[ SUDAH TERBIT, DAPATKAN DI TOKO BUKU ONLINE ]
#ProjectCelebrity-02
Savanna tiba-tiba saja mendapat sebuah DM instagram dari Romeo Aldrian, seorang aktor sekaligus model terkenal yang tengah digandrungi saat ini.
Awalnya Savanna kira jika instagram...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sebenarnya kamu ini kenapa? Kamu lagi berantem sama Romeo?"
Savanna terdiam sesaat sambil menatap mamanya. Ia memang belum menceritakan apa pun perihal masalahnya dengan Romeo kepada Farhana. Savanna hanya tidak ingin Farhana merasa khawatir kepadanya dan ikut kecewa kepada Romeo.
"Emm." Savanna mengangguk singkat sambil tersenyum kecil. "Mama nggak perlu khawatir. Sava nggak apa-apa, kok."
"Kemarin sore Mama kayak lihat mobil Romeo, tapi Mama nggak yakin soalnya parkirnya agak jauh. Pas Mama mau samperin, eh mobilnya pergi."
Gadis itu menghela napas panjang. Tidak mungkin juga itu mobil Romeo. Untuk apa dia datang? Karena merasa menyesal? Tidak mungkin.
Jika Romeo merasa menyesal, seharusnya ketika ia pergi malam itu, Romeo langsung mengejarnya dan meminta maaf padanya. Namun apa kenyataannya? Bahkan untuk mengirim pesan pun tidak ada sampai saat itu.
Savanna harus berharap jika Romeo menyesal? Rasanya mustahil.
"Sava pergi dulu ya," ucap Savanna.
"Wawancara itu?"
Gadis itu mengangguk. Semalam ia mendapat undangan wawancara dari Spears Magazine. Lagi-lagi itu mengingatkannya pada Romeo karena lelaki itulah yang membantunya untuk melamar di perusahaan itu.
"Ya sudah. Hati-hati, ya? Kalo udah selesai langsung pulang aja."
Savanna mengangguk lagi lalu berpamitan. Sebenarnya ia tidak ingin pergi, namun ia membutuhkan pekerjaan ini jadi mau tidak mau Savanna harus datang.
Sekitar empat puluh lima menit ia sampai di kantor Spears Magazine Indonesia. Lobby kantor terlihat ramai oleh para pegawai yang baru saja datang.
"Mbak Savanna?"
Seorang wanita dewasa menghampirinya. Savanna mengangguk pelan. "Iya, saya."
"Wawancara hari ini ya? Mari ikut saya."
"Oh?" Savanna mengerjap pelan lalu mengikuti langkah wanita itu. "Sudah banyak yang datang untuk wawancara ya, Mbak?" tanyanya.
"Oh nggak, cuma Mbak Savanna aja," ucap wanita itu.
"Lho? Cuma saya aja?"
Wanita itu mengangguk. "Iya. Di sini memang gitu, Mbak, yang dapat undangan tes atau wawancara paling cuma satu atau dua perharinya, ya paling banyak tiga."
Savanna mengangguk pelan. Ia baru tau jika sistemnya di perusahaan ini memang seperti itu.
Wanita itu mengantarkannya ke sebuah ruangan. Katanya ini ruangan direktur. Savanna sedikit terkejut karena ia langsung bertemu dengan direkturnya. Savanna kira ia akan bertemu dengan HRD atau manager saja.
Kurang lebih sekitar setengah jam ia di wawancara oleh direktur itu. Pertanyaan-pertanyaan seputar design dan latar belakang. Setelahnya Savanna diperbolehkan pulang dan disuruh menunggu lagi untuk hasil keputusan diterima atau tidaknya ia nanti.