Rumah Kembang Sepatu
"Satu mesin faks rusak. Satu pesan yang tak seharusnya ada."
Toya Darmawan (29) melarikan diri ke Tangerang untuk mengubur rasa malu dan patah hati. Kekasih rahasianya, Binar, memilih menikahi wanita lain—ironisnya, wanita yang justru dikenalkan oleh Toya sendiri.
Merasa "tumpul" dan kehilangan arah, Toya menerima proyek restorasi di "Rumah Kembang Sepatu", sebuah bangunan tua berasitektur Cina Benteng di tepi Sungai Cisadane yang menyimpan kesunyiannya sendiri.
Rumah itu seharusnya menjadi tempat persembunyian yang tenang. Namun, pada satu malam badai, keheningan pecah. Sebuah mesin faks Panasonic usang yang teronggok berdebu di ruang kerja mendadak hidup. Tanpa listrik, tanpa kabel telepon, mesin itu menjeritkan suara mekanis dan memuntahkan kertas termal berisi pesan misterius.
Seseorang di ujung sana menyapa, seolah-olah ia sedang duduk di ruangan yang sama, menatap hujan yang sama.
Apa yang bermula dari ketakutan akan teror, perlahan berubah menjadi rasa penasaran yang mematikan. Toya mendapati dirinya terlibat percakapan intens dengan sosok tanpa wajah di balik mesin mati itu. Sosok yang menyebut dirinya "Tombak"
. Sosok yang entah bagaimana, mengetahui rahasia-rahasia rumah itu sebelum Toya menyadarinya.
Di antara dering mesin faks tengah malam, Toya mulai mempertanyakan kewarasannya. Apakah ini lelucon kejam dari seseorang yang mengawasinya? Hantu masa lalu yang gentayangan? Ataukah Toya sedang jatuh cinta pada ilusi yang ia ciptakan sendiri untuk mengobati sepinya?
Toya harus mencari tahu siapa yang berada di ujung sana sebelum ia kehilangan dirinya sendiri. Namun, beberapa jawaban mungkin lebih baik dibiarkan tak tertulis.
rumah kembang sepatu
soon