Lunneva

Demi membela keadilan hari ini apa harus menutupi fakta ketidakadilan di masa lalu?
          	
          	Jawabannya tidak, tapi manusia² yg nyaring di sosmed punya jawaban lain....

Lunneva

Kita seharusnya tidak selektif soal kemanusiaan, meski kita hanya manusia yang punya batasan. Kita sering kali hanya mampu memberi perhatian pada hal yang paling dekat dengan diri kita atau yang paling sering muncul di hadapan kita. Media juga bisa membuat kita tanpa sadar menjadi bias.
          
          Tapi kemanusiaan tetaplah kemanusiaan, terlepas dari agama, negara, budaya, atau identitas apa pun. Yang terluka tetap manusia, semuanya perlu disorot.
          
          Palestina
          Papua
          Sudan
          Yaman
          Republik Demokratik Kongo
          Myanmar
          Haiti
          Somalia
          Afganistan
          
          Dan mungkin masih banyak krisis kemanusiaan lain yang luput dari perhatian kita karena kita memang tidak mampu mengamati semuanya sekaligus.
          
          Kadang kita terlalu sibuk melihat nama negara, sampai lupa bahwa kemanusiaan adalah hak setiap manusia, bukan sekadar label kewarganegaraan. Di balik konflik dan kebijakan, ada banyak warga sipil yang tidak memiliki kuasa untuk menentukan arah negaranya, tetapi tetap harus menanggung akibatnya.
          
          Ini bukan tentang siapa yang paling menderita, bukan pula siapa yang paling layak diperhatikan.
          
          Kita tidak punya kontrol penuh atas dunia. Tetapi kita masih bisa memilih untuk tetap peduli kemanusiaan tanpa menyepelekan kemanusiaan di tempat lain, dan menjaga empati tanpa MERASA PALING BENAR.

Lunneva

Aku lupa alur Smeraldo, gk lupa sih tapi lupa poin mendalam yg mungkin dibutuhkan buat bab-bab berikutnya, jadi beri aku waktu satu bulan puasa ini buat baca ulang sambil revisi, abis itu aku berusaha fokus ke Smeraldo, insyaallah ya hati manusia mudah dibolak-balik. Terima kasih. 

Lunneva

@ ElisOingUing25  makasih, ditunggu ya
Reply

Lunneva

@ menkkiko  makasih ya bun
Reply

ElisOingUing25

@ Lunneva  saya menunggu
Reply

Lunneva

Makin ke sini, makin gak ada ide yg benar² original ya...
          
          Ilmu pun, mau Agama, Seni, Matematika, apalagi Psikologi, gak ada yg baru, intinya masih sama dari dulu, yang baru cuma manusianya, manusia yg gak pernah berhenti cari makna, yg selalu haus arti. Makanya psikologi selalu relevan.
          
          Kadang tinggal gimana kita mengolahnya, jelasin dari sudut pandang apa, dan membedah sedalam apa.
          
          Maaf jika ada salah.

Lunneva

@ menkkiko  iya walau masih syng sma user lama
Reply

menkkiko

@ Lunneva  kamu ganti nama akun ya Lu....?
Reply

Lunneva

Aku udh lama menarik salah satu ceritaku, tapi hari ini rasanya pengen ngasih tau aja klo aku udh narik ceritaku yg judulnya Trapped Ego atau Egodystonia karena sensitif. Suatu hari mungkin aku bakal bikin cerita alur dan konflik yg sama seperti Trapped tapi yg lebih masuk akal, rapi, dan tidak glorifikasi. Terima kasih.

Lunneva

Sebenarnya bukan hal baru lagi ini, tapi gue jadi nangisin fakta ini abis baca manga Tomodachi Game.
          
          Yg gue tangkep gak cuma soal "teman atau uang" tapi juga privilese.
          
          Kan manusia wajib punya moral, tapi gak semua manusia punya modal yang sama buat mencapai moral.
          
          Makanya orang yang cenderung tumbuh di tempat nyaman lebih gampang jadi orang baik, dia masih bisa memilih dan paham soal keadilan.
          Ada juga orang yang susah payah bertahan cuma supaya gak jadi orang jahat.
          
          Moral penting, tapi dia gak murni muncul di hati manusia, biasanya dipengaruhi didikkan dan lingkungan dari kecil. Yang minim trauma bisa paham moral dengan kondisi kenyang dan penuh kasih.
          Dan ada juga yang belajar moral pas lagi berjuang dengan trauma dan krisis identitas. Mereka jdi dilema, mau keadilan atau tetap jadi orang bener, soalnya dua-duanya tetap mengikis mental.
          
          Tapi penderitaan dan trauma tetap gak bisa jadi alasan orang jadi jahat, nyatanya dunia gak lihat dari alasan dan trauma, sebab trauma gak bisa menyucikan hukum, salah tetap salah. Yg penting gmna cara kita bertanggung jawab ke diri sndri dan empati ke sesama.
          
          Maaf jika ada kesalahan kata.