Sepi mana lagi yang harus ku jejaki, sementara kaki telah merapal ribuan jejak yang tertinggal tanpa mimpi. Sekoyak inikah berteman sunyi? Setelah satu dua tiga dan angka selanjutnya, berpamit menggenapi patah hati.
Aku telah lari,
Namun kaki ku membawa raga ke tempat semula aku berdiri.
Dan aku berhenti, malah otak yang asyik bercanda dengan memori.
Sial sekali.
Haruskah merundung seorang diri? Meneriakkan luka di tengah belantara duri?
Baiklah, diri.
Kuatlah bersama ribuan hujan yang menderas di pipi.
