aandini

Menulis novel itu ternyata tak cukup hanya banyak membaca. Membaca novel orang lain, jurnal-jurnal, atau teori apa pun yang aku temukan di rak pengetahuan.
          	
          	Karena musuh terbesar penulis bukan hanya writer block.
          	Seringkali musuh itu adalah waktu—
          	waktu untuk memahami,
          	waktu untuk merasakan,
          	waktu untuk membuat karakter benar-benar hidup,
          	dan waktu untuk merangkai setiap adegan agar menjadi cerita yang indah, utuh, dan menyentuh.
          	
          	Kadang kita lupa bahwa sebuah buku tidak lahir dari ide yang tergesa,
          	melainkan dari proses panjang yang pelan-pelan membentuk jiwa ceritanya. 
          	Karakter yang bergerak, menari, bahkan bercerita merangkai alur ceritanya sendiri. 
          	
          	Selama ini, aku terbiasa menulis berdasarkan pengalaman pribadi. 
          	Namun kali ini aku ingin mencoba sesuatu yang berbeda—
          	menyentuh wilayah yang belum pernah kucoba sebelumnya.
          	
          	Aku ingin menciptakan karakter yang benar-benar lahir dari imajinasi,
          	bukan dari kenangan, bukan dari seseorang yang pernah kutemui,
          	tetapi dari dunia yang hanya ada di kepalaku.
          	
          	Karakter yang pikirannya tak kutahu sejak awal,
          	yang emosinya harus ku pelajari perlahan,
          	yang hidupnya harus ku bangun dari nol.
          	
          	Barangkali di situlah tantangannya:
          	bukan lagi menyalin perasaan yang pernah kurasa,
          	melainkan menciptakan perasaan baru yang belum pernah ada.
          	Apakah semua penulis merasakan hal yang sama? 
          	
          	Di tengah kekacauan dan kerumitan pikiran, 
          	di tengah sibuknya dunia yang sedang aku jalani, 
          	Tokoh-tokohnya seakan-akan terus memanggil untuk ditulis ceritanya. 
          	Cerita yang bukan hanya ingin dibaca, didengar, serta diresapi. 
          	
          	Melainkan cerita yang ingin dihidupi —
          	yang bernafas melalui setiap dialog,
          	dan tumbuh di antara sela-sela waktuku yang sempit.
          	Yang ingin menjelma menjadi denyut,
          	menyusup ke ruang sunyi dalam diriku,
          	dan meminta tempat untuk tumbuh sebagai dunia baru, 
          	yang menunggu untuk disempurnakan,
          	yang pelan-pelan membentuk dirinya
          	melalui setiap kalimat yang kutemukan.
          	Yang ingin menetap, bahkan setelah buku itu ditutup. 

aandini

Menulis novel itu ternyata tak cukup hanya banyak membaca. Membaca novel orang lain, jurnal-jurnal, atau teori apa pun yang aku temukan di rak pengetahuan.
          
          Karena musuh terbesar penulis bukan hanya writer block.
          Seringkali musuh itu adalah waktu—
          waktu untuk memahami,
          waktu untuk merasakan,
          waktu untuk membuat karakter benar-benar hidup,
          dan waktu untuk merangkai setiap adegan agar menjadi cerita yang indah, utuh, dan menyentuh.
          
          Kadang kita lupa bahwa sebuah buku tidak lahir dari ide yang tergesa,
          melainkan dari proses panjang yang pelan-pelan membentuk jiwa ceritanya. 
          Karakter yang bergerak, menari, bahkan bercerita merangkai alur ceritanya sendiri. 
          
          Selama ini, aku terbiasa menulis berdasarkan pengalaman pribadi. 
          Namun kali ini aku ingin mencoba sesuatu yang berbeda—
          menyentuh wilayah yang belum pernah kucoba sebelumnya.
          
          Aku ingin menciptakan karakter yang benar-benar lahir dari imajinasi,
          bukan dari kenangan, bukan dari seseorang yang pernah kutemui,
          tetapi dari dunia yang hanya ada di kepalaku.
          
          Karakter yang pikirannya tak kutahu sejak awal,
          yang emosinya harus ku pelajari perlahan,
          yang hidupnya harus ku bangun dari nol.
          
          Barangkali di situlah tantangannya:
          bukan lagi menyalin perasaan yang pernah kurasa,
          melainkan menciptakan perasaan baru yang belum pernah ada.
          Apakah semua penulis merasakan hal yang sama? 
          
          Di tengah kekacauan dan kerumitan pikiran, 
          di tengah sibuknya dunia yang sedang aku jalani, 
          Tokoh-tokohnya seakan-akan terus memanggil untuk ditulis ceritanya. 
          Cerita yang bukan hanya ingin dibaca, didengar, serta diresapi. 
          
          Melainkan cerita yang ingin dihidupi —
          yang bernafas melalui setiap dialog,
          dan tumbuh di antara sela-sela waktuku yang sempit.
          Yang ingin menjelma menjadi denyut,
          menyusup ke ruang sunyi dalam diriku,
          dan meminta tempat untuk tumbuh sebagai dunia baru, 
          yang menunggu untuk disempurnakan,
          yang pelan-pelan membentuk dirinya
          melalui setiap kalimat yang kutemukan.
          Yang ingin menetap, bahkan setelah buku itu ditutup. 

aandini

Rencana collab dengan banyak orang untuk comeback nya aku kali ini, namun nasib berkata lain, akhirnya beberapa dari kami sibuk dengan real life hingga akhirnya dibatalkan, rencana collab sebelumnya (dengan 2 orang berbeda) 2 tahun lalu pun juga dibatalkan. Namun karena aku ingin produktif, akhirnya tetap buat karya baru dengan genre berbeda, rencananya mungkin 3 sampai 5 buku jadi, dengan waktu 3 bulan ini. Setelah 3 bulan izin hiatus panjang lagi, besok langsung update setiap hari dan setiap minggunya ya, ditunggu karya-karya aku yang lain. See u. 

aandini

Kematian memang sesuatu yang tak terduga, apalagi dialami oleh orang yang kita cintai. Ada banyak kematian seseorang yang berharga untukku, tapi entah mengapa aku justru menangis melihat yang yang baru saja meninggal memeluk orang yang dicintainya begitu dalam, wajar saja jika yang di peluk sampai pingsan, apakah ia merasakan pelukan dingin orang itu. Aku harap semua baik-baik saja. Lalu aku berfikir ulang bagaimana jika aku berada di posisi itu? Membayangkannya saja membuat air mataku tak henti-hentinya menangis. Apakah keluargaku yang telah meninggal tahu bahwa aku bisa melihat mereka, mangkanya mereka tak melakukan hal demikian? Padahal aku rindu, tetapi mereka seolah tak pernah datang menghampiri diriku kala itu, walaupun sekarang mereka masih bisa bercengkrama, bergurau, dan saling berbagi cerita, bahkan menasehati diriku, tetapi kematian mereka sudah lama baru datang menghampiri. Rasanya tetap tidak akan sanggup jika mereka melakukan hal itu tepat setelah mereka baru berpindah alam, bahkan mayatnya masih belum dikuburkan. Aku bersyukur tidak pernah mengalami hal itu, karena jika iya, mungkin aku tak bisa melepasnya, dan mereka tak akan tenang. Tuhan memang adil.

aandini

Menangis dalam tawa sudah biasa
          Kesepian dalam keramaian makanan sehari-hari
          Tetapi kenapa susah sekali mengatakan bahwa aku tak bahagia? 
          Entah sejak kapan aku tak bahagia? 
          Entah sejak kapan makanan yang ku makan hambar? 
          Entah sejak kapan perasaan sedih, namun tak bisa menangis seolah air mata sudah kering? 
          Aku tak bisa tidur bukan karena hape
          Justru hape adalah lampiasan amarah karena aku tak bisa tidur
          Aku sudah lelah, tubuhku capek, tapi kenapa aku tetap tak bisa tidur dengan nyenyak? 
          Bahkan hape pun hanya ku pegang, sedangkan otakku sudah penuh dengan pikiran. 
          Bahkan aku tak memiliki sosial media yang membuat candu, game sudah banyak ku hapus karena tak ada satupun yang membuatku tersenyum, meskipun hanya tersenyum palsu. 
          Tak ada hal yang menarik di hape, hape hanya perantara, antara aku sendiri dan otakku, agar aku tak dianggap gila karena memiliki dunia imajinasi sendiri. 
          Belum lagi ada banyak hal yang menggangguku, jika dulu aku berdoa agar bisa normal, sekarang aku hanya ingin bahagia, itu saja. 
          

aandini

Menurut orang lain hidupku berkecukupan, pada kenyataannya hidupku terkekang, seperti merpati yang terkurung dalam sangkar emas. Semua tercukupi, tetapi kebebasan dibatasi. Apakah dewasa itu harus memendam rasa dan berpura baik-baik saja ? Hei, kau berharap apa pada anak belasan ? Aah ... aku lupa, sekarang bukan lagi anak belasan. Entah kenapa tahun demi tahun cepat berlalu. Semua berubah, hanya satu perasaaan yang sama, aku lelah, aku muak, aku ingin bahagia. Bukan tak mensyukuri nikmat Tuhan, hanya saja aku ingin bebas, melebarkan sayap dan berkata "Aku bebas, aku bisa melakukan apa yang aku mau."

aandini

Seharusnya it's okay to not be okay, tetapi pada kenyataannya harus baik-baik saja apapun situasi dan kondisinya. Seharusnya Love yourself, tetapi kenyataannya mencintai seseorang yang tak berhak untuk dicintai. Seharusnya memaafkan masa lalu dan menjalankan masa kini untuk masa depan yang lebih baik, tetapi pada kenyataannya malah terbelenggu pada masa lalu yang merusak masa kini dan masa depan. Hancur karena hubungan yang toxic, atau memang diri sendiri yang justru toxic karenanya terbelenggu pada hubungan toxic, siapapun itu tak tahu itu.