toxicdlamps
Kiwww
Lunneva
Aku lupa alur Smeraldo, gk lupa sih tapi lupa poin mendalam yg mungkin dibutuhkan buat bab-bab berikutnya, jadi beri aku waktu satu bulan puasa ini buat baca ulang sambil revisi, abis itu aku berusaha fokus ke Smeraldo, insyaallah ya hati manusia mudah dibolak-balik. Terima kasih.
Lunneva
Makin ke sini, makin gak ada ide yg benar² original ya...
Ilmu pun, mau Agama, Seni, Matematika, apalagi Psikologi, gak ada yg baru, intinya masih sama dari dulu, yang baru cuma manusianya, manusia yg gak pernah berhenti cari makna, yg selalu haus arti. Makanya psikologi selalu relevan.
Kadang tinggal gimana kita mengolahnya, jelasin dari sudut pandang apa, dan membedah sedalam apa.
Maaf jika ada salah.
Lunneva
Aku udh lama menarik salah satu ceritaku, tapi hari ini rasanya pengen ngasih tau aja klo aku udh narik ceritaku yg judulnya Trapped Ego atau Egodystonia karena sensitif. Suatu hari mungkin aku bakal bikin cerita alur dan konflik yg sama seperti Trapped tapi yg lebih masuk akal, rapi, dan tidak glorifikasi. Terima kasih.
Lunneva
Sebenarnya bukan hal baru lagi ini, tapi gue jadi nangisin fakta ini abis baca manga Tomodachi Game.
Yg gue tangkep gak cuma soal "teman atau uang" tapi juga privilese.
Kan manusia wajib punya moral, tapi gak semua manusia punya modal yang sama buat mencapai moral.
Makanya orang yang cenderung tumbuh di tempat nyaman lebih gampang jadi orang baik, dia masih bisa memilih dan paham soal keadilan.
Ada juga orang yang susah payah bertahan cuma supaya gak jadi orang jahat.
Moral penting, tapi dia gak murni muncul di hati manusia, biasanya dipengaruhi didikkan dan lingkungan dari kecil. Yang minim trauma bisa paham moral dengan kondisi kenyang dan penuh kasih.
Dan ada juga yang belajar moral pas lagi berjuang dengan trauma dan krisis identitas. Mereka jdi dilema, mau keadilan atau tetap jadi orang bener, soalnya dua-duanya tetap mengikis mental.
Tapi penderitaan dan trauma tetap gak bisa jadi alasan orang jadi jahat, nyatanya dunia gak lihat dari alasan dan trauma, sebab trauma gak bisa menyucikan hukum, salah tetap salah. Yg penting gmna cara kita bertanggung jawab ke diri sndri dan empati ke sesama.
Maaf jika ada kesalahan kata.
Lunneva
Survival instinct, tempramen, rasa ingin tau, impulsif, dan belajar, itu sifat bawaan manusia.
Sabar, bijak, dewasa, itu sifat yang dikembangkan dan dipelajari setiap hari.
Lunneva
Akane Tsunemori rasanya jdi relevan skrng apalagi di era AI makin masif gni. Banyak yg nyalahin AI, pengen AI hilang, pdhl gk segampang itu, AI udh mulai dipikirkan dri 1950, masalahnya dlu data internet gak sebanyak skrng, Internet gak secepat skrng, jdi AI blum ada wadah buat belajar dan membaca, skrng AI makin pinter krna manusia sndri tanpa sadar ngasih data, dri dlu AI udh dipake di bnyk apk misal buat algoritma, tpi yg bahaya skrng AI bisa jdi chat, foto, video, suara. Bisa jadi fitnah manipulasi, malas, pendusta, pdhl semua sifat dan masalah itu udh ada dri dlu, itu sifat gelap manusia, dan AI makin memperjelas sifat manusia itu, tapi manusia lagi² nyalahin alatnya, krna mrka takut nyalahin diri sndri. Gue pengen deh ada peraturan jelas dan hukum yg jika ada yg menyalahgunakan bnr² kena denda, dan apk generatif makin selektif dan membatasi yg vulgar, walau sulit krna AI gk bisa baca niat. Solusinya edukasi AI, bukan menyerahkan otak ke AI atau menghapus AI, pilih cara seperti Akane, yaitu jalan tengah, memperbaiki dri dalam, pelan², sulit, tpi gak mustahil.
Maaf jika ada kesalahan kata.
base_ion
Bro, kek nya notif sekarang emang baru masuk nya satu hari setelahnya ya?
Lunneva
Menuntut seseorang atau idol selalu sempurna dan menjadikan mereka proyeksi moral itu salah satu dehumanisasi, bentuk dehumanisasi halus tapi nyata.
Padahal idol itu ada untuk menghibur, membagi karya, nunjukkin seni, tapi kenapa ya makin ke sini makin kehilangan esensi? Yang kecewa sebenarnya kecewa karena harapan mereka retak, bukan idolnya. Padahal gak ada manusia yg bnr² baik dan jahat.
Daripada nunggu moral ideal dari orang lain apalagi orang asing, kenapa gak fokus memperbaiki moral diri sendiri aja ya? Gak harus sempurna, tapi selalu ada kesadaran untuk belajar lagi dan lagi.
"Mereka idol, wajar aja digituan." Bener juga sih, tapi siapa sih yang memilih profesi untuk nerima ditekan orang-orang?
Tapi iya, hujatan ke publik figur itu emang gak bisa dihindari, tapi setidaknya diri sendiri gak ikutan, hiduplah dengan kesadaran dan empati. Kemanusiaan itu ada di mana-mana.
Tapi kadang gue mikir, apakah kemanusiaan gak bisa benar-benar adil, sebab selalu ada kemanusiaan yang dikorbankan untuk kemanusiaan lain. Itu sebabnya kemanusiaan itu rumit tapi tetap penting dijaga.
Maaf jika ada kesalahan kata.