KETIAK PENCUCI PIRING
Harya tidak bisa mencium apa-apa.
Setahun sejak saraf penciumannya mati, Executive Chef Vesper—salah satu restoran fine dining paling bergengsi di Jakarta—memasak hanya mengandalkan termometer, stopwatch, dan senter. Setiap malam adalah Russian Roulette. Satu kesalahan rasa, satu saus yang gosong, dan karier miliaran rupiahnya tamat.
Lalu di dalam walk-in chiller bersuhu empat derajat, hidungnya tetiba bangkit.
Damar. Dua puluh satu tahun. Kuli cuci piring dari kampung yang kaosnya lepek oleh keringat, bahunya lebar, dan baunya asam seperti bawang yang terbakar panas dapur. Satu hirupan di lekuk leher pemuda itu membuat saraf Harya yang mati selama setahun mendadak berdenyut nyeri. Ini bukan ketertarikan. Ini kebangkitan biologis.
Satu hirupan berubah menjadi kecanduan. Satu kamar loker berubah menjadi laboratorium penyiksaan beraroma Sunlight dan sikat lantai. Dan di balik utang empat puluh tujuh juta yang menggantung di leher Damar, pemuda itu perlahan menyadari—ketiak bau bawangnya adalah satu-satunya obat tidur, obat kerja, dan obat hidup untuk sang tiran.
Ketika si kuli menaikkan harganya, dan si dewa terlalu sakaw untuk menawar, siapa sebenarnya yang memegang pisau?
⚠️ Peringatan: Cerita ini mengandung konten dewasa eksplisit, dinamika kekuasaan, power exchange, fetish, dan eksplorasi psikologis gelap soal kecanduan neurologis dan kapitalisasi tubuh. 21+ ONLY.
Selengkapnya bisa dibaca di:
karyakarsa. com/ kanganndrew
lynk. id/kanganndrew/page/cerita-pdf-klik-ini
https://www.wattpad.com/story/410447823-ketiak-pencuci-piring