1

131 43 91
                                    


Reykjavík, Islandia, 1905

Seorang wanita merengkuhku dan menutup seluruh tubuhku dengan kain goni usang. Sebelum, ia terlarut dan masuk dalam gerobak yang penuh jerami dan ditarik oleh kuda Islandia. Kakiku dingin sambil kutekuk tanda bahwa aku tengah menyelam dalam ketakutan.

Raut Ibu sama khawatirnya denganku, sambil meremat tangan ayah dengan sorot yang tak mampu kujelaskan. Ditemani garis-garis tipis sambil tersenyum tulus, ayah membelai suraiku dengan berkata "Adriana, kita akan bertemu kembali nanti. Ayah berjanji akan mengajarimu cara memegang busur panah dengan benar"

Berpaling pada Ibu tatkala memegang pergelangan Ayah. "Scanaf, kau harus kembali". Walaupun umurku masih belia, aku sangat yakin, situasi ini benar-benar kacau, ketakutan setengah mati karena ayah yang selama ini selalu bersama kami, namun malah mengatakan hal serupa.

Kecupan pada keningku dan Ibu menjadi penghantar perpisahan kami kala itu, sebelum Ayah menutup tirai gerobak dan berlari dengan derap kaki pantofelnya yang memudar sembari membawa tas besarnya.Gerobak yang membawa kami berlalu pergi dengan riuh angin musim dingin sebagai pertanda akan datang.

Aku tertidur pulas di pelukan Ibu yang amat menghangatkan, seraya menerka apa yang akan terjadi padaku dan keluargaku selanjutnya? Tak pernah sekalipun Ibu selemah ini di depanku, kurasa tak merengek di saat seperti ini dan menahan apapun yang kurasa tak nyaman akan jauh lebih menguntungkan dan membuat Ibu jauh lebih baik.

Aku terkejap ketika tak kudapati siapapun di dalam gerobak penuh jerami ini sambil setengah meringkuk.Kupandangi sekitar merasa bahwa gerobak ini sepenuhnya terhenti dan mengangkat tirai itu sedikit mengintip selidik.

Kuamati Paman Sam sedang memotong kayu kering dekat perapian ditemani Ibu dan seorang anak laki-laki di dekatnya.Tapi siapa dia? Apa dia menumpang di gerobak kami? Segala pertanyaan memenuhi relungku jadi kuputuskan saja untuk keluar dan membuka tirai. Membawa tubuh kecilku dihadapan mereka.

"Bu?" Ibu menoleh padaku seraya tersenyum hangat. "Sudah bangun?" perlakuannya tengah membenarkan rambut coklatku yang berantakan akibat tertidur.

Mendengar hal itu Paman Sam menghentikan aktivitasnya dan menatapku lekat berupaya menekuk lututnya menyejajarkan dengan tinggiku.
"Valdemer, kau harus perkenalkan dirimu padanya. Adriana akan menjadi tetanggamu nanti" sembari menatap anak laki-laki yang terlihat lebih tua dariku.

Valdemer mendekatiku dan duduk disebelahku. Kuakui aku kikuk jika berdekatan dengan anak laki-laki, karena sekolahku dulu hanya khusus anak perempuan. Dia memainkan jari-jemarinya yang terlihat besar dan menggaruk tengkuknya.

"A-aku Valdemer, Valdemer Scott. Senang bertemu denganmu, Adriana". Aku membalas perlakuan tangannya dan segera menjawab "Aku Adriana Scanaf. Senang bertemu denganmu juga, Valdemer" kupandangi iris matanya yang berwarna biru terang.

"Hanya itu saja?" sanggah Paman Sam sementara Ibu terkekeh kecil. Valdemer dan aku menoleh bersamaan. "Aku 18 tahun. Ibuku keturunan Denmark dan Ayahku orang Skotlandia. Kuharap kita bisa berteman baik". "Kuharap juga begitu, Valdemer" aku mengangguk kecil dan tersenyum ke arahnya.

Anehnya, kala itu aku bergetar hanya dengan melihat sorot mata biru terang miliknya. Aku pindah dari Reykjavík menuju Garðabær. Keluarga kami tak ada pilihan lain, mengingat Ibu adalah orang Jerman dan bersamaan Islandia menaruh rasa tak suka pada warga yang berkebangsaan Jerman kala itu. Walaupun letaknya tak jauh dari Reykjavík, mungkin hanya belasan kilometer. Ayah sangat yakin karena itu adalah titah dari sang Raja Denmark yang memerintah Islandia waktu itu. Ayah hanya menurut, menimbang ia hanyalah panglima kerajaan negara yang tengah berjuang untuk merdeka. Lagipun, dengan kepindahan aku dan Ibu akan membuat waktu pembuatan pergantian kewarganegaraan Ibu berjalan dengan lancar.

VICTORTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang