NJAEYUN

"Orang tua tidak berhenti mencintai anaknya. Mereka hanya, kadang tidak tahu bagaimana membagi rasa itu dengan adil."
          	
          	Min-ji mengerjap pelan.
          	
          	"Perasaanmu tidak salah," lanjut Jake. "Marah, cemburu, kecewa itu wajar. Tapi itu tidak membuat mereka jahat. Dan tidak membuat kamu jadi anak yang buruk."
          	
          	Min-ji menunduk. Jemarinya saling bertaut.
          	
          	"Mungkin mereka melihatmu sudah dewasa. Sudah jadi kakak," tambah Jake. "Dan karena itu, mereka mengira kamu kuat. Sampai akhirnya mereka lupa menanyakan apa kamu baik-baik saja."
          	
          	~•~•~•~•~•~•~•~•
          	
          	Story of us, update bab 12 
          	
          	https://www.wattpad.com/story/405701526?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=NJAEYUN

NJAEYUN

"Orang tua tidak berhenti mencintai anaknya. Mereka hanya, kadang tidak tahu bagaimana membagi rasa itu dengan adil."
          
          Min-ji mengerjap pelan.
          
          "Perasaanmu tidak salah," lanjut Jake. "Marah, cemburu, kecewa itu wajar. Tapi itu tidak membuat mereka jahat. Dan tidak membuat kamu jadi anak yang buruk."
          
          Min-ji menunduk. Jemarinya saling bertaut.
          
          "Mungkin mereka melihatmu sudah dewasa. Sudah jadi kakak," tambah Jake. "Dan karena itu, mereka mengira kamu kuat. Sampai akhirnya mereka lupa menanyakan apa kamu baik-baik saja."
          
          ~•~•~•~•~•~•~•~•
          
          Story of us, update bab 12 
          
          https://www.wattpad.com/story/405701526?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=NJAEYUN

NJAEYUN

"Kalau suatu hari kamu capek lagi," katanya pelan, tatapannya lurus, tidak menggurui, tidak mengasihani. "Tidak apa-apa berhenti sebentar. Asal jangan berhenti percaya sama diri sendiri. Dan, kalau butuh seseorang jangan ragu untuk mencari aku."
          
          Min-ji terkejut. Ia menelan ludah. Dadanya terasa hangat dan sesak bersamaan. Dengan pelan ia menjawab. 
          
          "Nee (iya)." 
          
          Jake mengangguk, lalu melangkah mundur. "Aku pergi duluan."
          
          "Terima kasih untuk hari ini, dan sampai jumpa setelah pulang sekolah," ucap Min-ji cepat.
          
          •~•***•~•
          
          https://www.wattpad.com/story/405701526?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=NJAEYUN
          

NJAEYUN

"Apa wajahku terlihat seperti orang yang punya banyak ‘wanita’ di sekelilingnya?” tanyanya setengah bercanda, meski sorot matanya mencoba membaca reaksi Min-ji.
          
          “Ah bukan! Bukan begitu maksudku.” Min-ji buru-buru menggeleng, kedua tangannya melambai kecil di udara, seolah ingin menarik kembali pertanyaannya barusan.
          
          “Aku tidak sesering itu makan di sini. Bisa dibilang jarang.”
          
          Min-ji terdiam sesaat, lalu bahunya sedikit mengendur. “Ah, syukurlah,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
          
          “Hah? Syukurlah?” ulang Jake, keningnya berkerut tipis.
          
          ~~~~ 
          
          Bab 06 Min-ji baru saja update ya teman-teman yang kepo cus link Story Of us 
          
          https://www.wattpad.com/story/405701526?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=NJAEYUN
          

NJAEYUN

Kim Min-ji, pernah hidup dalam dunia yang nyaris sempurna. 
          Sesempurna keindahan pelangi setelah hujan. Namun segalanya berubah sejak kelahiran sang adik. Tanpa peringatan, ia merasa dirinya tersingkir dari tempat yang dulu ia sebut rumah. Senyum yang dulu mudah hadir perlahan memudar, digantikan oleh diam dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Dari situlah retakan itu lahir, mengikis dirinya sedikit demi sedikit, hingga Min-ji tak lagi mengenali sosok yang ada dalam dirinya.
          
          Di tengah perjalanan mencari patahan dirinya yang hilang, semesta mempertemukannya dengan Shim Jae-yoon. Seorang kakak tingkat yang hadir tanpa aba-aba, tetapi datang membawa kehangatan. Sedikit demi sedikit, Jae-yoon mengembalikan warna-warna yang pernah pudar, mengajarkan Min-ji bahwa kehilangan tak selalu berarti akhir. Kadang, itu adalah awal dari proses menemukan diri sendiri.
          
          Melalui Jae-yoon, Min-ji belajar bahwa kehilangan bukan selalu tentang ditinggalkan. Terkadang, ia adalah jalan sunyi yang harus dilalui agar seseorang bisa menemukan dirinya sendiri, kali ini, dengan hati yang lebih kuat.
          
          Tapi story disini guys  https://www.wattpad.com/story/405701526?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=share_writing&wp_page=create&wp_uname=NJAEYUN

NJAEYUN

Lamunan itu, Kenangan itu, Begitu jelas. Begitu hidup. Seolah aku benar-benar kembali berdiri di bawah halte reyot itu, menatap wajah Sean yang basah karena hujan.
          
          Aku menahan senyum kecil yang terasa pahit.
          
          "Ternyata momen pertama kali kita ketemu seseru itu ya, Sean," bisikku pelan, lebih pada diri sendiri. "Aku jadi semakin merindukanmu."
          
          ~TBC~ 
          
          Bab 7 polaroid love udah up ya yuk segera kepoin perjalanan Alysas meruntuhkan kenangannya 
          
          https://www.wattpad.com/story/404437271?utm_source=ios&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details&wp_uname=NJAEYUN

NJAEYUN

"Kalian berdua adalah orang yang hebat, yang bisa mendapatkan Beasiswa ke sekolah ini. Dan itu hanya kalian berdua." Bu Ani menutup map itu. "Dan sepertinya, kalian harus bersaing nilai."
          
          Deg.
          
          Aku refleks menatapnya lagi.
          
          Dia tetap diam, wajahnya tanpa perubahan, seolah kabar itu hanya formalitas yang tidak memengaruhi apa pun.
          
          Sementara dadaku justru berdebar.
          
          Dia, sosok tenang itu, dengan berjalan sunyi dan nilai nyaris sempurna akan menjadi saingan nilaiku?
          
          Aku belum tahu apakah ini awal perjalanan baik atau perjalanan yang perlahan akan meruntuhkan semua mimpi-mimpi yang baru saja aku bayangkan.
          
          "Bantu aku, tuhan."
          
          
          Aduhhh bab 3 POLAROID LOVE udah memunculkan kenangan Alysas dan sean pertama ketemu nih, masa harus jadi saingan? 
          
          Yang kepo cus tap link 
          
          https://www.wattpad.com/story/404437271?utm_source=ios&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details&wp_uname=NJAEYUN

NJAEYUN

Aku memincingkan mata, berusaha melihat jelas. Namun begitu wajahnya menyamping, tiba-tiba saja mataku terpaku, tubuhku membeku seketika. Dadaku tiba-tiba menengang seperti di pelintir dari dalam.
          
          Bentuk wajahnya samar terlalu akrab di penglihatanku. Semua itu menghantamku seperti kilatan memori yang tak akan ku sangka muncul detik ini. 
          
          "S-Sean?" gumamku nyaris pelan.
          
          Nama itu muncul begitu saja, seperti seseorang berbisik sangat dekat di telingaku.
          
          
          Hai hai, POLAROID LOVE up bab 2 . Siapa yang penasaran sama kisah melolo Alysas sama sean? Yok kepoin 
          
          https://www.wattpad.com/story/404437271?utm_source=ios&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details&wp_uname=NJAEYUN