Sebuah tamparan yang mendarat dengan keras di pipi kanannya tepat saat ia membuka pintunya. Olivia melihat siapa yang baru saja menamparnya.
"?" Olivia dengan ekspresi kaget menatap wanita cantik tersebut.
"Apa itu anak Sean? Gugurkan, kau pasti menjebak Sean kan? Tak akan kubiarkan kau mengambil keuntungan dari Sean" ucap wanita asing tersebut
Olivia kehilangan kata-kata. Ia kaget karena seorang wanita yang tidak ia kenal tiba-tiba saja datang dan menamparnya.
"Siapa?" Lirih Olivia dengan heran
"Aku Jessica, pacarnya Sean. Aku membiarkanmu bermain sandiwara dengan Sean seolah-olah kau pacarnya. Tak ku sangka kau mengambil keuntungan dari pacarku dengan meniduri nya dan sekarang mengaku mengandung anaknya? Cih..."
"A-aku tak pernah melakukan itu.. aku di paksa saat itu.."
"Halah.. kau pasti memanfaatkan saat Sean mabuk hari itu kan? Aku tau pasti ada yang tidak beres saat pertama melihatmu di club hari itu"
Seketika Olivia teringat dengan jelas wanita tersebut adalah wanita yang duduk tepat di sebelah Sean saat ia menjemput Sean di club. Wanita dengan pakaian terbuka dan dandanan yang berlebihan. Tapi ketika diperhatikan lagi, wajahnya sangat cantik. Jika tak salah ingat, wanita tersebut beberapa kali datang ke kantor Sean.
"T-tidak.. kenapa tidak kau saja yang mengantarnya hari itu hah?? Maka hal ini tidak akan terjadi" balas Olivia
Jesica menyibakkan rambutnya kebelakang dan mencengkram pipi Olivia.
"Jika saja saat itu aku tidak dalam keadaan mabuk juga, tentu tak akan kubiarkan wanita murahan sepertimu mengambil keuntungan dari Seanku. Sekarang jangan sok menjadi korban dan gugurkan anak yang tidak ditau asal usulnya itu" ucap Jesica
Jesica melepaskan cengkeramannya dengan kasar dan langsung berbalik akan pergi. Olivia yang jengkel ingin menarik rambut Jesica. Tapi tiba-tiba saja ada tangan yang menahannya.
Ia menoleh dan ternyata itu adalah Sean yang baru datang. Sean datang kesana saat tau jika tunangannya datang mencari Olivia. Tapi yang ia dapatkan malah Olivia yang mencoba mencelakai tunangannya.
Sean marah dan langsung menghempaskan tubuh Olivia hingga menabrak dinding
'akh..'
Olivia terjatuh ke lantai. Sean mensejajarkan wajah mereka dan mencengkeram pipi Olivia. Olivia merasakan sakit di badan dan kepalanya.
"Cepat gugurkan anak itu!. Dan jangan coba-coba menyentuh Jesica walau hanya seujung rambutnya !" Ucap sean dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.
Olivia POV
Sean dan Jesica pun pergi meninggalkanku yang masih terdiam di tempat. Air mataku mulai berjatuhan. Aku mulai merasakan sakit di bagian perutku. Aku panik karena takut terjadi apa-apa dengan kandunganku. Dengan segera aku mengambil tasku yang tadi terjatuh saat Jesica menamparku tadi. Aku langsung mengeluarkan handphoneku dan langsung menelpon Farrel.
"Halo Via? Tumben nelpon" terdengar suara farrel dari seberang sana.
"Rel.. jemput aku ke ru.. rumah sakit boleh?
"Via! Kamu kenapa via?"
Farrel kedengarannya panik dari seberang sana. Mungkin ia mendengar suaraku yang terdengar kesakitan. Padahal aku sudah berusaha untuk menstabilkan suaraku.
Rasa sakit di perutku bertambah. Sehingga aku tidak menjawab dan langsung menutup telepon secara sepihak. Aku hanya bisa terduduk sambil menahan rasa sakit di perutku. Butuh sekitar 5 menit untuk Farrel sampai di apartemenku. Untung saja jarak apartemennya denganku tak terlalu jauh.
Saat melihat Farrel, aku mencoba untuk berdiri. Tiba-tiba tubuhku kehilangan tenaga. Dengan segera Farrel menangkapku. Perlahan penglihatan ku mengabur. Dan tiba-tiba semuanya gelap.
Olivia POV end
Farrel langsung menangkap tubuh Olivia saat Olivia tiba-tiba pingsan. Ia panik dan langsung menggendong Olivia ke mobilnya. Setelah meletakkan Olivia di bangku mobil, ia melihat darah di lengannya. Ia yakin itu berasal dari Olivia. Hal itu membuat Farrel tambah panik. Ia melaju dengan kecepatan tinggi menunju rumah sakit terdekat karena takut terjadi apa-apa pada Olivia. Banyak pengemudi lain yang langsung mengklason karena tindakan Farrel tersebut sangat berbahaya.
Mereka sampai di rumah sakit kurang dari sepuluh menit. Dengan cepat Farrel menggendong Olivia keluar dari mobil dan lari memasuki rumah sakit.
"Sus!.. suster!" Farrel berteriak saat baru memasuki pintu rumah sakit.
Ada sekitar 2 atau 3 suster datang ke arah mereka dan langsung membawa Olivia ke ruang UGD. Farrel menunggu dengan cemas. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan Olivia. Dan akhirnya dokter keluar dari ruangan setelah menunggu selama lima belas menit.
"Apakah anda suami pasien?"
"Bukan dok. Saya temannya" jawab Farrel dengan wajah khawatir.
"Hmm.. jadi begini, teman anda saat ini hampir saja keguguran. Jika saja anda telat beberapa menit lagi, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dengan mereka. Jadi sebaiknya anda menjaganya baik-baik. Untuk lebih jelasnya, sebaiknya bertanya kepada dokter kandungan. Dan juga pasien sudah boleh di jenguk."
Dokter itu pun pamit dan pergi meninggalkan Farrel.
Farrel yang mendengar dokter terkejut saat dokter membahas kehamilan Olivia. Pasalnya ia tidak tahu menahu tentang Olivia yang hamil. Ia pergi ke parkiran untuk mengambil tisu basah di mobilnya untuk mengelap darah yang sudah kering di lengannya itu. Setelah membersihkan lengannya, ia langsung kembali ke ruangan Olivia berada. Ia pun masuk dengan perlahan agar tidak menggangu Olivia yang sedang istirahat. Farrel mengambil kursi dan duduk di sampingnya. Ia melipat tangannya dan menaruhnya di tempat tidur Olivia. Lalu menaruh kepalanya di atas tangannya dan menatap wajah Olivia yang cantik yang polos tanpa make-up.
Olivia memang tidak terlalu sering menggunakan make-up. Ia hanya memakainya saat ke kantor atau ke acara. Itu pun hanya memakai bedak, eyeliner, dan lipstik. Wajah Olivia memang sudah cantik dari sananya. Dengan wajah campuran cina Indonesia, ia mempunyai kulit dan mata sipit pastinya. Ia terlihat cantik walaupun tanpa make-up.
Saking lamanya menatap wajah Olivia, Farrel pun tertidur.
Dua jam kemudian
Olivia terbangun dan melihat Farrel di sampingnya. Ia teringat kalau tadi ia langsung menelpon Farrel karena ia merasakan sakit di perutnya. Ia panik dan segera membangunkan Farrel.
"Rel.. Farrel bangun" Olivia menepuk-nepuk pelan pipi Farrel.
Bersambung..
Hehe..😅 gimana?
Kalo ada saran.. jangan sungkan buat komen yah..
Mmm.. boleh di vote gak? Biar tambah semangat buat up chapter selanjutnya 😣😣
