Vanya Angelisti

17 7 2
                                    

"Ega... Udah siap apa belum?" Ayah memanggil anak semata wayangnya.

"Iya yah bentar," Rega keluar dari kamar nya.

"Hari ini mau dianter sama ayah atau naik angkot?"

"Anter aja dah, hemat uang jajan hahaha," Rega sambil tertawa.

"Yaudah sana serapan dulu."

"Gausah lah yah, makan roti aja ," Rega mengambil satu buah roti sekaligus menyalami ibunya.

"Kalau makan itu duduk nak."

"Oh iya lupa, muachh," Rega mencium pipi ibunya.

"Heii, udah kolot masih aja ciumin ibunya." Ayah.

"Biarin aja, udah ayo yah nanti telat."

"Iya - iya."

Selama di perjalanan, Rega dan Ayahnya mengobrol di dalam mobil. Ayah nya yang selalu mencemaskan cita - cita anak nya. Ayahnya Rega pernah bilang, bahwa ayahnya dulu sama persis seperti Ega anaknya.

Bersikap aneh, konyol, ceroboh. Tetapi ayahnya pernah mengatakan bahwa ayahnya tidak pernah melupakan teman dekat yang selalu membantu ayahnya dulu.

"Ega."

"Iya yah?"

"Apa cita - cita kamu?"

"Hmm, apa ya?"

"Buruan jawab, kebanyakan mikir ntar di colong nyamuk."

"Jadi presiden aja kali yah."

"Serius kamu ini?"

"Iya serius, jadi presiden ganteng hahaha."

Rega dan Ayahnya tertawa karena lelucon anaknya yang nyeleneh.

"Cepat! Yang serius!"

"Siap, membasmi kejahatan."

"Jadi seperti ayah gini?"

"Beda dong, ayah tentara dan tentara itu menjalankan misi harus ada perintah," ucap Rega.

"Yang tepatnya jadi apa?"

"Jadi anak ayah dong."

"Kamu ini lah."

"Rega mau membasmi kejahatan seperti begal, copet, maling, geng motor yang anarkis sama DPR."

"Lah kenapa bawa DPR?"

"Gak suka aja lihatnya yah, masa uang rakyat dia yang makan!"

"Itu cuman tuhan lah yang tau, tapi ya mau tidak mau rakyat harus menerima kenyataan nya seperti itu."

"Gini yah, DPR kan wakil buat seluruh rakyat Indonesia, seharusnya tuh DPR sendiri yang harus turun ke lapangan. Lihat rakyatnya ada yang sakit, gak makan, gak punya tempat tinggal. Seharusnya mereka melihat sendiri kondisi rakyatnya, jangan uang nya di pakai buat kepentingan pribadi."

"Hebat... Berapa nilai PKN mu nak?"

"Seratus sepuluh, ayah mah orang juga lagi serius."

"Yaudah gini aja, apa pun keputusan kamu, apa keinginan kamu, apa cita - cita kamu ayag selalu dukung. Dengar!?"

"Siap dengar yah, ayah hari ini piket?"

"Perang menjaga PBB(Perserikatan Bangsa - Bangsa) ya piket lah, ayah dah pakai seragam juga masih nanya aja."

Rega hanya mengangguk.

Jarak sekolah Rega dari rumahnya lumayan jauh, bisa saja memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit. Rega tidak memiliki sepeda motor pribadi, melainkan ia hanya menaiki angkutan umun bila ingin berpergian.

REGA SANJAYA [Slow Up]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang