Toilet 12 [Cermin]

0 0 0
                                    

"Hah, lega." Gumaman itu terlontar bersamaan dengan langkah yang membawa tubuhku keluar dari salah satu bilik sempit, setelah menuntaskan panggilan alamku.

"Oh," kejutku, mendapati orang lain disini. "Kupikir kau sudah keluar sejak tadi," ujarku seraya menuju salah satu wastafel tepat di samping wanita bergaun putih itu.

"Oh, ya, terima kasih untuk tisyunya tadi." Aku kembali berbicara sambil membasuh tanganku, dia diam, aku hanya meliriknya sejenak kemudian melanjutkan aktivitasku.

Mendadak aku teringat tentang kisah wanita seram wanita di toilet 12 yang diceritakan rekan kerjaku belum lama ini.Seketika suasana terasa begitu hening, aku juga mulai merasa aneh pada wanita di sampingku ini. Sejak tadi ia hanya diam sambil menatap lurus ke depan.

"Ehm, kau yang tadi memberikanku tisyu toilet kan?" tanyaku canggung. Lagi, tak ada respon berarti darinya.

Situasi ini terasa semakin mencekam bagiku. 'Orang ini benar manusia atau ... ah, konyol mana ada yang seperti itu di dunia ini'. Aku menggigit bibir bagian bawahku pelan, aku sengaja tak mematikan kran air dan membiarkan suara air mengalir begitu saja, memenuhi keheningan di ruangan ini.

Instingku sebagai manusia dengan rasa takut, seolah mendorong tubuhku untuk segera meninggalkan ruang remang ini. Sayangnya, mendadak tubuhku terasa kaku, bahkan untuk sekedar menoleh dan memastikan orang di sampingku ini benar-benar manusia atau bukan.

"Sial!" Batinku mengumpat, kupaksa leherku menoleh dan menengok ke samping. Wanita itu masih di sana, tepat di sampingku, masih dengan posisi yang tak berubah se-inchipun. Kurasakan tubuhku menegang ketika dia balas menoleh ke arahku, lihatlah, tatapan itu ... kosong. Aku mengepalkan kedua tanganku erat sambil menatap wanita itu was-was.

Apa yang ingin wanita ini lakukan, dia masih menatap kosong ke arahku. Hingga ... dia menunduk sekilas dan berlalu dari hadapanku sambil meraba-raba dinding toilet.
Aku mengusap wajahku dan menghela napas lega. "Ternyata buta," gumamku kemudian.

Setelah mematikan kran, aku pun segera merapikan kembali pakaianku dan berbalik untuk keluar namun, sesuatu dengan cepat menembus tengkorak kepalaku membuat cairan amis kental seketika melucur deras dari dahiku. Mataku membola dan kurasakan tubuhku kaku. Samar, aku melihatnya, wanita itu, dia ... masih disana, berdiri di balik pintu toilet, menyeringai ke arahku.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 28, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

DIE FINSTERNISTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang