11. Hampa Tercipta

11.5K 740 2
                                        

eh eh ada apanii dengan judul bab kali ini? penasaran ga nih?

hepii reding ol👀🤍

-oOo-

Seperti biasa, karena sibuk mengurus soal pekerjaannya, Raynold kembali pulang kerumah disaat jam hampir menunjukkan pukul 10 malam. Ia mendapati rumah dalam keadaan gelap, padahal masih jam sembilan. Tidak biasanya. Raynold akan mendapati rumah dengan cahaya lampu yang menerangi di bawah jam sebelas.

Aleona kemana?

Anak itu tidak muncul seperti biasa. Tidak mungkin tidur jam segini. Lampu kamar anak itu juga gelap. Tidak ada penerangan sama sekali yang terlihat, mana mungkin anak itu sudah tidur dalam keadaan gelap total. Anak itu pasti takut.

Tak berpikir lama, Raynold pergi ke kamarnya. Terakhir kali ia mengetahui hal unik adalah Aleona akan ke kamarnya karena Raynold tidak akan pernah ke kamar anak itu.

Pun, kamar pria itu menggelap. Saat Raynold menyalakan lampu ia tidak menemukan Aleona di sana. Pria itu kembali keluar dan mencari anak itu ke dalam kamarnya tetapi ia juga tidak menemukan Aleona di sana.

Raynold mencari Aleona ke segala penjuru rumah, setiap ruangan ia periksa tetapi tidak menemukan batang hidung anak itu. Raynold mulai panik dan khawatir. Ia sama sekali tidak tahu kemana Aleona.

Pria itu mencoba menghubungi Zea, teman dekat putrinya. Anak itu juga tidak tahu di mana Aleona berada sekarang dan berkata jika memang Aleona sudah pulang dari sekolah.

Raynold semakin kalang kabut mendengar jawaban ambigu Zea. Jika putrinya sudah pulang lalu kenapa anak itu belum ada di rumah? Bahkan tidak ada tanda-tanda jika keberadaan Aleona ada disini. Semuanya hampa. Raynold pulang dalam keadaan hampa.

Raynold kembali masuk ke dalam kamar Aleona. Ia ingin memastikan bahwa anak itu tadi pulang ke rumah. Namun, Raynold tidak menemukan seragam, tas, sepatu anak itu. Yang artinya Aleona belum pulang dari sekolah.

Pria itu mengotak-atik ponsel pintarnya dan menghubungi guru Aleona, siapa tahu anak itu pulang bersama gurunya karena terjebak hujan deras sejak tadi siang.

Namun, hasilnya tetap sama. Tidak mengetahui keberadaan Aleona dan memastikan jika anak muridnya sudah kembali ke rumah masing-masing. Raynold mulai frustrasi, ia ingat bahwa ia menyuruh Aleona pulang seperti biasa.

Raynold mencoba menghubungi ponsel anak itu tetapi tidak ada hasil. Raynold tidak menyerah ia mencoba melacak tetapi tak kunjung menemukan petunjuk barang secuil pun.

Napasnya gusar, ia berlari ke luar. Buru-buru ia masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana. Di sepanjang jalan ia menggumamkan nama sang putri dengan mata fokus ke arah jalan. Siapa tahu Aleona ada di sana.

Ia mendatangi sekolah Aleona, mengecek bahwa anak itu tidak sedang di sana atau di sana. Ia bertanya kepada penjaga sekolah dan tidak menemukan anak di dalam sekolah.

Tetapi karena Raynold tidak percaya, mereka kembali mengecek ke dalam sekolah. Mereka mencari keseluruh tempat yang ada di sekolah tersebut tetapi Aleona tidak ada di sana.

Dengan rasa takut, gelisah, panik, merasa bersalah, dan sedih, pria itu pergi dari sekolah. Ia tidak tahu harus mencari Aleona ke mana lagi.

Lagipula, malam-malam seperti ini, Aleona pergi kemana? Dengan siapa? Kenapa anak itu tidak memberitahunya?

Rentetan pertanyaan melintas di pikiran Raynold. Ia Kembali memasuki mobil nya dan mencoba mencari Aleona dengan menyusuri jalanan.

Sampai dini hari Raynold masih di luar mencari Aleona. Ia tidak menemukan setitik petunjuk atas keberadaan sang Putri. Raynold menangis di pinggiran jalan yang sepi. Tidak ada kendaraan maupun orang yang lewat. Sepi adalah saksi penyesalan pria itu karena untuk kedua kalinya ia membuat anak itu menghilang saat pulang sekolah.

Hi, Dad! [ TAHAP REVISI ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang