Got me spinning like a ballerina..
Feeling gangsta everytime i see ya..
You're the king..
and I'm a queen of disaster...
Lantunan lagu dari seorang penyanyi ternama— Lana del Rey—dinyanyikan dengan sangat baik oleh Aurelia. Lagu itu mengiringi langkah tegapnya menyusuri koridor sekolah. Ia merasa senang, paska kejadian tertangkapnya lelaki itu oleh aparat keamanan, akhirnya dirinya dapat kembali merasakan kehidupan yang normal, seperti sebelum kenal dengan si kampret itu.
Namun, setibanya di depan gerbang sekolah, langkahnya seketika terhenti. Suasana mendadak mencekam saat manik cokelatnya tak sengaja bertemu pandang dengan manik abu di seberang sana. Smirk andalan lelaki itu sukses membuatnya bergidik ngeri. Ia berbalik, tetapi suara bariton menginterupsinya. "Aurel! Pulang bareng gue!"
Kontan, orang-orang di sekitar saling berbisik. Aurelia menunduk sambil memejamkan mata, betapa malunya ia menjadi tontonan banyak pasang mata. Sudah pasti, ia disoroti para fans alay yang merasa cemburu dengannya. Pasalnya, usai beredarnya kabar putus antara Dea dan Axel, banyak murid perempuan berusaha mendekati lelaki itu.
"Lo!" Axel menunjuk seorang gadis gendut berkacamata bulat yang sedang terpaku seorang diri menunggu di depan gerbang sekolah. Gadis bernama Sonya itu menunjuk dirinya sendiri, seketika ia merasa gugup karena lelaki itu tiba-tiba notice keberadaannya. "Suruh Aurel ke sini!"
Seketika harapan itu terasa dihempas begitu saja. Gadis itu melongo mendengar perintah Axel, ternyata ia dipanggil hanya untuk mengantarkan tuan putri kepada si pangeran.
"Buruan!" Axel semakin mengeraskan suaranya, kali ini ia tak akan membiarkan Aurelia pulang sendirian.
Sebal, karena merasa dipermainkan, Sonya menghampiri Aurelia yang berada tak jauh darinya. Ia mencengkeram bahu gadis itu—memaksa untuk berbalik badan, lalu menuding dengan telunjuknya sambil berkata, "Heh, lo budeg? Lo dipanggil Axel!"
Aurelia tak terima disebut budeg oleh orang yang bahkan tak dikenalnya. Ia mendesis, memilih mengabaikan Sonya, lalu mengedarkan pandangan ke sekitar, semua mata tertuju padanya. Sudah pasti mereka bergosip tentang beruntungnya Aurelia bisa mendapat perhatian Axel.
Hentakkan kaki gadis itu menandakan jika ia benar-benar kesal. Ia bergegas menghampiri lelaki yang bersandar di motor sport lalu menatap sinis. "Gue pernah bilang, kalau gue gak mau pulang bareng lo!"
"Gue juga pernah bilang, kalau gue gak suka ditolak!" jawab Axel dengan gaya bossy.
Aurelia berdecak sebal sambil memutar kedua bola matanya. "Xel, lo itu bukan siapa-siapa gue. Lo gak punya hak buat ngatur hidup gue!"
"Siapa bilang?" Axel mengubah posisinya menjadi berdiri tegak, lalu menangkup wajah Aurelia. "Pulang bareng gue atau gue cium lo sekarang juga?"
"Lo pikir gue takut sama ancaman lo?" Aurelia melotot tajam. Ia bukanlah tipikal perempuan yang akan luluh dengan kalimat seperti itu. Ia juga paham, jika Axel tidak mungkin berani melakukannya. "Kata-kata lo basi banget, Xel! Udah banyak tokoh cowok di wattpad yang ngomong kek gitu! Itu gak mempan buat gue!"
"Oh, ya?" Axel menyunggingkan senyum simpul, sedetik kemudian ia menghapus jarak dan sebuah kecupan hampir saja mendarat di bibirnya jika saja Aurelia tidak mendorong tubuh lelaki itu.
"Axel benar-benar gila," batin Aurelia. Ia langsung mengambil helm yang diletakkan di atas jok belakang, lalu memakainya sambil memasang ekspresi sebal.
Axel tersenyum miring, ia merasa menang karena berhasil meluluhkan gadis itu. Ia segera menaiki motornya, dan menunggu Aurelia untuk ikut naik. "Nunggu apa lagi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sejauh Bumi & Matahari
Roman pour Adolescents[FOLLOW SEBELUM BACA] Genre: Teenfiction - Young Adult | 17+ "Lo sengaja usik gue buat dapetin perhatian gue, kan?" Axel menaikkan turunkan aslinya. "Gak usah sok polos. Gue tau, lo naksir gue." Aurelia mencondongkan tubuhnya, sontak Axel terkesiap...
