Olivia Pricilla Axton. Nama yang ia dapatkan dari orang tua yang mengadopsinya, Alessia Cestaro Axton dan Reynold Nicole Axton. Sejak kecil ia adalah yatim piatu. Setelah diadopsi oleh sepasang suami-istri tersebut, ia bisa merasakan apa yang dinamakan dengan keluarga. Ia sangat di sayangi dan di manja oleh orang tua adopsinya karena mereka tidak bisa mempunyai anak.
Sejak kecil Olivia sangatlah cerdas dan kreatif. Meskipun di sayang dan di manja, ia tidak pernah sombong dan semena-mena. Malahan ia mempunyai sifat sederhana dan periang. Ia sering memanfaatkan berbagai barang bekas. Bahkan ia kamarnya penuh dengan berbagai macam benda hasil kerajinannya. Orang tuanya tidak mempermasalahkan hal tersebut, malah mereka mendukung kreativitas Olivia dan membiarkan Olivia memenuhi rasa penasarannya. Tapi, terkadang ia bisa menjadi sangat keras kepala yang membuat orang tuanya sakit kepala. Masa kecil yang indah bukan?
Tapi, masa kecil yang indah tersebut berubah setelah keinginan Olivia yang ingin pergi rekreasi ke gunung. Saat itu sedang mendung.
Awalnya mamanya menyuruh untuk menunda untuk pergi ke gunung. Karena saat itu cuaca sudah mendung. Olivia yang keras kepala tetap saja ingin pergi. Karena ibunya sudah menjanjikan akan pergi dari Minggu lalu.
Melihat keinginan Olivia yang tidak ingin ditunda, mereka pun berangkat ke gunung hari itu dalam kondisi hujan. Mama Alessia yang sangat sayang pada Olivia hanya bisa geleng-geleng kepala dengan Olivia. Akhirnya mereka tetap berangkat hari itu
Hujan turun saat mereka berada di jalan yang menanjak. Mama Alessia mulai gelisah dan papa Rey mencoba menenangkannya. Entah apa yang membuat mama Alessia saat itu menjadi sangat gelisah. Hujan semakin lebat. Papa Rey mencoba untuk putar arah karena takut akan terjadi sesuatu. Tetapi mama Alessia menyuruh untuk tetap lanjut.
Tetapi, papa Rey tidak mau mendengarkan mama Alessia. Ia segera memutar arah mobil mereka. Seketika mobil mereka tergelincir dan masuk ke dalam jurang.
'BRAK'
"ugh.. sakit" gumam Olivia sambil memegang kepalanya.
'tiiiit tiiiit' terdengar bunyi klason mobil dari jauh.
Pandangan Olivia kabur. Saat penglihatannya mulai membaik, ia melihat tangannya.
"da.. darah?"
Ia melihat ke jok depan. Dimana ayah dan ibunya duduk. Ibunya dan ayahnya terkena serpihan kaca mobil yang pecah di wajah dan dan badan mereka. Tetapi yang paling parah yaitu ibunya. Terdapat sebuah serpihan kaca yang besar di lehernya
"Ma.. ma bangun!"
"Papa.. papa bangun!"
Olivia mengguncangkan badan ayah dan ibunya
"Bangun mama!" Air matanya terus mengalir.
"BANGUN! OLIVIA MOHON BANGUN!
OLIVIA JANJI GAK BAKAL MINTA KE GUNUNG LAGI. BANGUN MA.. PA!"Olivia berteriak dengan air mata yang terus jatuh dari mata coklatnya.
"BANGUN! HUUA.. HIKS HIKS. JANGAN TINGGALIN OLIVIA SENDIRIA MA!"
"HAH.. HAH.."
Olivia bangun dari tidurnya. Ia berkeringat sangat banyak hingga bajunya basah. Olivia mengusap wajahnya dan kemudian mulai menangis.
"Hiks.. ma.. pa.. olivia rindu.. hiks"
Olivia kembali mengingat saat-saat ia kehilangan orang yang paling ia sayang.Banyak orang yang mengenang masa-masa kecil mereka yang bahagia. Karena pada saat-saat itu merupakan masa yang paling indah. Tetapi tidak dengan Olivia. Setiap kali ia mengingat masa kecilnya, ia akan teringat akan kecelakaan saat itu. Rasa bersalah karena keras kepalanya saat itu membuat ia kehilangan sosok orang tua.
Olivia mengusap matanya dan bangun dari tempat tidurnya. Ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Setelah ia selesai membersihkan badannya, ia berganti pakaian dan berniat untuk ke supermarket. Ia sedang malas memasak dan ingin membeli makanan cepat saji. Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu apartemennya.
'tok tok tok'.....
'PLAK'
Hah.. kegantung ya? 😅😅
Maaf hehe.. jangan lupa votenya yah..
