Follow dan vote sebelum membaca, gratis kok;)
Happy Reading 💜
Pagi-pagi sekali gadis cantik itu sudah siap dengan ripped jeans dan kaus berwarna putih dengan sneakers putih polos yang membalut kaki mungilnya.
Hari ini ia akan berbelanja untuk persiapannya memasuki sekolah baru, bukan sekolah baru sebenarnya, ini masih sekolah yang sama, hanya saja ia baru lulus dan besok memulai lagi sekolahnya dengan menyandang gelar baru. SMA, mulai besok ia akan berstatus sebagai siswi SMA.
Mungkin itu hal biasa untuk gadis lain, tapi tidak untuk Aily. Dia begitu bersemangat hingga selalu memandangi seragam SMA-nya semalam penuh, ia akan berhenti jika sudah tertidur dengan sendirinya.
Aneh memang, tapi itulah Aily, gadis cantik dengan semua keanehan dan keunikannya, serta kepolosan yang hampir merembet ke bego.
"Aily sudah siap?" tanya Mama-nya saat Aily sudah menapakkan kaki pada anak tangga terakhir.
"Iya, tinggal menunggu-,"
"Nah, itu Gavin sudah datang. Aily berangkat ya." Kalimatnya berubah setelah melihat pemuda bernama Gavin itu tersenyum ke arahnya sembari berjalan masuk dan menyapa Emma, sebelum akhirnya pamit dan mereka pergi setelah mendapat izin.
"Gavin, Aily mau beli pensil sama pulpen yang banyak, yang lucu-lucu juga. Oh iya, bukunya juga harus gambar princess Elsa atau Ana. Terus penghapus se-dus, penggaris dan ya tempat pensilnya juga harus beli, yang lucu."
Aily terus mengoceh, membuat daftar apa saja yang harus dibeli, bagaimana gambarnya, warna atau apapun itu yang membuat telinga Gavin panas mendengarnya.
Apalah daya, Gavin hanya bisa mengiyakan saja. Jika keinginan gadis itu dibantah maka akan terjadi perang dunia ketiga. Keinginan Aily itu mutlak.
Selama perjalanan ke toko buku diisi ocehan Aily yang tiada henti menemani. Jangan tanya bagaimana perasaan pemuda itu, ia sungguh kesal bukan main.
Namun kembali ke titik awal jika Aily tidak bisa dibantah atau dibentak. Bisa-bisa dia yang kena semprot orang tua Aily nanti.
"Turun," ucap Gavin dingin hentikan ocehan Aily, pun Aily mengiyakan lantas turun dan langsung berlari masuk kedalam toko meski mendengar Gavin menyuruhnya berhenti.
Ia tak peduli soal itu sekarang, yang penting barang impiannya akan segera ada ditangan.
"Gavin udah bilang tungguin, jangan lari-lari ntar jatuh siapa yang disalahin? Ikut Gavin, jangan pergi sendiri!" Gavin menggapai tangan Aily untuk ia genggam.
"Ck, Gavin marah-marah mulu. " Gadis itu merungut kesal.
"Gavin beli ini ya, ini lucu. "
Sempat ingin menolak karena Aily menunjuk buku dengan gambar dua orang puteri dengan tulisan 'Frozen', Gavin tahu itu buku untuk anak kecil.
Namun karena tak tega melihat wajah memelas Aily, Gavin pun mengangguk mengiyakan. Tak apa, hanya satu saja tak masalah, pikirnya.
"Hanya satu," jawab Gavin, membuat senyum yang semula mengembang kini luntur kembali dari ranum gadis itu.
"Ck, baiklah satu pack saja. Tapi janji, yang lain Gavin yang urus. "
"Yeay, iya janji, terimakasih!" Sorak gadis itu senang.
Mereka terus menyusuri rak-rak perlengkapan sekolah lainnya, Aily bersenandung senang sembari memilih pensil dan alat lainnya. Sontak menciptakan seulas senyum dibibir Gavin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Polos [End]
Teen Fiction[DREAME] REVISI DAN VERSI TERBARU! "Jangan ngambek, ntar Gavin beliin silverqueen yang banyak." "Berapa kali Gavin bilang, jangan temenan sama dia, dia tu nggak baik! Aily ngerti nggak sih?!" "Jauhin dia, atau kamu tahu seperti apa saat Gavin marah...
![Polos [End]](https://img.wattpad.com/cover/232405141-64-k946936.jpg)