maurinfat

Hai, kak DEBBY. Aku melihatmu sangat menikmati baca PENABUR MALAM. Selera membaca kita sama, ya. Aku juga suka banget atmosfer di cerita itu. Penulisnya cukup baik dalam mengemas cerita dengan gaya menulisnya yang mengalir.
          	
          Karena sepertinya kita suka GAYA TULISAN yang mirip, aku baru saja meliris cerita tentang horor sekte, romance, supranatural, dan sedikit lebih faktual dengan merambah historical  kolonial berjudul KABAR DUKA. Aku telah menulisnya dengan riset yang matang. Membayangkannya sampai difilmkan, kurasa sangat menarik. Mampirlah, kak. Mungkin cerita ini akan menghiburmu. Salam kenal dariku... Jangan takut dengan horor. Horor ini sama sekali berbeda. 
          

aayidan_

Excuse me, maaf mengganggu jika ada waktu mampir yuk ! Siapa tau suka:) Thank you!
          
          •
          
          Mata Mard perlahan kembali terbuka, napasnya masih tak teratur, kerongkongannya terasa benar-benar kering. Seakan dirinya kini berada di gurun sahara, tapi sepertinya keadaan yang menghampirinya lebih berbahaya dengan gurun sahara.
          
          Dea berdiri di hadapannya, kemudian berjongkok menatap Mard yang kini sangat tak berdaya. "Ternyata alasannya memang seperti itu ya?" tanya Dea kemudian ia melambai-lambaikan buku milik Mard yang ada di tangannya di hadapan wajah Mard.
          
          Menelan ludahnya saja kini ia tak bisa, yang ada hanya rasa asin dari darah yang keluar dari bibirnya yang lebam karena bibirnya robek. "A–aku hanya i–ingin kau men–jadi pene–rus ku–hoeek!" Dea tersenyum getir saat mendengar perkataan yang keluar dari mulut Mard.
          
          "Lalu kenapa kau begitu brengsek? Membuat kehadiran ku seakan tak pernah di inginkan." Fio menanti jawaban dari mulut Mard yang kini terus mengeluarkan darah segar, seluruh tubuhnya telah memucat. 
          
          "Aku me–mang me–nginginkan mu, bu–kan E–ric." 
          
          BHUG! 
          
          "NGOMONG SEKALI LAGI BRENGSEK!"  Pemuda itu ternyata di sini, menatap nyalang Mard. Tangannya terulur meraih kerah Mard yang telah robek, memperlihatkan dada bidangnya yang memar karena tendangan Berthon.
          
          "JANGAN BILANG NYOKAP GUE MATI KARENA LO JUGA?!" Mard mengangguk pelan, mau berbohong kini juga tidak ada gunanya. Biarkan putra tak di inginkan itu mengetahuinya dari dirinya, dari pada dari Bella. 
          
          "LO EMANG BRENGSEK!" 
          
          •
          
          
          https://www.wattpad.com/story/251846710?utm_medium=link&utm_content=story_info&utm_source=android