Menulis novel itu ternyata tak cukup hanya banyak membaca. Membaca novel orang lain, jurnal-jurnal, atau teori apa pun yang aku temukan di rak pengetahuan.
Karena musuh terbesar penulis bukan hanya writer block.
Seringkali musuh itu adalah waktu—
waktu untuk memahami,
waktu untuk merasakan,
waktu untuk membuat karakter benar-benar hidup,
dan waktu untuk merangkai setiap adegan agar menjadi cerita yang indah, utuh, dan menyentuh.
Kadang kita lupa bahwa sebuah buku tidak lahir dari ide yang tergesa,
melainkan dari proses panjang yang pelan-pelan membentuk jiwa ceritanya.
Karakter yang bergerak, menari, bahkan bercerita merangkai alur ceritanya sendiri.
Selama ini, aku terbiasa menulis berdasarkan pengalaman pribadi.
Namun kali ini aku ingin mencoba sesuatu yang berbeda—
menyentuh wilayah yang belum pernah kucoba sebelumnya.
Aku ingin menciptakan karakter yang benar-benar lahir dari imajinasi,
bukan dari kenangan, bukan dari seseorang yang pernah kutemui,
tetapi dari dunia yang hanya ada di kepalaku.
Karakter yang pikirannya tak kutahu sejak awal,
yang emosinya harus ku pelajari perlahan,
yang hidupnya harus ku bangun dari nol.
Barangkali di situlah tantangannya:
bukan lagi menyalin perasaan yang pernah kurasa,
melainkan menciptakan perasaan baru yang belum pernah ada.
Apakah semua penulis merasakan hal yang sama?
Di tengah kekacauan dan kerumitan pikiran,
di tengah sibuknya dunia yang sedang aku jalani,
Tokoh-tokohnya seakan-akan terus memanggil untuk ditulis ceritanya.
Cerita yang bukan hanya ingin dibaca, didengar, serta diresapi.
Melainkan cerita yang ingin dihidupi —
yang bernafas melalui setiap dialog,
dan tumbuh di antara sela-sela waktuku yang sempit.
Yang ingin menjelma menjadi denyut,
menyusup ke ruang sunyi dalam diriku,
dan meminta tempat untuk tumbuh sebagai dunia baru,
yang menunggu untuk disempurnakan,
yang pelan-pelan membentuk dirinya
melalui setiap kalimat yang kutemukan.
Yang ingin menetap, bahkan setelah buku itu ditutup.