Warning!!! Typo bertebaran!!
Enjoy reading :)))
Setelah dihukum, Naya terburu-buru menuju tujuannya untuk memenuhi janji. Haiish...bodoh! Kenapa aku pake lupa ada janji, sih! Mana kena hukum lagi, bikin lama! Aaarrggh.. Kalo inget gak bakal sengajain telat! Haiish!! rutuknya sambil melihat waktu di jam tangannya. Lapangan sekolahnya sangat lebar sehingga memakan waktu lama untuk memutarinya 10 kali. Ia mendecak mengetahui ia telat 10 menit. Duh! Rame banget si ni koridor! Koridor sekarang sangat ramai oleh siswa yang bergegas menuju kantin. Naya buru-buru menyelip diantara tubuh-tubuh yang kelaparan hingga tak sadar ada seseorang di depannya.
BRUK!
"Sori." tanpa menatap korban tabrakannya, ia segera melanjutkan langkahnya semakin cepat. Tak sempat menyadari orang yang ditabraknya terjatuh karenanya.
"Maaf telat, Bu."
Nara menampakkan senyum sopannya pada wanita yang duduk dibalik meja penjaga perpustakaan, Bu Airin. Ya, Naya punya janji dengan wanita cantik ini. "Ah, akhirnya dateng juga. Tumben kamu agak telat. Biasanya langsung kesini abis bel istirahat bunyi." kata wanita itu dengan senyum manisnya. Nara hanya tersenyum menanggapinya. "Oh iya,sampe lupa."
Wanita itu mencari sesuatu di laci mejanya. "Nah, ketemu! Ini buku yang kamu cari. Bukunya baru selesai disortir. Ibu inget kalo kamu nyari buku ini makanya langsung Ibu simpenin buat kamu." jelas Bu Airin. "Kartu perpus kamu ada, kan?" Naya mengangguk dan meraih sesuatu di saku almamaternya. Raut wajahnya mendadak berubah.
Naya panik mencari kartu perpustakaannya di semua saku pakaiannya termasuk tasnya yang masih ia pakai. "Kenapa Naya?" tanya Bu Airin heran.
"Ooh..Eh..Itu Bu.. Kartu perpus saya ga ada." jawab Naya panik.
"Coba cek lagi di semua saku baju kamu. Pasti keselip."
Naya menggeleng. Ia sudah mengecek semuanya. Atau mungkin.. "Bu, saya ijin sebentar, ya! Saya mau cari kartu saya dulu. Mungkin jatuh di koridor." ijinnya. "Yasudah, cepet kemari yaaa! Nanti keburu dipinjem orang lain lhoo" kata Bu Airin dengan sedikit candaan. Naya terkekeh kemudian segera melesat keluar mencari kartu perpustakaanya.
Mata Naya menyortir semua lantai koridor yang ia lalui sebelumnya. Bahkan, ia sampai mencari ke lapangan. Ia berpikir kalau bukan jatuh di koridor mungkin jatuh di lapangan saat ia dihukum.
Sial!
Ia membatin karena kartu perpustakaannya tak kunjung ditemukan. Pasalnya, ia bertaruh menyelesaikan membaca buku itu dengan abangnya. Abangnya yang menyebalkan itu sudah menghasut orang tuanya agar tidak memberikan uang saku tambahan untuk membeli buku itu. Buku keluaran terbaru penulis favorit ia dan abangnya. Sayangnya, uang bulanan untuk jatah membeli buku sudah ia pakai semua dan sisa uang sakunya ia tabung untuk keperluan lainnya. Buku itu baru dirilis setelah ia habiskan uangnya. Dan abangnya sudah membeli buku itu, biasanya Naya akan meminjam milik abangnya setelah abangnya selesai. Tapi dengan sengaja abangnya mengajaknya bertaruh untuk menyelesaikan buku itu duluan. Naya sih, sebenarnya anti dengan taruhan. Namun hadianya menggiurkan sehingga ia tidak sempat memakai akal sehatnya saat mengiyakan taruhan tersebut. Bodoh! Batinnya saat itu. Naya hanya bisa menyesal dan mau gak mau ia melakukan taruhan tersebut. Karena kalau tidak, bisa apes ia dikarenakan abangnya yang gak manusiawi itu. Abangnya suka aneh-aneh kalau meminta sesuatu!
"Haiissh.. dimana ya jatohnya?" ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan kesal.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
Healer (Na Jaemin)
Fiksi PenggemarNalen yang memiliki sikap kepo akut dipertemukan dengan perempuan apatis saat terlambat sekolah. Berawal mengajak kenalan hingga ditolak membuat Nalen sangat penasaran dengan perempuan tersebut. Rasa penasarannya membawanya pada sebuah kisah masa la...