'Eh ternyata gue udah pernah baca ini ya, disappointed 2 kali. Ah tapi sudahlah. Saranku next jangan bikin story dengan ending terlalu maksa, thor. Coba baca AU-AU lain buat dapet referensi bagaimana eksekusi yang baik. Ceritamu terlalu banyak plot hole dan ga ada kejelasan, tiba-tiba epilog aja. Izin mute habis ini biar ga muncul di pencarianku lagi. Thanks.'
‘baca cerita ini bikin stres sendiri ya, tapi untungnya cuma fiksi, Tuhan ga mungkin sekejam ini ke manusia ’
Hai semuanya.
Sebelumnya, aku mau minta maaf karena akhir-akhir ini belum bisa update dan beberapa cerita jadi menggantung cukup lama. Di real life lagi ada banyak hal yang harus aku hadapi. Nulis di sini sebenarnya jadi salah satu tempat aku buat nenangin diri, apalagi pas baca komentar kalian— meski aku belum bisa bales satu-satu.
Aku sadar kok kalau tulisanku masih banyak kurangnya. Aku juga tahu aku belum bisa nulis sebagus yang mungkin kalian harapkan. Tapi aku lagi belajar, lagi proses, dan masih terus nyoba buat jadi lebih baik.
Jujur aja, komentar kayak gini cukup bikin aku drop. Aku jadi takut buat nulis lagi. Sejak baca komentar itu, aku sampai ngubah semua draft yang ada karena kepikiran terus dan akhirnya malah stuck.
Jadi, demi kewarasanku sendiri, untuk sementara semua ceritaku bakal aku unpublish dulu— entah sampai kapan. Dari awal, aku nggak pernah punya ekspektasi besar soal ceritaku dibaca banyak orang. Aku cuma nulis apa yang ada di kepalaku. Bukan berarti aku nggak senang kalau ceritaku dibaca banyak orang, aku senang banget. Tapi itu bukan tujuan utamaku.
Perlu aku bilang juga, ini murni cerita fiksi. Jadi nggak semua alur atau kejadian selalu masuk akal kayak di dunia nyata.
Kalau ceritaku nggak cocok atau nggak sesuai selera, silakan ditinggalin atau di-block, aku nggak masalah sama sekali. Tapi aku mohon, kalau mau kasih kritik atau saran, tolong disampaikan dengan cara yang lebih baik ya
Terima kasih buat kalian yang masih baca dan menghargai aku. ❤️