Rumah adalah tempat singgah ketika raga dan batin sudah merasa letih, bukan? Sejauh apapun kaki melangkah dan senyaman apapun kita menemukan penggantinya lalu meninggalkan rumah, pada akhirnya tak ada yang dapat menghentikan kita untuk kembali lagi.
Tapi, bagaimana jika sang rumah mulai merindu namun si pemilik tak kunjung kembali dan hanya menyisakan kekosongan? Akankah selamanya rumah akan menanti pemiliknya datang kembali?
ㅡHOMEㅡ
“Miyu.”
Satu suara berhasil mengembalikan atensi seorang gadis yang sejak tadi hanya duduk melamun tanpa melakukan kegiatan lain. Satu senyuman tipis tercetak diwajahnya, menyambut seseorang yang kini mengambil tempat kosong disampingnya dan mulai menatapnya lekat, tentu dengan senyum balasan.
“Jaehyun, tumben jam segini udah selesai kelas,” ucap gadis itu yang kini kembali menengadahkan kepalanya, menatap sinar mentari yang kian menghangat.
Lelaki bernama Jaehyun masih sama, menatap gadis itu dari samping. “Gue enggak ada kelas pagi, Lo sendiri ngapain disini?”
“Semedi, siapa tau gue dapat wangsit buat ujian akhir nanti.” Satu kekehan lolos dari bibir Miyu disambung dengan senyum manis Jaehyun, lengkap dengan lesung pipit yang menghiasi kedua pipi putihnya.
“Bukan karena masih inget Taeyong, ‘kan?” tanya Jaehyun yang berhasil membuat Miyu diam tak berkutik.
Taeyong, nama yang memiliki artian khusus bagi Miyu beberapa tahun belakangan ini. Nama dari seorang lelaki yang berhasil menawan hatinya dan menjerat dirinya hingga terjerembab begitu dalam dilubang yang dibuat lelaki itu. Malang baginya, ia tak menemukan jalan untuk keluar dari lubang itu, berakhir dengan hatinya yang terus merindu akan sosok lelaki dengan nama Taeyong yang sekarang entah berada dimana.
Lelaki itu pergi, bersama kepingan hatinya serta menorehkan luka begitu dalam.
Satu kesalahan terfatal Miyu adalah ia yang baru menyadari perasaannya ketika Taeyong sudah pergi, entah untuk berapa lama ia akan kembali lagi. Cinta datang terlambat memang benar adanya, hal itu nyata dan bukan fiksi belaka.
Miyu mencoba tersenyum kearah Jaehyun seraya menata ulang hatinya yang masih acap kali berantakan mendengar nama itu disebut.
“Gue lagi cari angin doang, Jeff.” Miyu tersenyum, Jaehyun—pria yang acap kali dipanggil Jeff—tau jika itu hanyalah topeng dari gadis itu. “Bohong, lo pembohong terpayah yang pernah gue temui, Miyu.”
Kini satu kekehan kembali lolos dari bibir Miyu, bahkan gadis itu tersenyum tulus kearah Jefrrey, berusaha meyakinkan sahabat lelakinya itu. “Beneran, gue lagi cari angin, tiga sks didalam kelas bikin sumpek juga.”
Jaehyun menaikkan satu alisnya, menatap Miyu penuh curiga. “Beneran?” tanya Jaehyun yang dibalas dengan anggukan kepala gadis itu. “Beneran, Keanu Jaehyun Dirgantara.”
Helaan nafas berat keluar dari mulut Jaehyun bersamaan dengan usapan lembut dikepala gadis yang kini terdiam mendengar ucapannya. “Berhenti buat memikirkan Taeyong yang hilang, ada begitu banyak lelaki disini. Lo enggak bisa stuck ke satu orang yang nafasnya aja enggak kita ketahui dimana. Gue pergi dulu, ada kelas siang.”
“Makasih, Jeff.” Satu ulasan senyum tipis kembali muncul, kali ini bebarengan dengan desahan nafas berat.
Sebenarnya lelaki itu benar, tak seharusnya Miyu menghabiskan waktunya untuk mengkhawatirkan Taeyong yang bahkan tak pernah memberinya kabar sejak saat dimana sahabat kecilnya itu pergi. Tapi hatinya berkata jika Taeyong akan kembali, lelaki itu pasti akan kembali lagi padanya dan Miyu percaya itu.
