Mark menerima surat dari dirinya sendiri di masa depan yang berpesan bahwa dia harus menjaga seorang murid baru bernama Lee Haechan agar dirinya tidak merasakan penyesalan.
Sudah 2 hari ini aku melakukan berbagai hal konyol hanya untuk mencari tau tentang surat misterius yang aku terima.
Berkali-kali aku bertanya kepada orang tua dan teman-teman ku apakah diantara mereka ada yang mengirimi ku surat. Mengecek setiap sudut rumah ku untuk mencari jejak si pengirim surat misterius itu.
Bahkan aku juga mencari tau di intenet tentang bagaimana caranya seseorang bisa menerima surat dari masa depan.
Aku menyandarkan punggung ke sofa dan memejamkan mata. Kemudian memikirkan kembali kejadian sebelum surat itu datang.
27 April 2010 pukul 05.00 Saat baru bangun tidur, aku menemukan sebuah amplop coklat tergeletak di atas meja belajar ku.
Awalnya aku mengira amplop itu berisi keperluan untuk pertandingan basket, tapi ternyata berisi surat yang katanya dikirim oleh diriku sendiri di masa depan.
Sehari sebelum itu, sepulang sekolah aku ada latihan dan rapat untuk membahas pertandingan hingga pukul 8 malam. Kemudian aku menonton film sembari makan malam di ruang tengah hingga pukul 10 malam.
Setelah itu aku terus duduk di depan meja belajar untuk mengerjakan tugas dan pergi tidur pukul setengah satu dini hari.
"Waktu mengerjakan tugas, amplop itu belum ada jadi kemungkinan amplop itu muncul antara pukul setengah satu sampai lima pagi."
Masalahnya aku tinggal disini sendirian jadi seharusnya ada seseorang yang menaruh amplop itu di atas meja.
Aku mengacak rambut frustasi, "Siapa yang menaruhnya disana? Yang pasti bukan aku karena aku tidak pernah punya amplop coklat sebelum ini."
Apa surat ini kiriman dari seseorang? Tapi kemarin aku sama sekali tidak menerima kiriman barang. Tidak mungkin juga ada kurir mengirim barang saat pukul setengah satu dini hari hingga pukul lima pagi.
Penyusup? Lebih tidak mungkin karena pasti akan ada jejak yang tertinggal. Lagipula aku ini tipe orang yang mudah terbangun jika ada suara sekecil apapun.
Aku menghela napas lalu mengambil amplop coklat misterius itu.
Di dalamnya berisi 9 surat bernomor yang harus aku baca secara berurutan, satu surat dengan judul Tentang Haechan yang ku rasa berisi biodata milik Haechan, kemudian sebuah amplop kecil berwarna putih.
"Eh ada foto juga?" amplop putih itu ternyata berisi 2 buah foto.
Foto pertama adalah foto seorang anak laki-laki yang memakai seragam sekolah. Di bagian belakang tertulis Ini foto Haechan
Foto kedua adalah foto ku yang sedang dipeluk oleh Haechan.
"Foto apa ini? Kenapa aku bisa ada di dalam foto itu?"
Dengan perasaan sedikit takut aku membalik foto itu.
15 Mei 2010 Ini adalah foto pertama ku dengan Haechan. Foto ini tidak sengaja di ambil karena Haechan ingin mencoba kamera baru milik Jaemin. Andaikan saja saat itu aku tidak terpaksa menerima ajakannya untuk foto bersama.
Aku langsung membuang foto itu setelah membaca tulisan yang ada dibaliknya.
"Tidak mungkin. Tidak mungkin. Itu pasti editan! Iya pasti editan!"
○○○○○
30 April 2010
Aku menatap heran sosok yang ada di sebelahku.
Lee Haechan. Siapa sebenarnya dirimu? Kenapa diriku di masa depan berkata bahwa kau adalah sosok yang berarti untukku?
Lalu apa yang akan terjadi padamu? Kenapa aku harus menjaga dan tidak boleh membiarkanmu pergi sendirian?
"Jangan melihatku terus, Mark." ucap Haechan tanpa mengalihkan pandangannya dari buku di hadapannya.
Aku tau dia sedang gugup dan tidak benar-benar membaca buku itu.
"Siapa juga yang melihatmu."
"Jangan bohong, aku tau kau daritadi melihatku terus."
"Kalau memang begitu, kenapa? Kau gugup?"
Haechan menatapku sambil tertawa mengejek "Ha? Gugup? Untuk apa."
"Okay aku mengaku," ucapku dengan nada serius "Daritadi aku memang melihatmu karena aku sedang memerhatikanmu."
Haechan bergeming dan menatapku terkejut.
"Bagaimana, masih tidak gugup?" godaku yang langsung membuat Haechan tersadar dan cepat-cepat mengalihkan pandanganya ke buku lagi.
"Ti-tidak, aku tidak gugup."
Aku terkekeh pelan. Ternyata seru juga menggoda Haechan.
"Kau mau kemana?" tanya Haechan saat aku beranjak dari bangku.
"Kantin."
Haechan kembali menatapku tapi kali ini dengan wajah yang kebingungan, "Memangnya sudah bel?"
Lucu sekali. Bagaimana bisa dia memunculkan berbagai ekspresi dalam satu waktu?
Lalu entah dorongan darimana, tiba-tiba tanganku terulur mengusak rambutnya.
"Sepertinya rasa gugup membuatmu tidak mendengar suara bel, ya."
Aku mulai berjalan meninggalkan Haechan yang masih terpaku memegang rambutnya tadi ku usak.
Sadar sedang diperhatikan seluruh kelas, Haechan pun berlari mengejarku.
"Mark lee! Hei jangan kabur! Ku buat botak kepalamu baru tau rasa!"
○ TBC ○
foto pertama
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
foto kedua
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.