapa Bos bisa berpikir seperti itu? Kami siap mendukungmu untuk menghindari kemungkinan terburuk Bos! Saya yakin tidak ada yang benar-benar terima dengan keputusan ini!" seru Gray tidak setuju.

Axel tersentak sejenak saat sadar apa yang baru saja dia katakan.

Benar, Gray tidak tahu dan tidak ada yang tahu kalau dia akan menikah dengan Miller.

Meski posisi mereka sama-sama kuat dalam organisasi, tapi Axel tetap sadar diri kalau dia hanyalah seorang omega.

Dia sudah lengah satu kali, dan beruntung tidak terjadi apa-apa dengan Miller malam itu, tapi apakah keberuntungan yang sama bisa terulang dua kali?

"Aku bukan omega normal, dan dia seorang alfa dominan," gumam Axel pelan nyaris tak bersuara.

"Maaf Bos, Anda bilang apa?" Gray tidak mendengar gumaman itu. Untung saja.

Axel menggeleng pelan. "Aku akan menantikannya, buktikan padaku kesetiaan dan dukunganmu jika hal terburuk itu terjadi," ucapnya sembari menepuk bahu kanan Gray dua kali.

Senyum Gray mengembang lalu dia mengangguk yakin. "Anda bisa mengandalkan saya!" sahutnya tegas.

Tak ayal itu membuat Axel tersenyum maklum juga lega, dia bersyukur ada Gray yang setia berdiri di sisinya.

Obrolan mereka pun berlanjut dan mulai beralih dari topik-topik serius menuju obrolan santai.


.

Affection [21+ Mpreg, Yaoi/BL, Smut]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang