Sekejap saja

Sekejap saja

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureComplete Sun, Feb 18, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
Penulis : Yolla Pradilla Senyummu jelas terbayang dalam mataku, hatiku, dan pikiranku Tak banyak kata yang berucap dari mulutmu hanya melihat adanya kamu di sini adalah bukti kau telah masuk ke dalam semestaku Bersedia menyediakan sandaran untukku rebahkan apa yang ada di dalam hati ini, kau pun tersenyum manis. Ternyata aku lupa bahwa banyak orang yang menyaksikan kita berdua kala itu yang sedang duduk menggenggam tiket menunggu pintu teater bioskop terbuka. Hiraukan saja bisik dalam hatiku yang terus menerus menyimakmu bercerita tentang pengalaman yang sudah lampau. Terkagum kagum bahwa yang aku tahu kau orang yang sangat berani, kuat, tegar, padahal ia seusiaku namun sudah banyak yang ia lalui. Jika boleh aku ingin terus disampingmu menemanimu yang sedikit keras kepala. Hari sudah mulai senja juga melihat matamu sayu kelelahan sudah menemaniku seharian rasanya tanganku yang erat tak mau melepaskan tanganmu. Sudahlah kau jadi milikku saja ya? hehe Esok harinya aku menunggu sapaan darimu di "WhatsApp" Namun ada yang janggal dalam benaku, kau menyuruhku untuk menjauhimu. Kebenarannya adalah masalalu masih bersama mengikat merantaimu lalu bisa apa diriku? dengan wajah kebingungan aku harus ikhlas dan mengerti. Jangan salahkan dirimu, kamu baik sudah mengenalkanku dengan sebuah arti dan rasa nyaman, akunya saja terlalu jauh untuk mendeskripsikannya Terlalu jauh untuk menjadi realita Terlalu cepat untuk tumbuh Dan terlalu tak pantas untuk bersama Namun jika suatu saat mencari, aku ada disini Jika suatu saat kau tanyakan aku masih dan tetap seperti ini.. Benar kata bung Fiersa : Ketika kesetiaan menjadi barang mahal Ketika kata maaf terlalu sulit untuk diucap Ego siapa yg sedang kita beri makan? Entah aku marah bukan berarti tak peduli Aku diam bukan berarti tak memerhatikan Dan aku hilang bukan berarti tak ingin dicari Kau yang terbaik, juga terburuk Kau yang mengajari arti patah hati Kau beri harap lalu kau pergi
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Mahligai Sunyi
  • BACKWARDS (spartace ff)
  • Remember Me As A Time of Day✅
  • Sacrifice ( Lengkap  )
  • 𝐓𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐓𝐞𝐦𝐮 || 𝐎𝐧 𝐆𝐨𝐢𝐧𝐠
  • Why Do You Love Me [COMPLETED]
  • DENTING  [Revisi]
  • Misunderstand

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines