Untuk kamu, yang pernah jadi rumah paling hangat dalam hidupku,
Aku nggak tau harus mulai dari mana, karena setiap kali inget kamu, rasanya kayak semua kata lumpuh. Tapi malam ini, aku cuma pengen jujur... ke kamu, ke hatiku sendiri, dan ke semua perasaan yang masih diam-diam tinggal.
Sudah empat tahun sejak kita jalan masing-masing. Waktu terus jalan, hidup terus berputar... dan aku kira, aku udah baik-baik aja. Tapi nyatanya, kadang aku masih nyari kamu di lagu-lagu yang pernah kita denger bareng, di momen-momen kecil yang dulu kita lewati, bahkan di versi diriku yang paling tenang... aku masih nyebut nama kamu dalam diam.
Aku kangen—bukan cuma kamu, tapi caramu sayangin aku bahkan di saat aku paling susah dicintai. Aku kangen gimana kamu masih peluk aku meski aku nyakitin kamu dengan marah-marahku, egoku, dan sikapku yang mungkin terlalu keras waktu itu.
Dan itu yang paling nyakitin. Karena aku sadar... aku mungkin pernah jadi alasan kamu terluka. Mungkin aku terlalu takut, terlalu bingung, atau terlalu belum siap. Aku pikir melepaskanmu adalah jalan terbaik—buat kamu, supaya kamu bisa nemuin kebahagiaan yang nggak penuh luka. Tapi setelah semua waktu ini, aku terus nanya ke diri sendiri:
“Keputusan itu salah nggak, ya?”