Pernah sekali waktu, mata enggan untuk melihat serta kedua telinga tidak mau mendengarkan suara-suara di sekitar. Berdiri tegap sendirian dengan isi hati yang terasa mulai bergemuruh tidak keruan.
Kemudian sebuah tangan menepuk bahu sebanyak tiga kali. Menghancurkan kedamaian semu dalam waktu sekejap dan lekas berkata, "Lupakan. Sesekali cobalah untuk melihat mereka yang tengah berjuang di bawahmu. Seberapa kuat keinginanmu untuk berdiri pongah, hasilnya akan tetap sama. Hanya akan membuatmu menjadi bagian dari manusia yang tidak bisa berpuas diri dan terkesan lebih baik dari yang lain."
Bukan kesal, melainkan seulas senyum yang terbentuk lewat kedua bibir yang ditarik hingga menghasilkan lengkungan tipis dan tulus. Kepercayaan diri dan beban yang selama ini menggunung di dalam hati seolah runtuh seketika dalam hitungan beberapa detik.
Ucapannya barusan itu tidak salah. Dalam diam akhirnya mencoba untuk membuang semua kesombongan, lalu mendongak dan langsung merasa menjadi butiran pasir kecil. "Kau benar, kawan. Masih ada langit di atas langit."
— self reminder