Pertemuan kembali bukanlah hal yang mustahil.
*
2 tahun lalu
Malam itu dingin. Hujan baru saja berhenti. Riak air sungai begitu tenang hingga rasanya menakutkan. Ashilla menarik nafas perlahan-lahan. Pandangannya kabur karena air matanya tidak mau berhenti. Ia memukul dadanya pelan-pelan agar rasa sakit dalam hatinya hilang. Ia benar-benar muak menangis, tapi air matanya seperti di peras sedangkan dadanya seperti di tekan berkali-kali.
"Baik. Mari mati saja." Katanya pada dirinya sendiri.
Ia tidak suka rasa sakit ini. Rasa sakit yang membuatnya seperti dibunuh perlahan-lahan. Lebih baik ia mati saja daripada tersiksa seperti ini terus menerus. Sungguh, ia ingin mati saja. Semua orang yang tidak mencintainya juga mati saja. Ia benci.
"Mari kita batalkan saja pernikahan kita."
Ha. Ashilla tertawa. Setelah sekian lama bersama, kenapa baru sekarang?
"Rasanya memang harus diakhiri. Aku lelah membohongimu selama ini."
Ashilla tertawa lagi mengingatnya. Ia tertawa tapi air matanya tidak ingin berhenti. Rasanya seperti di bunuh berkali-kali. Rasanya seperti ia ditinggalkan sendirian di dunia ini. Ia ingin mati saja.
"Baiklah. Mari kita akhiri saja, rasanya mungkin seperti tertidur." Katanya.
Ia berdiri di ujung jembatan, kemudian sedetik lebih cepat seseorang menyambar tangannya. Ashilla terhuyung lalu terjatuh tepat di dadanya. Kesadarannya seakan kembali karena wangi parfum yang menguar dari laki-laki di hadapannya. Malam itu terlalu gelap hingga ia tidak bisa melihat siapa laki-laki itu.
"Ah, a-aku.. terima kasih." Ashilla tergeragap. Laki-laki di hadapannya menghembuskan nafas keras.
"Memang apa yang kau dapatkan dari menyerah?" Jawab laki-laki itu kemudian dia berlalu pergi begitu saja meninggal Ashilla yang bingung sendirian.
Malam itu, Ashilla mendapatkan keinginan untuk hidup kembali.
*
Ashilla terbangun dari tidurnya. Ah, mimpi itu lagi, batinnya. Ia sering kali memimpikan kejadian 2 tahun lalu. Waktu itu rasanya seperti berat sekali. Ashilla tidak ingat seberapa banyak waktu yang ia habiskan untuk bersedih saat itu, tapi sekarang setidaknya ia baik-baik saja.
"Sudah bangun?" Kepala Sivia mencuat dari balik pintu. Ashilla mengangguk, sambil tersenyum. Sahabatnya itu meletakkan cangkir teh untuknya, lalu duduk di sebelahnya.
"Kau tidak lupa kan hari ini?" Tanya Sivia. Ashilla menghela nafas, merasa malas mengikuti reuni sekolah.
"Hei, tenang saja! Berita tentangmu kan sudah basi. Mereka juga pasti sudah lupa." Kata Sivia mencoba menenangkan.
"Aku hanya malas." Jawab Ashilla.
"Oh tolonglaaaah.." Sivia mengerang, Ashilla kemudian mau tidak mau harus mengalah pada sahabatnya, lalu ia mengangguk dan Sivia tersenyum senang.
"Siang ini di Fish and Co!" Ujar Sivia lalu berlalu pergi.
Ashilla menghembuskan nafas keras lalu meraih ponsel miliknya. Hari ini hari minggu, ia seharusnya bisa bersantai seharian setelah selama 6 hari bekerja seperti kuda. Ia pikir menjadi editor itu mudah, tapi ternyata tidak juga. Ia pening menghadapi berbagai naskah yang berantakan, penulis-penulis yang susah dihubungi saat tenggat waktu, dan juga tumpukan naskah baru yang dikirim setiap harinya.
Cita-citanya sejak awal adalah menjadi jurnalis. Tapi ternyata melamar pekerjaan untuk menjadi jurnalis pun jauh lebih sulit dari dugaannya. Entah memang semua orang di kota ini ingin menjadi jurnalis atau memang keberuntungan tidak pernah memihaknya, ia selalu gagal. Barulah setelah itu ada satu teman yang menawarinya pekerjaan untuk menjadi editor. Katanya, hanya duduk saja kamu tidak perlu kesana kemari seperti jurnalis. Waktu itu, ia dengan naifnya menerima pekerjaan itu. Barulah setelah merasakannya, ia menjadi pening sendiri.
YOU ARE READING
My Destiny
RomanceMenyerah adalah sebuah pilihan bagi Ashilla. Segalanya tidak benar dalam hidupnya. Tapi suatu waktu, saat ia ingin berhenti, seseorang menghentikannya. Anehnya, Ashilla merasa diselamatkan olehnya. Hingga bertahun kemudian, mereka bertemu lagi. Aka...
