1. Tak Kenal Maka Kenalan

49 8 0
                                    

Pemuda itu melewat koridor sekolah dengan earphone yang terpasang di telinganya. Tak sedikit murid yang ia sapa di perjalanan menuju kelas barunya. Memang bukan murid paling populer atau most wanted sih. Tapi dia salah satu anggota 'The Dream' yang populer di sekolahnya. 'The Dream' adalah band SMA Luhur di Yogyakarta. Namanya Arjuna Putra Nareswara. Biasanya orang-orang memanggilnya 'Juna'.

Saat memasuki kelas barunya yang bertuliskan 'XII MIPA 5', ia menghela nafas.

"Kalian lagi kalian lagi. Capek aku sekelas terus sama kalian. Kalian ndak capek apa ngintilin aku terus?" Sambil menunjuk dua orang di depannya.

"Lho, Jun. Kamu tuh harusnya bersyukur sekelas sama kita. Karena nggak ada yang mau lagi mbok titipin cilok Bu Darmi pas ke kantin."Jawab cowok yang yang sedang merapikan dasinya. Jeno Wiguna Putra yang tertulis di nametag-nya.

"Nah,betul itu. Kamu tanpa kita kayak sego kucing ora dikareti". Sahut Aji Pusaka atau yang lebih sering dipanggil Aji.

"Karepmu wes" Ucap Juna pasrah.

"Lha ini aku duduk dimana? Biasanya aku 'kan sama Jeno"

''Kamu nggak kasihan apa sama aku? Aku duduk sendirian terus dari kelas sepuluh. Dimana rasa peri ketemananmu? Aji sedih," Jawab Aji sambil merubah raut mukanya memelas. Juna mencebikkan mulutnya.

"Mereka pada ndak betah sama kamu gara gara keusilanmu."

"Udah,udah. Jun, kamu yang waras ngalah ya." Jeno menengahi pertenkaran mereka.
Juna menghela nafas. Berteman dengan Aji adalah ujian.

•••

Ketika pertama kali masuk ke kelasnya, Hanin hanya menunjukkan tampang datarnya. Semua murid di kelasnya menatapnya aneh dan mengabaikan begitu saja ketika Hanin memasuki kelas bersama Bu Rini selaku Wakil Kepala Sekolah bagian Kesiswaan.

"Selamat pagi, Anak-anak. Saya minta perhatiannya sebentar. Saya tau kalian pasti masih ada yang belum saling mengenal. Tapi, saya membawa satu siswi baru untuk kalian. Semoga kalian bisa menyambutnya dengan baik." Kata Bu Rini yang diangguki oleh semua murid.

"Silakan perkenalkan dirimu,Nak."

"Nama saya Laluna Hanindya Senandika. Panggil saja Hanindya".

Semuanya melongo mendengar perkenalan singkat Jesya. Mungkin di pikiran mereka 'Itu manusia atau robot sih?'

Bu Rini berdehem untuk mengakhiri suasana canggung tersebut. "Nak Hanin, silakan kamu duduk di kursi kosong kanan belakang. Kalian semua jangan ramai. Tunggu guru mapel kalian datang". Hanin hanya mengangguk dan mengikuti arahan Bu Rini tadi.

Saat Hanin menjatuhkan bokongnya ke kursi, ia merasa pemuda di sampingnya itu melihatnya terus.

"Kenapa sih lo? Risih tau dilihatin terus."

Juna mengerjap dan tersadar.

"Eh? Kamu cantik." Ucapnya kalem.

"JENO WOI KANCAKU ISO NGGOMBALI ANAKKE WONG"

Jeno pun ikut histeris seperti Aji.
"Alhamdulillah Juna normal."

Hanin hanya menatap mereka bertiga malas. Sedangkan Juna memelototi mereka berdua.

"Arjuna Putra Nareswara. Panggil saja Juna," Ucap Juna sembari mengulurkan tangannya.

"Tadi gue udah kenalan di depan."

"CIAAAA JLEB MAMEN" Siapa lagi kalau bukan Aji? Lagi-lagi Juna mengabaikannya.

"Tapi kita belum jabat tangan. Katanya Tak Kenal Maka Kenalan."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 09, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Jogja untuk NanaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang