Otot Kuli Galon Kamar 204
CUPLIKAN
...
Aroma mentol menguap pekat di kamar pengap, bersatu agresif dengan bau keringat jantan Deden yang menguar dari pori-pori kulit sawo matangnya. Sang kuli galon telentang pasrah, mencengkeram sprei kasur lantai dengan kedua tangan besarnya hingga buku jarinya memutih.
Otot dada pektoral dan perut six-pack asimetrisnya mengilat basah di bawah temaram lampu meja. Dua puting gelap di dadanya yang bidang menegang sempurna, berkedut sensitif setiap kali hembusan angin suam-suam kuku dari kipas rusak menerpanya.
"Mas Deden... kenceng banget badannya," bisik Henra rendah. Napas hangat mahasiswa itu menerpa wajah Deden.
Tanpa jeda, telapak tangan Henra yang licin oleh minyak merayap naik, meremas kuat otot dada kekar Deden dari samping, lalu memilin kedua puting kuli itu dengan tekanan memutar yang kasar sekaligus terukur.
"Enggghhh… arrgghhh!"
Erangan berat dan serak meledak memecah kesunyian. Deden melengkungkan punggung tebalnya, urat lehernya menonjol tegang akibat sengatan elektrik yang menghantam perut bawahnya. Ego maskulin jalanannya runtuh total.
Henra menyusupkan tangan lebih jauh, masuk ke sela ketiak lebat Deden yang basah kuyup oleh peluh. Ujung jarinya menekan saraf sensitif di lipatan ketiak itu, menggoresnya perlahan, membiarkan feromon alami Deden memenuhi ruangan.
"Bangsat... geli, Hen... ahh, udah... nghh..." Deden meracau dengan mata terpejam rapat. Seluruh tubuh raksasanya bergetar hebat. Kejantannya yang menegang beringas di balik sempak abu-abu katun yang lembap membuktikan satu hal: si raksasa pangkalan ini telah sepenuhnya tunduk menjadi muscle bottom di kamar 204.
Selengkapnya bisa dibaca di:
karyakarsa. com/ kanganndrew
karyakarsa. com / newann74
lynk. id / kanganndrew/page/cerita-pdf-klik-ini