Renjun menatap pada pintu kamar Jaemin yang terbuka sedikit, mendengarkan anak itu yang ngedumel sendiri pada benda mati ditangannya.
"Kau mau menghubungi siapa, sih?" tanya Renjun yang mendorong pelan pintu kamar Jaemin hingga terbuka setengah.
Jaemin menyipitkan matanya, menatap Renjun cukup tajam. "Tidak sopan."
"Tidak apa. Dalam kamus ku, sedikit lancang boleh dilakukan oleh orang yang lebih tua." sahut Renjun santai sambil berjalan memasuki kamar Jaemin.
"Ku lihat-lihat dari kemarin kau sibuk sekali dengan ponselmu, memang kau sedang menghubungi siapa?"
"Bukan urusanmu." balas Jaemin yang sekarang mematikan ponselnya.
"Apa Winter? Kau menghubungi gadis itu?" tanya Renjun lagi yang mendapat atensi penuh Jaemin.
"Kau kenal Winter?" Renjun mengangguk. "Tentu saja. Dia gadis cantik dan baik hati."
Jaemin menghela napas panjang, "dia tidak mau mengangkat panggilanku, pesan-pesan ku juga tidak ada satupun yang dia balas. Apa dia sudah lupa padaku ya?"
"Mungkin saja. Lagipula dia sekarang berada di tempat yang tidak bisa kau jangkau." ucap Renjun yang membuat Jaemin murung seketika.
"Maksudmu, aku tidak selevel dengannya? Ia sih, dia sekarang pasti menjadi sangat luar biasa. Tinggal di luar negri dan punya banyak teman-teman baru,"
Renjun yang ingin menyahuti, jadi bingung sendiri. Bagaimana mengatakannya, ya? Kasian juga kalau dibiarkan salah paham terus.
"Tapi meski begitu, seharusnya dia tidak melupakanku. Bagaimanapun juga aku ini tetap teman lamanya." lanjut Jaemin dengan nada kesalnya.
"Aku kasihan padamu sebenarnya. Mau kau jungkir balik juga kau tidak akan dapatkan balasan apapun. Karna musim dingin mu itu, benar-benar sudah sangat dingin."