esTehtawarrr

Indosat kontol 

esTehtawarrr

Udh mah mahal anying, udh gak aktif pdhl masih sisa
Reply

esTehtawarrr

Sering bet ngelag cok
Reply

esTehtawarrr

Ada kalanya, di saat aku terdiam, terlintas sebuah pertanyaan: bagaimana jika kau mengetahui bahwa aku tak hanya menulis satu atau dua bait kalimat, melainkan ribuan kata tentangmu.
          
          Aku membayangkan rupamu yang nyaris sempurna itu, seketika memasang raut jijik atau jengkel saat kau sadar bahwa dirimu telah dirangkai menjadi ribuan kata oleh seorang pecundang kecil yang hanya berani mengintaimu dari kejauhan.
          
          Aku membayangkan caramu menarik napas panjang, lalu tertawa kecil—atau mungkin mengernyit—bertanya dalam hati, "Sejauh apa aku pernah hadir dalam hidupnya sampai layak ditulis sepanjang itu?"
          
          Padahal kau tak pernah benar-benar hadir.
          
          Kau hanya lewat, seperti sore yang singgah sebentar lalu pergi tanpa pamit.
          
          Tapi entah kenapa, dirimu menetap di pikiranku, menyusun rumah dari kemungkinan—kemungkinan yang tak akan pernah benar-benar terjadi.
          
          Aku tahu, menulismu bukan bentuk keberanian. Ini pelarian. Pelarian seorang pecundang. Cara paling aman untuk mencintai tanpa risiko ditolak, tanpa perlu melihat matamu saat kebenaran akhirnya diucapkan.
          
          Sebab di atas kertas, aku bisa jujur tanpa gemetar.
          
          Aku bisa mengaku bahwa aku menyukaimu tanpa harus menanggung konsekuensi dari kata-kata yang mungkin tak kau butuhkan.
          
          Dan jika suatu hari kau benar-benar membaca ini, aku harap kau mengerti satu hal:
          
          kau tak pernah diwajibkan membalas apa pun.
          
          Keberadaanmu di hidupku sudah cukup untuk membuatku menulis, meski hanya sebagai pecundang yang belajar merelakan lewat kata-kata.

esTehtawarrr

Ketika jalur dagang Konstantinopel runtuh pada abad kelima belas, Eropa mulai kehilangan rempah dan menemukan keserakahan. Laut dibelah, samudra dijadikan jalan, dan Nusantara pun ditemukan—datang dengan senyum yang menyamar sebagai niat baik. Tak lama, senyum itu luruh. Monopoli, kerja paksa, dan perjanjian yang tak pernah benar menjadikan rempah sebagai alat kuasa. Nusantara pun kehilangan hak atas tubuhnya sendiri. Para leluhur memilih bertahan, dengan tenaga yang menipis, dengan nyawa yang nyaris tak ada harganya, mereka berperang sampai tanah ini kembali pada namanya.
          
          Darah mereka yang pernah menetes di medan perjuangan, kini mengalir di nadimu. Menghidupkanmu. Dan di antara panjangnya sejarah perebutan dan perlawanan, lahirlah dirimu—sebuah isyarat bahwa di tanah yang hampir direnggut sepenuhnya, masih ada kesempurnaan yang berhasil dipertahankan dengan utuh. 

esTehtawarrr

Sekiranya dua ribu tahun yang lalu, di titik kiblatnya para manusia yang hidupnya tentang pengetahuan, sebagian tulisan yang dikumpulkan selama ratusan tahun oleh para cendekiawan dari seluruh dunia habis secara bertahap dalam kurun waktu beberapa abad. Kemunduran terjadi, bukan karena api yang melahap sebagian besar gulungan; melainkan sunyi pada zaman Romawi: rak-rak yang tak lagi dirawat, tangan-tangan yang tak lagi menyalin, dan waktu yang menghapus tanpa suara.
          
          Ribuan gulungan yang berisi tentang sejarah, hukum, filsafat, puisi, matematika, hingga ribuan ilmu lainnya hilang begitu saja. Tak ada adegan dramatis yang menyorot. Entah hancur lebur menjadi abu, atau disimpan secara diam-diam. Tak terkecuali gulungan mengenai spesies kita sendiri—tentang siapa kita, mengapa kita begini—bisa lenyap seperti jejak di pasir, seolah identitas juga punya masa kedaluwarsa.
          
          Di hadapanku, gagasan tentang spesies terasa seperti istilah yang terlalu besar untuk sesuatu yang begitu dekat. Aku melihat bayang-bayang kepunahan—bukan sebagai tragedi, melainkan sebagai penyaring: yang gugur meninggalkan jejak, yang bertahan meninggalkan bentuk. Dan pada bentuk itu, aku menemukan sesuatu yang tidak berisik tapi sulit disangkal—ketenangan yang rapi, seperti kesimpulan yang tidak memaksa.
          
          Maka, jika ada gulungan yang membahas manusia dan kini hilang, aku tidak terlalu panik mencarinya lagi. Untuk sesaat, definisi terasa cukup ada di depan mata; bukan sebagai jawaban yang sempurna, melainkan sebagai kemungkinan yang paling masuk akal. Homo sapiens—dan, dengan cara yang nyaris tak perlu diumumkan: dirimu.

esTehtawarrr

Aku menyeduh kopi tanpa harapan apa-apa. Seperti caraku memikirkanmu: pelan, sunyi, dan tahu diri.
          
          Kopi ini pahit; kamu tidak.
          
          Tapi justru itu masalahnya.
          
          Kamu berdiri di sisi lain hidupku seperti etalase kaca: jelas terlihat, tapi tak pernah bisa kusentuh.
          
          Aku tahu rasamu bukan untukku. Aku tahu namaku tidak pernah ada di cangkir hidupmu. Tapi tetap saja, setiap pahit yang turun di lidah selalu mengingatkanku bahwa ada manis yang tidak diciptakan untuk dimiliki---hanya untuk disadari keberadaannya.
          
          Aku tidak ingin gula. Aku tidak ingin kamu berubah.
          Aku hanya ingin kopi ini selesai tanpa harus berpura-pura bahwa aku baik-baik saja.