Seorang gadis pernah menjadikan aksara sebagai rumahnya. Menitipkan tawa, luka, dan harapannya pada setiap cerita yang ia rangkai.
Namun waktu berlalu. Gadis itu perlahan menghilang dari lembar-lembar kisahnya, meninggalkan banyak penantian yang tak sempat ia jawab.
Atas segala diam yang terlalu panjang, ia memohon maaf. Sebab tak semua cerita mampu ia selesaikan sebagaimana mestinya.
Setelah banyak pertimbangan, gadis itu memutuskan untuk meletakkan penanya. Menutup buku yang selama ini menemaninya bertumbuh.
Maka berakhirlah perjalanannya sebagai penulis. Terima kasih kepada setiap jiwa yang pernah singgah, membaca, dan mencintai kisah-kisahnya.