Kutunggu-tunggu, nggak terdengar pintu terbuka, atau dibanting tertutup.
Oh Tuhan….
Aku bangkit dan menghampirinya di dekat pintu, menjauhkannya dari sana. Kulekatkan tubuhnya ke dinding dan kurapikan rambutnya yang berantakan supaya aku bisa melihat wajah cantiknya yang berlinang air mata.
Bibirku melekat lembut di bibirnya, perlahan mengecup dan mengulum bibir bawahnya.
Saat kulepaskan beberapa lumatan kemudian, keningku dan keningnya menyatu, “I am sorry…,” bisikku.
Special chapter 40 hanya di karyakarsa
LAWAN DUDA Chapter 39-40 (Special Part) https://karyakarsa.com/Kincirmainan/lawan-duda-chapter-39-40-special-part