7 (Revisi)

2.5K 103 3
                                        

"Siapa?.."

Farrel kaget sekaligus takut. Ia yang tadinya tiduran merubah posisinya menjadi duduk. Orang itu mendekat. Karena kamarnya gelap, Farrel jadi tidak bisa melihat wajah orang tersebut. Semakin dekat orang tersebut, semakin mundur pula Farrel. Sampai ketika Farrel mentok bersandar di kepala ranjang. Orang tersebut terus maju tapi Farrel hanya diam di tempat.

"Woi.. saklar lampunya dimana?"

Farrel bernafas lega setelah mendengar suara orang tersebut. Ia kenal betul dengan suara ini. Pasti Olivia.

"Di dekat pintu masuk tadi."

"Oww" Olivia langsung pergi ke dekat pintu dan mencari saklar lampu.

'ctak' (anggap aja suara saklar lampu)

Setelah Olivia menyalakan lampu, ia melihat Farrel yang duduk di pojok kasur.

"Lo kenapa?"

"Oh.. gak.. gak papa" ucap Farrel memalingkan wajahnya.

"Oh.. yaudah, mana koper gw?"

"Di samping pintu. Lo tidur di kasur kiri ya.."

Hotel yang dipesan Farrel yaitu kamar yang memiliki fasilitas lengkap dan juga memiliki 2 kasur. Dia dan Olivia memang dekat, tapi bukan berarti mereka bisa tidur seranjang.

"Iya.. by the way, makasih ya.. lo mau bantu gw setiap gw dalam masalah"
Ucap Olivia dengan dengan raut wajah yang sedih tapi bahagia.

"Gak papa Vi.. lo kan sahabat gw. Malahan satu satunya lagi. Begitu juga gw yang merupakan sahabat lo satu satunya juga" ucap Farrel sambil tersenyum lebar

Seandainya Farrel tidak pernah ada dalam hidupnya, mungkin ia tak bisa seperti sekarang. Sejak kecil, ia hanya memiliki seorang teman yang setia. Yang selalu berada di sampingnya dalam susah atau senang.

"Eh.. tadi gw gak sengaja nabrak orang di bandara. Untungnya dia gak marah."

"Heh? Kok bisa?"

"Tadi gw lagi nyari taksi.. gw kaget karena klakson mobil dan mundur ke belakang secara tiba-tiba dan gak tau kalo ada orang di belakang gw. Dan gitu.. "

"Astaga vi.. lo tuh harus hati-hati di sini Vi.. secara gw gak bisa berbuat banyak disini kalo lo kenapa napa. Beda kalo di Indonesia."

"Iya iya.. gw mau tidur dulu ya. Capek."

Flashback on

"Nih taksi dimana sih? Udah dari tadi gw nunggu di sini tapi gak ada yang lewat".

"Lama-lama gw lumutan disini astaga"

Olivia sedang mondar-mandir ke sana kemari mencari taksi. Sudah sekitar 5 menit ia berdiri seorang diri menunggu taksi. Saat sedang melihat lihat sekeliling, ia melihat banyak pasangan yang sedang bergandengan, saling merangkul dan bermesraan. Ia iri dengan mereka yang bisa mendapatkan pasangan yang baik dan romantis. Selama ia menjadi pacar kontrak Sean, ia hanya dia ajak jalan-jalan untuk menghindari kecurigaan orang tua Sean. Tak pernah sekalipun Sean benar benar baik atau tulus kepadanya. Yah itu wajar sih.

Tapi yang membuat Olivia dalam masalah karena Sean mengumumkan hubungan mereka. Akibatnya ia menjadi sasaran empuk bagi para wanita yang selalu berusaha mendapatkan Sean. Olivia meminta kepada Sean untuk membantu, tapi tak di perdulikan. Bahkan pernah saat Olivia sedang ditindas, Sean tak mau membantunya. Padahal Sean melihat dengan jelas Olivia sedang ditindas. Sungguh menyesal Olivia telah menerima ajakan Sean untuk mendapatkan uang lebih banyak.

Bukannya Olivia matre. Tapi Olivia berusaha sebisa mungkin untuk mendapatkan banyak uang agar bisa membantu panti asuhan yang dulu menampungnya. Panti asuhannya sedang dalam masalah biaya. Ia sering berkunjung ke sana untuk membagikan peralatan sekolah, mainan dan lain-lain untuk mengurangi beban panti asuhan. Karena itu ia sangat membutuhkan uang. Meskipun ia mempunyai sahabat yang ber-uang, ia lebih memilih untuk mencari uang dari pada meminta kepada sahabatnya itu. Kecuali kalau gratis :)

Olivia tenggelam dalam lamunannya sampai ketika sebuah mobil mengklakson. Karena kaget, ia mundur kebelakang dan menabrak seseorang. Dengan segera Olivia membalikkan badannya dan meminta maaf.

"I'm sorry sir" ucap Olivia sambil menunduk.

"It's okay" ucap pria yang itu dengan suara baritonnya.

Olivia mengangkat kepalanya agar bisa melihatnya dengan jelas. Ia memiliki rambut hitam pekat, hidung mancung (gak pesek kayak yang baca), kulit putih, wajah yang tampan, mata sebiru laut, dan juga pria itu tinggi. Tinggi Olivia hanya sebahu pria itu. Sungguh bibit unggul. kapan lagi bisa melihat bibit unggul selain Farrel dan Sean? Sebuah keberuntungan untuk Olivia hari ini.

Mereka berdiri berdampingan hampir 10 menit lamanya. Pria itu diam di tempat sambil melihat jam berulang kali sambil melihat ke sekitar.

"what are you doing here sir?"

"I'm waiting for someone to pick me up" jawabnya

"Ow okay.." ucap Olivia setelah itu langsung melanjutkan kegiatannya untuk mencari taksi.

"How about you?"

"What?" Olivia menoleh ke arah pria itu

"What are you doing here?"

"Oh .. I'm waiting for a taxi "

Setelah itu, mereka diam sambil fokus ke tujuan awal mereka. Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan mereka dan pria itu segera masuk kedalam. Tak lama setelah ia naik, kaca mobil itu turun dan memperlihatkan wajah orang tadi.

"Get on .. I'll take you "

"I'm afraid to trouble you sir"

"No ... I don't find it a bother. And it looks like we're one way to town "

"O.. okay"

Olivia langsung naik dengan senang hati. Ia tak perlu waspada pada pria tersebut. Karena ia menilai bahwa pria itu tak bermaksud jahat dan tulus ingin membantunya.

Flashback end

Maaf banget kalau kalimatnya salah 🙇👉🏻👈🏻. Gw gak terlalu tau ama tulisan dan kalimatnya. Gw buat sekenanya saja 😗

Jangan lupa biaya parkir di chapter ini. Gw seneng banget ternyata banyak yang baca😊.

Tekan vote ya. Yg udh love you 😘
👇🏻

My BabyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang