esTehtawarrr

Angjay ini dari tadi cuma lihatin satu paragraf tulisan yg bahkan belum kelar cok ...

esTehtawarrr

Aku juga udh banyak baca-baca dari author yg menurutku penulisannya bagus, mantep, gacor anjay slebew. Aku juga banyak mendengarkan musik yg barangkali bisa membantu. Tapi ternyata masih sama aja ih. Ntahlah, apa yg aku pikirin sampe-sampe nih otak overload, susah buat mikir
Balas

esTehtawarrr

Harus ngapain lagi nih biar bisa lancar nulis. Keknya aku udah melakukan hal-hal yg aku suka, bengong lama, dan lain-lain. Skrg jadi agak susah berimajinasi
Balas

esTehtawarrr

Angjay ini dari tadi cuma lihatin satu paragraf tulisan yg bahkan belum kelar cok ...

esTehtawarrr

Aku juga udh banyak baca-baca dari author yg menurutku penulisannya bagus, mantep, gacor anjay slebew. Aku juga banyak mendengarkan musik yg barangkali bisa membantu. Tapi ternyata masih sama aja ih. Ntahlah, apa yg aku pikirin sampe-sampe nih otak overload, susah buat mikir
Balas

esTehtawarrr

Harus ngapain lagi nih biar bisa lancar nulis. Keknya aku udah melakukan hal-hal yg aku suka, bengong lama, dan lain-lain. Skrg jadi agak susah berimajinasi
Balas

esTehtawarrr

Hanya dua puluh enam huruf alfabet. Cukup untuk membangun dunia, cukup pula untuk meruntuhkannya. Dan di antara segala kemungkinan yang tak terhingga, aku memilih menenun kata-kata yang paling jujur—yang entah mengapa, setiap denyutnya selalu berujung pada satu cahaya di langit fajar.

esTehtawarrr

Terlihat beruntung sekali aku terlahir di masa yang disebut merdeka, setidaknya aku bisa mencintaimu
          tanpa harus takut mati ditembak sebelum sempat menyebut namamu.
          
          Namun, merdeka rupanya tak pernah benar-benar utuh. Di tanah yang katanya milik sendiri, aku tetap belajar menahan lapar, sementara mencintaimu terasa seperti kemewahan.
          
          Andai aku terlahir di masa kependudukan bangsa Barat, mungkin aku tak pernah sampai padamu.
          Bukan karena tak berani mencinta—jangankan
          mencinta, untuk bertahan hidup saja aku harus lebih dulu menggadaikan harga diri.
          
          Mungkin, sebelum sempat melangkah menemuimu,
          aku sudah mati pelan-pelan di ladang sendiri, menanam untuk orang lain, kelaparan di tanah yang katanya milik nenek moyangku.
          
          Kini, aku di sini—mencintaimu di negeri yang setengah merdeka, tempat cinta boleh hidup, asal tidak meminta terlalu banyak.
          
          

esTehtawarrr

Mau aku rombak wak

esTehtawarrr

Aku belum bisa lanjutin, lagi burnout parah, trus jg lagi STS. Ntar nunggu pikiran ini pulih dulu ...
Balas

esTehtawarrr

Tapi pelan-pelan dulu, diriku sibuk bgt buset. Deadline udh pada ngantri sampe bulan depan
Balas

esTehtawarrr

Aku ingin meninggalkan catatan kecil tentang keberadaanmu. Bukan untuk mengagungkan, bukan pula untuk membuktikan apa pun—hanya sebagai pengingat bahwa dunia ini pernah disentuh oleh seseorang sepertimu.
          
          Bukan karena kesempurnaan, melainkan karena caramu hadir membuat banyak hal terasa bergeser, meski pelan.
          
          Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai penjelasan. Ia lebih seperti jejak. Barangkali suatu hari, seseorang akan menemukan tulisan ini, lalu membacanya dan bisa membayangkan keindahan itu, tanpa perlu mengenalmu secara langsung.
          
          Aku telah melewati banyak tempat, bertemu banyak wajah, dan membaca banyak kisah yang sekilas tampak serupa. Aku belajar memberi nama pada perasaan, menuliskannya dalam berbagai bentuk, dan memahaminya dari banyak sudut.
          
          Namun tetap saja, ada pengalaman yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan. Dan mungkin, yang ini salah satunya.
          
          Ada masa ketika kekaguman hanya bisa diucapkan singkat, lalu hilang bersama udara. Sekarang, aksara memberi kesempatan lain—meski tak abadi, setidaknya ia meninggalkan tanda bahwa sesuatu yang indah pernah ada.
          
          Jika tulisan ini terdengar berlebihan, anggap saja ia lahir dari kejujuran yang tidak sepenuhnya ingin disaring.
          
          Selamat hadir kembali, pada satu nama di sudut kecil dunia ini.
          
          — dari seseorang yang akhirnya menemukan bahasa untuk sebuah rasa yang telah lama disimpan

esTehtawarrr

Ketika jalur dagang Konstantinopel runtuh pada abad kelima belas, Eropa mulai kehilangan rempah dan menemukan keserakahan. Laut dibelah, samudra dijadikan jalan, dan Nusantara pun ditemukan—datang dengan senyum yang menyamar sebagai niat baik. Tak lama, senyum itu luruh. Monopoli, kerja paksa, dan perjanjian yang tak pernah benar menjadikan rempah sebagai alat kuasa. Nusantara pun kehilangan hak atas tubuhnya sendiri. Para leluhur memilih bertahan, dengan tenaga yang menipis, dengan nyawa yang nyaris tak ada harganya, mereka berperang sampai tanah ini kembali pada namanya.
          
          Darah mereka yang pernah menetes di medan perjuangan, kini mengalir di nadimu. Menghidupkanmu. Dan di antara panjangnya sejarah perebutan dan perlawanan, lahirlah dirimu—sebuah isyarat bahwa di tanah yang hampir direnggut sepenuhnya, masih ada kesempurnaan yang berhasil dipertahankan dengan utuh. 

esTehtawarrr

Sekiranya dua ribu tahun yang lalu, di titik kiblatnya para manusia yang hidupnya tentang pengetahuan, sebagian tulisan yang dikumpulkan selama ratusan tahun oleh para cendekiawan dari seluruh dunia habis secara bertahap dalam kurun waktu beberapa abad. Kemunduran terjadi, bukan karena api yang melahap sebagian besar gulungan; melainkan sunyi pada zaman Romawi: rak-rak yang tak lagi dirawat, tangan-tangan yang tak lagi menyalin, dan waktu yang menghapus tanpa suara.
          
          Ribuan gulungan yang berisi tentang sejarah, hukum, filsafat, puisi, matematika, hingga ribuan ilmu lainnya hilang begitu saja. Tak ada adegan dramatis yang menyorot. Entah hancur lebur menjadi abu, atau disimpan secara diam-diam. Tak terkecuali gulungan mengenai spesies kita sendiri—tentang siapa kita, mengapa kita begini—bisa lenyap seperti jejak di pasir, seolah identitas juga punya masa kedaluwarsa.
          
          Di hadapanku, gagasan tentang spesies terasa seperti istilah yang terlalu besar untuk sesuatu yang begitu dekat. Aku melihat bayang-bayang kepunahan—bukan sebagai tragedi, melainkan sebagai penyaring: yang gugur meninggalkan jejak, yang bertahan meninggalkan bentuk. Dan pada bentuk itu, aku menemukan sesuatu yang tidak berisik tapi sulit disangkal—ketenangan yang rapi, seperti kesimpulan yang tidak memaksa.
          
          Maka, jika ada gulungan yang membahas manusia dan kini hilang, aku tidak terlalu panik mencarinya lagi. Untuk sesaat, definisi terasa cukup ada di depan mata; bukan sebagai jawaban yang sempurna, melainkan sebagai kemungkinan yang paling masuk akal. Homo sapiens—dan, dengan cara yang nyaris tak perlu diumumkan: dirimu.

esTehtawarrr

Aku menyeduh kopi tanpa harapan apa-apa. Seperti caraku memikirkanmu: pelan, sunyi, dan tahu diri.
          
          Kopi ini pahit; kamu tidak.
          
          Tapi justru itu masalahnya.
          
          Kamu berdiri di sisi lain hidupku seperti etalase kaca: jelas terlihat, tapi tak pernah bisa kusentuh.
          
          Aku tahu rasamu bukan untukku. Aku tahu namaku tidak pernah ada di cangkir hidupmu. Tapi tetap saja, setiap pahit yang turun di lidah selalu mengingatkanku bahwa ada manis yang tidak diciptakan untuk dimiliki---hanya untuk disadari keberadaannya.
          
          Aku tidak ingin gula. Aku tidak ingin kamu berubah.
          Aku hanya ingin kopi ini selesai tanpa harus berpura-pura bahwa aku baik-baik saja.