BAB 21

820 48 5
                                        

Aku takut melihat orang yang telah banyak berjuang, kecewa karena ulahku yang kadang tak berpikir sebelum bertindak.

Di dalam kelas, Vano mencoba melakukan apa yang diminta Jessica kepadanya. Sebenarnya ia ragu, karena sudah pasti Reval tidak akan mengizinkan. Namun setidaknya ia mencoba dulu.

Jika kalian bertanya mengapa Vano mau bersusah payah melakukan itu, jawabannya karena Jessica. Jika ia tak menuruti apa yang di minta Jessica, bisa gagal semua usahanya untuk meminta balikan kepada cewek itu.

Sedikit basa-basi akhirnya Vano mengatakan tujuannya.

"Val. Gue boleh pinjem hp lo gak?"

Seperti biasa, Reval hanya membeku di mejanya, tanpa memperdulikan ucapan Vano di sebelahnya.

"Gue mau..."

"Hapus vidio?" Jawaban Reval membuat Vano terbelak kaget, kala cowok itu sudah tau tujuan sebenarnya.

Tak niat menjawab, Vano lebih memilih diam, tersenyum hambar. Kikuk sendiri.

Reval menghentikan kegiatan menggambarnya. Ia memang senang menggambar. Jika di lihat semua hasil tangan cowok itu sangat bagus. Cukup bermodalkan pensil, kertas dan penghapus saja, sebuah karya indah bak karya seniman profesional, sudah jadi.

"Gue tau. Jessica yang minta, kan?" Reval mengemasi alat tulisnya, lalu keluar membawa tasnya kala mendengar bel tanda pulang berbunyi. Ia harus cepat-cepat pulang, kalau tidak, segerombolan REVALLER akan mengganggunya.

Ketika hendak memakai helmnya, seseorang berteriak memanggil namanya. Seorang cewek dengan lengan seragam yang di lipat, baju yang sedikit ketat, dan rok yang di bawah kata wajar itu datang menghampirinya.

Tanpa perlu di beritahu, kalian pasti sudah lebih dulu tau. Ya, siapa lagi kalau bukan Bintang. Entah apa niatnya menemui cowok dingin itu.

Reval memegangi helmnya. Ia memandangi cewek gila yang kira-kira tingginya hanya sebahu darinya itu, berdiri menatap dirinya. Seperti biasa, ia hanya menampilkan wajah datar sedatar-datarnya.

Menatap lekat manik cowok itu, entah kenapa membuat Bintang sedikit deg-degan. Mata indah itu seakan membuai dirinya, hingga lupa tujuan awalnya menemui sang empu.

Reval berdecak ketika ia merasa waktunya hanya terbuang begitu saja oleh cewek yang di depannya.

Tanpa memperdulikan cewek itu, Reval memakai helmnya dan menaiki motor KLX yang terparkir tepat di sebelah mobil Bintang.

"Loh, loh... Reval!" pekik Bintang saat cowok itu telah menjalankan motornya pergi meninggalkan sekolah.

"Ihh... begok, begok! Kenapa cobak gue gak langsung ngomong aja tadi. Hump." Bintang terus saja mendumel sambil melipat tangan di depan dada.

Tiba-tiba saja matanya mengarah kepada jam tangan hitam yang melingkar di tangan kirinya, bersama dengan beberapa gelang yang juga ikut melingkar.

"Astaga, bakalan telat nih. Mama pasti marah." Dengan cepat Bintang membuka pintu mobilnya dan melajukan mobil tersebut meninggalkan area sekolah.

(****)

Bintang memarkirkan mobilnya lalu dengan cepat masu ke dalam rumah. "Maaf, Ma. Bintang lama. Soalnya tadi..."

"Udah, enggak papa. Kita enggak jadi pergi sekarang," ucap Rina sambil fokus pada sebuah kotak yang berisi berbagai macam obat. "Jadwalnya di undur jadi besok sore. Kamu jangan kemana-mana, ya?"

Bintang mengangguk. Ia lalu duduk di sofa, menaruh tasnya di sembarang tempat.

Rina lalu datang mendekatinya dengan membawa segelas air minum dan sebuah obat.

Bintang (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang