ketika tangan itu membawa pads keputusan untuk kembali membuka jilidan berlembar-lembar torehan saksi hidup yang membisu dibalik lemari berjamur, ia hendak menulis ulang harinya, menumpahkan isi pikiran yang mungkin jika dibicarakan akan membawa dirinya masuk penjara. penjara yang mengurung jiwa-jiwa yang sakit, juga bisa jadi penjara yang menghukumnya karena tidak sesuai pasal dan norma yang ada. torehan kepala yang dibelenggu dogma, menyeretnya takut akan bisikan pengingat bahwa dirinya lah yang digambarkan para pendoa itu sebagai penghuni neraka. tapi, ketika buku itu terbuka, yang temukan adalah guratan tempramen yang menembus kertas, ia hendak menulis di lembar yang halus, yang masih suci dari kemarahan. tapi hingga lembar ke tiga puluh, kertas itu masih meninggalkan bekas guratan pena amarah.