"Yuli baru saja dibelikan karet gelang warna warni sama ibu, ayok taruhan! Pasti ndoro Surya bisa kedip mata"
"Ngawur kamu Yulia, ndoro Surya kan kaya patung batu. Wajahnya saja datar seperti papan tulis di sekolah"
"Bilang saja kalian semua takut! Kalian payah"
"Siapa yang takut?! Yasudah, aku punya gundu, kalau ndoro Surya berkedip di hitungan ke 10, kamu menang"
"Ayok"
Kumpulan bocah-bocah itu mengendap-endap masuk pekarangan rumah utama melihat pemuda umur awal dua puluhan yang sedang duduk membaca buku tebal ditangannya.
"Satu... Dua... Tiga..." Bisik mereka.
Merasa di awasi di balik semak-semak hias, Surya melihat ke arah bocah-bocah bersembunyi.
"ADUH! GAWAT! Ndoro lihat ke kita! Ayo kabur"
Bocah-bocah itu lari kocar-kacir, begitupun Yulia yang menggelinding menyembunyikan wajahnya agar tidak ketahuan, lalu berlari mengikuti teman-temannya.