'Aku pulang kerja lebih awal. Haruskah kita rayakan kepidahanmu dengan minum berdua hari ini?'
Satu pesan yang ia baca di tengah kegiatannya menonton televisi di apartemen baru, membuat Bae Yoobin tak bisa menahan senyumnya. Segera merubah posisi, ia yang semula merebahkan diri di sofa itu bangun. Mengambil bantal sofa yang tadi ia jadikan tumpuan kepala, kali ini benda itu diletakkannya di kaki yang bersila, sementara siku bertumpu disana dan jemari mulai mengetik balasan untuk seseorang dengan nama 'Myungjun Sunbae' beserta tambahan emotikon hati merah disana.
"Tentu saja, mari habiskan...."
Gumam yang mengikuti isi pesan di ponsel tertahan, begitu ia dengar suara bel pintu berbunyi. Membatin sembari melihat jam di ponselnya, itu bahkan belum sepuluh menit sejak pesan masuk; tapi Kim Myungjun sudah sampai di rumahnya?
Bersamaan dengan selesainya satu kalimat tanya hati, bel pintu kembali berbunyi. Kali ini berhasil membangkitkan Yoobin dari posisinya, sebelum berjalan ke pintu ia terlihat merapikan rambutnya secepat yang ia bisa walaupun tanpa kaca, setidaknya gadis ini terlihat sedikit cantik di depan kekasihnya.
Setelah dirasanya rambut sudah tertata rapi, Yoobin dengan senyum lebar dan langkah besar pergi menuju pintu. Tanpa lebih dulu memastikan lewat interfone, langsung saja ia membuka pintu dengan gerakan kuat sebagai bentuk rasa senang yang membuncah, namun niat untuk menyebut nama kekasihnya dengan nada tinggi, hilang begitu saja. Senyumnya sirna, yang dilihatnya kini bukanlah si pangeran tampannya, tapi seorang pria paruh baya yang dengan kaos coklat polos berusaha terlihat nampak muda dengan jaket denim serta celana kain hitamnya; itu sang ayah, Bae Seokwang.
Datang sendirian, secara tiba-tiba tanpa memberitahu Yoobin yang saat itu langsung berlari ke dalam ketika mengingat pesan Myungjun belum dibalasnya; jangan sampai pria tua cerewet itu bertemu dengan kekasihnya, atau semua akan jadi runyam.
Ditinggal si putri tanpa kata, Seokwang yang berniat hendak menegur aura wajah cantik yang tak nampak bahagia saat melihat kedatangannya itu hanya bisa membeku di depan pintu sejenak, sebelum kemudian menahan benda yang nyaris tertutup itu; pria ini tanpa permisi langsung melangkah masuk begitu saja.
Memperhatikan tingkah putri bungsu yang sudah sibuk dengan ponsel tanpa sedikit pun menyadari kehadirannya di dalam apartemen, Seokwang kemudian berdehem keras. Mengintrupsi Yoobin dengan sikapnya, yang dilihat bagaimana pun terasa kurang sopan bagi orang yang sudah berada di akhir empat puluh-an ini.
"Eoh," Yoobin dengan gerakan gugup, menaruh ponselnya beberapa saat setelah deheman si ayah terdengar. Matanya terlihat menghindari tatapan pria itu dengan pura-pura menyibukkan diri dengan mencari posisi nyaman. "A-appa," ia tersenyum canggung sebelum terkekeh sendiri. "Kenapa tidak bilang kalau akan datang kesini?"
Seolah melupakan sikap putrinya yang beberapa saat lalu jelas terlihat mencurigakan, Seokwang sembari menghela nafasnya mendekati Yoobin. Mendudukkan diri di sisi sofa yang kosong, punggungnya ia sandarkan di sana sementara tangannya direntangkan sepanjang sandaran benda itu. "Yang aku datangi adalah apartemen putriku sendiri. Kenapa harus bilang?"
Rasa was-was yang semula hadir, saat itu hilang seketika. Manggut-manggut sembari memandangi si ayah; sifat seenaknya si kepala keluarga jika sudah keluar, memang seringkali membuat kesal.
"Appa ingin minum apa?"
Yoobin diliriknya. "Kau tidak sedang mencoba membuatku abai dengan sesuatu yang kau sembunyikan barusan 'kan?"
Terlihat tidak kaget dengan pertanyaan si Ayah, gadis yang seolah sudah terbiasa dengan 'intuisi detektif' Bae Seokwang yang masih setajam pisau walau sudah nyaris lima tahun pensiun itu menghela nafas. Tak menyahut ucapan Ayahnya, ia bangkit dari duduknya dan tanpa diminta melangkah ke dapur sebagai usaha untuk menghindari kecurigaan. "Kenapa datang sendiri? Haraboeji apa ada yang menjaga?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Unknown Marriage✔
Fan-FictionIa bahkan tidak mengenal siapa lelaki yang diperkenalkan ayahnya sebagai Dong Sicheng ini, tapi kenapa tiba-tiba saja Beliau bilang jika dia adalah suaminya? Dan lagi-- Bagaimana Yoobin bisa tidak mengingat apapun soal pesta pernikahan yang seharusn...
