Angin dingin malam itu entah kenapa terasa begitu menusuk kulit sampai Bae Yoobin, yang biasanya akan menutup jendela sesaat sebelum ia tidur hari itu berniat melakukannya lebih awal. Menaruh buku tentang hukum kriminal yang sesaat lalu ia baca, kakinya turun dengan niat mendekati daun jendela yang menerbangkan tirai dengan cukup kuat di sana.
"Biar aku saja yang melakukannya."
Gerak Yoobin terhenti. Daripada sekelebat cahaya yang lebih terang dari lampu baca kamarnya, gadis itu lebih tertarik dengan suara berat yang baru saja masuk ke telinganya. Menaikkan alis, nafasnya dihela bersamaan dengan kaki yang seutuynya menapak lantai.
"Aku tidak akan merasa lelah hanya karena berjalan sebentar menuju jendela, Winwin-ah..."
Ada ekspresi terkejut yang sempat terlihat di wajah si lelaki. Tetapi sesaat kemudian tersadar, ia dengan cepat menghampiri istrinya itu tanpa sempat menutup dulu pintu kamar yang tadi ia buka. Memilih untuk menuntun istrinya, yang kemudian direspon tatap malas Bae Yoobin.
"Kau... bisakah jangan bereaksi berlebihan terhadap apa yang aku lakukan?" Yoobin bertanya sembari menahan langkahnya. "Kau membuatku tampak terlihat lemah."
Kalau itu adalah Dong Sicheng di awal kedatangannya, dia pasti akan langsung melepaskan tangannya dari lengan Yoobin. Tetapi dia sekarang adalah lelaki yang sudah bisa memahami sifat keras istrinya; omongannya memang terdengar agak menyakitkan, tapi Winwin tahu perempuan itu tak bermaksud buruk.
"Itu karena aku begitu menyayangimu dan anak kita, Yoobin-ah."
Sang istri bungkam, rasa panas menjalari wajah; sedikit merutuki diri yang nyatanya memang lemah.
Entah karena tidak biasa mendengar ungkapan rasa sayang begini atau karena bawaan bayi, tapi sejak Bae Yoobin mengakui kalau ia akhirnya bisa menerima sosok Winwin sebagai suaminya; semua perlakuan manis dan kata-kata penuh cintanya selalu berhasil membuatnya tersipu dan ujung-ujungnya jadi tak bisa melawan begini.
"Ya sudah, kalau begitu kau tutup saja jendelanya sendiri," bisa ia lihat senyum Winwin lembut, pegangan pada lengannya terasa semakin erat. "Aku bisa kembali ke kasur sendiri."
Pria itu memandanginya, bertanya dalam diam apa Bae Yoobin sungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Jaraknya bahkan tak sampai lima langkah..." Yoobin menunjuk ke arah kasur. "Kau lihat?"
"Baiklah, baik..." Winwin melepaskan pegangannya ketika dirasa Yoobin mulai risih dengan tingkahnya --yang ia rasa juga cukup berlebihan, tapi apa boleh buat; Dong Sicheng hanya tak ingin ada hal buruk menimpa istri hamilnya sedikit barang.
Menghembuskan nafas, mereka berpisah; Winwin menuju jendela dan Yoobin kembali ke kasur. Mendudukkan diri pada posisi semula, daripada kembali membaca buku, gadis itu lebih memilih memandangi punggung lebar suaminya yang terlihat begitu kokoh.
"Saat pertama kalo melihat Winwin menatapmu, Yeonhee langsung bisa tahu jika lelaki itu menyukaimu."
Dia juga tahu, kalau Winwin pasti akan jadi suami yang baik untukmu.
Makanya, ia memintaku untuk menikahkan kalian segera. Dia tak ingin melewatkan satu momen paling penting, Yeonhee ingin bisa menemani putrinya yang berbahagia di hari pernikahannya..."
Suara serak sang Ayah yang menjelaskan alasan kenapa ia dan Winwin harus menikah di usia semuda itu terngiang-ngiang di benaknya. Terasa begitu menyayat hati, sampai Yoobin tak bisa menahan air matanya.
"Yoobin-ah, kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?"
Suara panik Winwin tak begitu Yoobin dengarkan. Sibuk mengontrol isaknya yang makin kuat, tanpa kata ia kemudian memeluk suaminya itu. Sangat erat, seolah tak mau sosok itu menjauh darinya sedikit saja.
Kalau Bae Yoobin yang hari ini adalah perempuan yang dulu menolak sosok Dong Sicheng, ia pasti akan tertawa pilu dan terus mempertanyakan bagian mana dari dirinya yang merasa bahagia di hari pernikahan yang bahkan ia sendiri tak ingat. Tetapi sekarang ia mengerti, jika bahagia yang dilihat ibunya kala itu memang benar adanya; walau sempat tak menerima Winwin dalam hidupnya, tapi sekarang gadis itu bahagia. Banyak hal manis dan menyenangkan yang lelaki itu berikan hanya dalam waktu sesingkat ini.
"Apa perlu kita ke rumah sakit sekarang, Yoobin-ah?"
Suara berat yang terdengar mengalir halus melewati telinganya menyadarkan Bae Yoobin, yang lantas dibalasnya dengan gelengan. Kemudian membenamkan kepalanya di pundak suaminya, nafas itu di tarik dalam untuk menyesap aroma tubuh yang sekarang jadi candu sebelum kemudian bergumam jika ia baik-baik saja.
"... Aku hanya agak merindukan Eomma."
Elusan pada punggungnya terhenti, kepalanya bergerak pelan untuk melihat pada tengkuk istrinya. Sesaat terdiam, sebelum kemudian mengangguk. "Minggu depan, minggu depan kita akan berangkat ke Chuncheon, ya?"
Dibalas Yoobin dengan anggukkan. Mereka yang saling memahami jika tak ada waktu libur yang lebih luang dibandingkan hari minggu sudah memutuskan tanggal, juga sudah memikirkan apa yang ingin ia sampaikan kepada Ibunya nanti.
Kunjungan kali ini akan berbeda; kisah yang akan ia ceritakan bukan lagi tentang dirinya, tetapi tentang keluarga kecilnya. Berterimakasih kepada sang Ibu karena telah memberi Winwin sebagai orang yang akan mendampingi hidupnya.
---
REALLY END
N/A: WKWKWK EMANG PERLU WAKTU SELAMA INI CUMA BUAT POST PROLOG?! pssst, sebenernya... Sebenernya aku.. BENER2 LUPA KALO BLM POST PROLOG FF INI!😭😭😭🙏🙏 Makanya maaf, maaf banget kalo endingnya pun masih belum memuaskan... MAKASIH BANYAK JUGA BUAT YANG SELAMA INI UDAH DUKUNG UNKNOWN MARRIAGE! Seneng banget ternyata banyak yang sayang sama winwin dan yubin🥺❤️ nggak tau mau bilang apa lagi, yang pasti semoga kita bisa bertemu di ff winbin selanjutnya ya! Kalo aku bikin lagi, apa kalian masih mau nemenin aku dan winbin? Hihi MAKASIH BANYAAAAK! DUKUNGAN KALIAN BENERAN GA TERGANTIKAN😭❤️😭❤️😭❤️😭❤️😭❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
Unknown Marriage✔
Hayran KurguIa bahkan tidak mengenal siapa lelaki yang diperkenalkan ayahnya sebagai Dong Sicheng ini, tapi kenapa tiba-tiba saja Beliau bilang jika dia adalah suaminya? Dan lagi-- Bagaimana Yoobin bisa tidak mengingat apapun soal pesta pernikahan yang seharusn...
