Sekiranya dua ribu tahun yang lalu, di titik kiblatnya para manusia yang hidupnya tentang pengetahuan, sebagian tulisan yang dikumpulkan selama ratusan tahun oleh para cendekiawan dari seluruh dunia habis secara bertahap dalam kurun waktu beberapa abad. Kemunduran terjadi, bukan karena api yang melahap sebagian besar gulungan; melainkan sunyi pada zaman Romawi: rak-rak yang tak lagi dirawat, tangan-tangan yang tak lagi menyalin, dan waktu yang menghapus tanpa suara.
Ribuan gulungan yang berisi tentang sejarah, hukum, filsafat, puisi, matematika, hingga ribuan ilmu lainnya hilang begitu saja. Tak ada adegan dramatis yang menyorot. Entah hancur lebur menjadi abu, atau disimpan secara diam-diam. Tak terkecuali gulungan mengenai spesies kita sendiri—tentang siapa kita, mengapa kita begini—bisa lenyap seperti jejak di pasir, seolah identitas juga punya masa kedaluwarsa.
Di hadapanku, gagasan tentang spesies terasa seperti istilah yang terlalu besar untuk sesuatu yang begitu dekat. Aku melihat bayang-bayang kepunahan—bukan sebagai tragedi, melainkan sebagai penyaring: yang gugur meninggalkan jejak, yang bertahan meninggalkan bentuk. Dan pada bentuk itu, aku menemukan sesuatu yang tidak berisik tapi sulit disangkal—ketenangan yang rapi, seperti kesimpulan yang tidak memaksa.
Maka, jika ada gulungan yang membahas manusia dan kini hilang, aku tidak terlalu panik mencarinya lagi. Untuk sesaat, definisi terasa cukup ada di depan mata; bukan sebagai jawaban yang sempurna, melainkan sebagai kemungkinan yang paling masuk akal. Homo sapiens—dan, dengan cara yang nyaris tak perlu diumumkan: dirimu.