Cantik sekali mereka yang kini ada dihadapanku. Segar rupanya, mencolok warna dan berbagai macamnya. Merah, putih, pink, kuning, hijau bahkan biru pun ada.
"Tulipnya gaada yg mekar pol ya pak?" Tanyaku kepada bapak penjual.
"Gaada neng. Itu aja, besok juga mekar neng. Jadi kan lumayan lebih awet", pandai-pandai lah si bapak mengeles dengan alasan "ya namanya juga orang jualan".
"Kalo mawar nya berapaan nih pak?" Tanyaku lagi.
"Semua nya sepuluh ribuan neng", jawab bapak.
"Kalau mawar enam ditambah ini jadi enam puluh ribu aja boleh ga pak?" Kali ini aku yang beralasan "ya namanya pembeli, usaha nawar laah".
"Tujuh puluh neng itumah. Itu yang neng pegang kan sepuluh ribu juga", kata bapak sembari menunjuk seikat bunga berwarna putih di tanganku. Aku tak tahu bunga apa yang kuambil. Aku mengambilnya karna ia lucu dalam kerumunan dan berdesakan karena sudah merekah.
"Kalau mau tujuh puluh, tambahin daun pandan deh pak, seikeeettt aja, ya ya ya? Boleh ya?" Tawarku tak mau rugi. Pertarungan tawar menawar itu belum reda sampai akhirnya seseorang menginterupsi dari belakangku.
"Suka bunga mba?" Tanya nya, suara lelaki. Saat aku menoleh ke sumber suara, aku melihat lelaki muda, tapi sepertinya lebih tua sedikit daripada aku. Ia lebih tinggi daripada aku, berkulit sawo matang, berwajah tirus tegas, menggunakan jaket hijau lumut, jeans hitam, sandal slop hitam dan earphone yang juga berwarna hitam menggantung di sebelah telinga nya.
"Enggak, buat tugas sekolah", jawabku singkat.
"Terus?" Tanyanya.
"Paakk... Boleh gaa?" Ku abaikan dia lalu kembali ke bapak penjual.
"Tujuh puluh aja neng gapake pandan", jawab si bapak.
"Emang pandan nya seiket berapa pak?" Tanyaku ingin menyerah.
"Dua ribu", jawab si bapak sembari tersenyum.
"Astagfirullah, si bapak ih diskon dua ribu aja ga ikhlas. Yaudah tujuh dua deh pake pandan", aku menyerah agar urusan ini cepat selesai karena kulit ku sudah tak tahan terbakar matahari.
"Hehe... abis nanti bapak ga dapet untung neng. Untung bapak udah tipis itu", jelasnya.
"Yaudah nih aku ambil yang seiket ini, mawar merah 5, mawar putih 1. Eehh sama pandan nya jangan lupa diambilin ya pak'e", jelasku.
"Nyampe rumah taro kulkas ya neng biar ga layu, soalnya ini panas banget", pesan bapak sembari membungkus pesananku.
"Atau taro di wadah isi air juga gapapa", lelaki tadi yang kini berdiri disebelahku mulai menimbrung.
"Busuk ga tuh mas batangnya?" Tanyaku spontan.
"Enggak. Eiya air nya air anget, 1/2 wadah, bersihin daun-daun dibawah batang jangan sampe tuh daun kena air, terus jangan sampe wadah nya penuh sesak. Maksudnya biar tuh bunga dapet udara yg bagus, klo wadah nya penuh nanti sirkulasi udara nya jelek", jelas lelaki yang kupanggil mas tadi. Kudengarkan baik-baik penjelasannya, kupercayai begitu saja, kuhapalkan, lalu ku ucapkan terimakasih.
"Nih pak uang nya", kuberikan uang 100.000 ku ke si bapak saat ia sudah selesai membungkus seluruh pesananku dengan kertas koran.
"Itu nanti cepet-cepet dibuka ya kertas nya. Eh gue boleh liat hasil karangan lu kalo udah jadi?" Lelaki itu mulai lagi.
"Buat?" Tanyaku agak sinis ditambah heran. Heran kenapa ia santai saja menimbrungi masalah orang yang baru ia temui beberapa menit yang lalu.
"Biar gue bisa liat karangan lu bagus atau enggak. Kalau enggak bagus yaudah. Gue maksa nih minta nomer lu", katanya.
"Kasih aja neeng. Dia baik kok, dia langganan bapak juga, dia itu florist, siapa tau kamu bisa direkrut jadi anak didiknya nanti. Iya gak mas ga?" Jelas si bapak memberikan kembalian 28.000 kepadaku.
"Gue kasih tau cara treatment deh biar besok bunga lu ga rusak", tawarnya.
"Yaudah sini hp nya", aku menyerah. Lagipula, nantinya aku tinggal ganti nomor kalau dia menyebalkan.
Setelah kuterima kembalian dan bungaku, setelah aku bertukar nomor dengan lelaki yang ternyata bernama Raga itu, aku segera pulang. Sesampainya dirumah, kusiapkan ember sedang, ku isi air, lalu kubuka kertas koran yang membungkus bunga dan daun ku, ku bersihkan dan kurendam bunga ku didalam ember berisi air tadi. Daun pandan nya? Ia hanya kucuci, ku keringkan, kutempatkan dalam plastik lalu kugeletakkan ia didalam kulkas. Kubiarkan mereka seperi itu hingga tengah malam.

YOU ARE READING
Bung... Ga
RandomHera yang hanya berfokus pada tugas nya mencari bunga demi bahan mengerjakan tugas sekolah, tiba-tiba bertemu dengan lelaki bernama Raga. Namun jangan harap kisah mereka akan menyenangkan. Kenapa?